- Rupee India reli lebih lanjut seiring langkah tegas RBI untuk mengekang permintaan Dolar AS.
- Harga minyak pulih akibat ketegangan yang masih berlangsung di Timur Tengah.
- Dolar AS terkoreksi menjelang data IHK (CPI) AS untuk bulan September.
Rupee India (INR) melanjutkan penguatan terhadap Dolar AS (USD) selama tiga hari perdagangan berturut-turut pada Rabu, ditopang langkah-langkah baru Reserve Bank of India (RBI) untuk menekan permintaan Dolar AS. Menjelang sore waktu India, pasangan mata uang USD/INR turun 0,35% ke sedikit di bawah 95,00, menyentuh level terendah dalam lebih dari sebulan.
Pada akhir pekan, RBI mengumumkan serangkaian kebijakan untuk membatasi permintaan Dolar AS, termasuk penyediaan fasilitas khusus bagi perusahaan pemasaran minyak milik negara (Public Sector Undertakings/PSU) untuk membeli Dolar AS guna membiayai impor minyak mentah, serta pengetatan aturan lindung nilai (hedging).
Namun, para pelaku pasar meragukan apakah penguatan Rupee India dalam jangka pendek dapat bertahan mengingat tekanan eksternal yang masih membayangi.
Langkah RBI Dinilai Mampu Menstabilkan Rupee, tetapi Belum Membalikkan Tren Pelemahan
Para ahli strategi OCBC menilai bahwa "respons RBI yang semakin agresif dapat membantu membatasi tekanan pelemahan Rupee dalam jangka pendek," tetapi mereka tetap "berhati-hati untuk menganggap pemulihan terbaru ini sebagai awal dari penguatan yang berkelanjutan." Menurut mereka, "kenaikan biaya lindung nilai dapat meredam permintaan Dolar AS di pasar forward, tetapi berisiko membuat perusahaan enggan melakukan lindung nilai untuk kebutuhan bisnis yang sebenarnya." Sementara itu, "fasilitas khusus pembelian Dolar AS bagi perusahaan minyak hanya mengalihkan permintaan dari pasar spot, bukan mengurangi kebutuhan Dolar AS India secara keseluruhan."
OCBC menambahkan bahwa "Rupee masih berpeluang menguat dalam jangka pendek, tetapi keberlanjutannya akan bergantung pada meredanya arus keluar investasi portofolio serta berkurangnya tekanan eksternal dari harga minyak dan imbal hasil obligasi AS." Dalam pandangan mereka, "untuk saat ini, langkah-langkah kebijakan tersebut mungkin dapat memperkuat stabilitas Rupee dalam jangka pendek, tetapi belum menjadi titik balik yang menentukan bagi tren pelemahannya secara keseluruhan."
Harga Minyak Kembali Menguat, Risiko Timur Tengah Belum Mereda
Harga minyak kembali bangkit dari level terendah bulanan di Rs8.338 yang tercatat dalam sepekan terakhir, ketika ketegangan antara Arab Saudi dan kelompok Houthi yang didukung Iran membuat risiko gangguan pasokan dari Timur Tengah tetap tinggi. Meski demikian, kontrak minyak mentah MCX yang akan berakhir pada 19 Oktober turun 0,16% ke sekitar Rs8.940 saat berita ini ditulis.
Mata uang negara-negara yang sangat bergantung pada impor minyak untuk memenuhi kebutuhan energi, seperti India, cenderung tertekan ketika harga minyak berada pada level tinggi.
Kelompok Houthi menyerang gedung administrasi milik perusahaan minyak negara Saudi Aramco di kota Dhahran hingga memicu kebakaran terbatas, menurut Kementerian Energi Arab Saudi pada Rabu, sebagaimana dilaporkan Reuters.
Pelemahan Dolar AS Menekan USD/INR
Koreksi Dolar AS menjelang rilis data Indeks Harga Konsumen (IHK atau CPI) Amerika Serikat (AS) untuk September pada pukul 12.30 GMT turut menyeret pasangan mata uang USD/INR turun.
Pada perdagangan sesi Asia, Indeks Dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan Greenback terhadap enam mata uang utama, melemah 0,1% ke sekitar 102,10. DXY telah mundur dari level tertinggi tahunannya di 102,61 yang dicapai pada Senin.
Investor akan mencermati data IHK AS untuk mencari petunjuk baru mengenai prospek kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed).
Laporan IHK AS diprakirakan menunjukkan inflasi umum meningkat menjadi 3,6% secara tahunan (YoY) dari 3,4% pada Agustus. Sementara itu, inflasi inti, yang tidak memperhitungkan harga pangan dan energi yang bergejolak, diperkirakan naik menjadi 2,5% YoY dari sebelumnya 2,4%.
Inflasi Harga Grosir India Kembali Meningkat
Inflasi harga grosir India meningkat lebih cepat menjadi 11,39% secara tahunan (YoY), dibandingkan 9,92% pada periode sebelumnya. Percepatan inflasi di tingkat produsen tersebut dapat memperbesar ekspektasi kenaikan suku bunga lebih lanjut oleh RBI tahun ini.
Analisis Teknis: USD/INR Berpotensi Turun Lebih Jauh Menuju 94,30
Pada grafik harian, USD/INR bergerak di 94,95 dengan kecenderungan bearish dalam jangka pendek, setelah bertahan di bawah Exponential Moving Average (EMA) 20 hari di 95,92.
Penembusan ke bawah indikator tren jangka pendek tersebut menunjukkan bahwa USD/INR masih menghadapi tekanan koreksi setelah sebelumnya berada dalam kondisi jenuh beli (overbought). Sementara itu, Relative Strength Index (RSI) 14 hari yang turun mendekati 34 mengisyaratkan memudarnya momentum bullish, tetapi belum menunjukkan tekanan jual yang cukup kuat untuk membawa pasangan mata uang ini ke kondisi jenuh jual (oversold).
Di sisi atas, resistance terdekat berada pada EMA 20 hari di sekitar 95,92, yang berpotensi menjadi penghalang awal bagi pemulihan harga. Pergerakan di sekitar level tersebut akan menentukan apakah koreksi terbaru hanya merupakan jeda dalam tren kenaikan yang lebih luas atau awal dari penurunan yang lebih dalam. Sebaliknya, jika tekanan jual berlanjut, USD/INR berpotensi turun menuju level terendah September di sekitar 94,30.
(Analisis teknis dalam berita ini ditulis dengan bantuan alat AI. Pelajari lebih lanjut.)
Indikator Ekonomi
Indeks Harga Konsumen (Thn/Thn)
Kecenderungan inflasi atau deflasi diukur dengan menjumlahkan harga sekeranjang barang dan jasa secara berkala dan menyajikan datanya sebagai Indeks Harga Konsumen (IHK). Data IHK dikumpulkan setiap bulan dan dirilis oleh Departemen Statistik Tenaga Kerja AS. Laporan bulanan ini membandingkan harga barang-barang pada bulan referensi dengan bulan sebelumnya. IHK Tidak termasuk Makanan & Energi tidak menyertakan komponen makanan dan energi yang lebih fluktuatif untuk memberikan pengukuran tekanan harga yang lebih akurat. Secara umum, angka yang tinggi dipandang sebagai bullish bagi Dolar AS (USD), sedangkan angka yang rendah dianggap sebagai bearish.
Baca lebih lanjutRilis berikutnya Rab Okt 14, 2026 12.30
Frekuensi: Bulanan
Konsensus: 3.6%
Sebelumnya: 3.4%
Sumber: US Bureau of Labor Statistics
Federal Reserve AS (The Fed) memiliki mandat ganda untuk menjaga stabilitas harga dan lapangan kerja maksimum. Menurut mandat tersebut, inflasi seharusnya berada di sekitar 2% YoY dan telah menjadi pilar terlemah dari arahan bank sentral sejak dunia mengalami pandemi, yang berlanjut hingga saat ini. Tekanan harga terus meningkat di tengah masalah rantai pasokan dan kemacetan, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) bertahan di level tertinggi multi-dekade. The Fed telah mengambil langkah-langkah untuk mengekang inflasi dan diprakirakan akan mempertahankan sikap agresif di masa mendatang.

