- BI mempertahankan BI-Rate di 5,75%, sesuai ekspektasi.
- BI memperkuat stabilisasi Rupiah melalui intervensi valas dan perluasan insentif lindung nilai.
- USD/IDR melemah di sekitar Rp17.837 beberapa saat setelah keputusan BI.
Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate di 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 18–19 Agustus 2026. Keputusan tersebut sesuai dengan konsensus pasar dan menandai pertemuan kedua berturut-turut BI mempertahankan suku bunga, setelah rangkaian kenaikan dihentikan pada Juli.
BI juga mempertahankan suku bunga Deposit Facility sebesar 4,75% dan Lending Facility sebesar 6,50%. Di sisi intermediasi, data yang dirilis bersamaan dengan keputusan menunjukkan pertumbuhan kredit perbankan meningkat menjadi 13,58% secara tahunan (yoy) pada Juli, dari 12,67% pada Juni.
BI menempatkan stabilitas Rupiah sebagai salah satu pertimbangan utama dalam keputusan Agustus, terutama ketika perang di Timur Tengah meningkatkan ketidakpastian pasar global. Pada saat yang sama, bank sentral tetap menargetkan inflasi 2026–2027 berada dalam kisaran 2,5±1% dan menjaga dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi. Untuk menjaga nilai tukar, BI akan mengoptimalkan intervensi melalui NDF di pasar luar negeri serta transaksi spot dan DNDF di pasar domestik, sekaligus menjaga struktur suku bunga pasar uang dan kecukupan likuiditas perbankan.
BI Perluas Insentif untuk Pasokan Valas
BI turut memperluas kebijakan Swap Jual Lindung Nilai dengan pengurangan premi sebesar 12,5%. Insentif yang sebelumnya berlaku untuk dana investasi portofolio asing kini diperluas mencakup pinjaman luar negeri perbankan dan investasi langsung asing (FDI). Kebijakan tersebut mulai berlaku pada minggu kedua September untuk dana yang masuk sejak 1 Juli 2026.
Perluasan tersebut memperbesar cakupan insentif BI terhadap aliran valas yang masuk ke pasar domestik. Bank sentral mencatat Rupiah berada di Rp17.855 per Dolar AS pada 18 Agustus, menguat 0,78% dibandingkan posisi akhir Juli.
Perluasan tersebut memperbesar cakupan insentif BI terhadap aliran valas yang masuk ke pasar domestik. Bank sentral memprakirakan Rupiah tetap stabil ke depan, ditopang respons stabilisasi yang diperkuat serta kebijakan untuk mendorong aliran investasi portofolio asing.
Arus modal asing juga kembali positif. Investasi portofolio asing pada kuartal III hingga 14 Agustus membukukan net inflows US$1,8 miliar, didukung penerbitan obligasi global pemerintah serta aliran masuk ke Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Cadangan devisa pada akhir Juli tetap sebesar US$145,3 miliar, setara dengan pembiayaan 5,5 bulan impor.
BI Waspadai Minyak dan Suku Bunga The Fed
Dari sisi eksternal, BI menilai prospek ekonomi global masih lemah dengan ketidakpastian yang tinggi, terutama akibat perang di Timur Tengah yang kembali mendorong harga minyak dan komoditas. BI memprakirakan pertumbuhan ekonomi global 2026 sekitar 3,0% dengan inflasi global sekitar 4,5%. Bank sentral juga memprakirakan Federal Funds Rate naik pada kuartal IV 2026, sementara imbal hasil Treasury AS diprakirakan tetap tinggi akibat ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dan defisit fiskal AS. Menurut BI, kondisi tersebut menahan minat investor global terhadap aset portofolio negara berkembang dan menopang Dolar AS.
Di dalam negeri, inflasi turun menjadi 2,88% YoY pada Juli dari 3,34% pada Juni, sedangkan inflasi inti berada di 2,76%. Ekonomi Indonesia tumbuh 5,29% YoY pada kuartal II, melambat dari 5,61% pada kuartal sebelumnya, sementara BI mempertahankan proyeksi pertumbuhan 2026 pada kisaran 4,9%–5,7%.
Reaksi Pasar
Pasangan mata uang USD/IDR bergerak di sekitar Rp 17.837, melemah -7,9 poin atau -0,04% sesaat setelah pengumuman RDG BI hari ini.
