Harga minyak berpotensi menghadapi risiko kenaikan lebih lanjut seiring gangguan pengiriman di Timur Tengah diperkirakan akan berlanjut hingga 2027.
Goldman Sachs menaikkan proyeksi harga minyak 2026 dan 2027 sebesar 5 Dolar per barel. Bank ini kini memperkirakan Brent akan mencapai 85 Dolar dan WTI 80 Dolar pada Desember 2026, sementara proyeksi 2027 berada di 80 Dolar untuk Brent dan 75 Dolar untuk WTI.
Pertanyaan yang lebih besar adalah apakah minyak bisa melonjak lebih jauh. Dalam skenario gangguan pasokan parah, Brent berpotensi bergerak menuju 120 Dolar per barel, yang berarti peningkatan sekitar 50% dari level saat ini.
Namun skenario dasar Goldman Sachs tetap lebih moderat. Persediaan minyak komersial OECD hampir tidak turun sejak konflik dimulai, menunjukkan bahwa kekurangan pasokan aktual mungkin lebih kecil dari kekhawatiran awal.
Untuk saat ini, pasar minyak tetap terjepit antara risiko pasokan geopolitik dan persediaan global yang relatif tangguh. Setiap gangguan lebih lanjut pada pengiriman Timur Tengah dapat dengan cepat mengubah keseimbangan itu.
Dengan Brent dan WTI yang tetap sensitif terhadap berita geopolitik dan perkembangan pasokan, minyak bisa tetap menjadi salah satu pasar yang perlu dicermati dalam beberapa bulan mendatang.
