Batu Bara ICE Newcastle Belum Buat Kemajuan di 134,80, Menantikan Respon Iran terhadap MoU AS

Batu Bara ICE Newcastle Belum Buat Kemajuan di 134,80, Menantikan Respon Iran terhadap MoU AS
  • Batu Bara ICE Newcastle sejauh ini belum bergerak di level pembukaan.
  • Pasar menantikan respon Iran terhadap MoU dari Amerika Serikat.
  • Pemerintah Indonesia sedang membuat aturan agar hasil pertambangan lebih bermanfaat untuk negara.

Harga batu bara ICE Newcastle front month diperdagangkan di 134,80 yang sama sekali belum bergerak sejak dibuka. Batu bara tampak jeda sejenak menyusul aksi volatil kemarin yang sempat jatuh namun kembali pulih, meskipun belum mampu menutup gap pembukaan di tengah perkembangan terbaru di Timur Tengah.

Pembukaan batu bara dengan gap bawah yang besar serta sempat jatuh ke 128,50 kemarin membuat indikator Relative Strength Index (RSI) 14-hari turun tajam, meskipun masih tetap di atas level 50 karena komoditas ini ditutup di atas level pembukaan. Dalam jangka lebih panjang, batu bara ini tetap mempertahankan tren naik ketika masih bergerak di atas Simple Moving Average (SMA) 200-hari.

Cuaca di Pelabuhan Newcastle Australia cenderung cerah berawan dengan suhu 13°C. Kondisi seperti ini diprakirakan tidak menganggu jadwal pengiriman batu bara sehingga tidak bisa menjadi faktor yang dominan untuk memengaruhi harga batu bara. Para pedagang akan memerhatikan faktor-faktor lain untuk mengukur pergerakan arah komoditas ini ke depan.

Sentimen positif dari laporan-laporan yang mengindikasikan Amerika Serikat (AS) dan Iran menuju kesepakatan untuk mengakhiri peran membuat harga komoditas-komoditas tertekan, termasuk batu bara.

Reuters melaporkan bahwa Iran meninjau nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) yang diajukan AS. Respon apa pun dari Iran ke depan berpotensi menjadi penggerak untuk harga-harga komoditas karena akan memengaruhi masa depan Selat Hormuz. Penutupan selat tersebut dalam beberapa bulan ini menyebabkan distribusi komoditas di dunia terganggu dan mengerek harganya lebih tinggi.

Terkait energi di dalam negeri, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia (RI) merilis Harga Batu Bara Acuan (HBA) untuk periode pertama Mei 2026 dalam Kepmen ESDM No. 179.K/MB.01/MEM.B/2026. Semua harganya naik dibandingkan dengan sebelumnya dengan perincian sebagai berikut;

  • Batubara (6.322 GAR) $106,57 naik dari $103,43
  • Batubara I (5.300 GAR) $79,56 naik dari $77,71
  • Batubara II (4.100 GAR) $55,66 naik dari $52,84
  • Batubara III (3.400 GAR) $38,76 naik dari $38,30

Saat melantik pejabat-pejabat tinggi di lingkungan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, mengatakan bahwa, "Ke depan untuk pengelolaan IUP (Izin Usaha Pertambangan) yang akan datang, itu akan kepentingan negara yang lebih besar. Sudah saya dapat arahan dari Bapak Presiden dan sekarang aturannya lagi dibuat. Jadi tidak boleh lagi kita obral, semuanya harus betul-betul bermanfaat dan hasilnya dioptimalkan untuk lebih besar kepada negara, tetapi kita harus juga mengayomi pengusaha," seperti dikutip dari situs Kementerian ESDM.

Grafik Harian Batu Bara ICE Newcastle

Batu Bara ICE Newcastle
Grafik harianBatu Bara ICE Newcastle

Pertanyaan Umum Seputar Sentimen Risiko

Dalam dunia jargon keuangan, dua istilah yang umum digunakan, yaitu "risk-on" dan "risk off" merujuk pada tingkat risiko yang bersedia ditanggung investor selama periode yang dirujuk. Dalam pasar "risk-on", para investor optimis tentang masa depan dan lebih bersedia membeli aset-aset berisiko. Dalam pasar "risk-off", para investor mulai "bermain aman" karena mereka khawatir terhadap masa depan, dan karena itu membeli aset-aset yang kurang berisiko yang lebih pasti menghasilkan keuntungan, meskipun relatif kecil.

Biasanya, selama periode "risk-on", pasar saham akan naik, sebagian besar komoditas – kecuali Emas – juga akan naik nilainya, karena mereka diuntungkan oleh prospek pertumbuhan yang positif. Mata uang negara-negara yang merupakan pengekspor komoditas besar menguat karena meningkatnya permintaan, dan Mata Uang Kripto naik. Di pasar "risk-off", Obligasi naik – terutama Obligasi pemerintah utama – Emas bersinar, dan mata uang safe haven seperti Yen Jepang, Franc Swiss, dan Dolar AS semuanya diuntungkan.

Dolar Australia (AUD), Dolar Kanada (CAD), Dolar Selandia Baru (NZD) dan sejumlah mata uang asing minor seperti Rubel (RUB) dan Rand Afrika Selatan (ZAR), semuanya cenderung naik di pasar yang "berisiko". Hal ini karena ekonomi mata uang ini sangat bergantung pada ekspor komoditas untuk pertumbuhan, dan komoditas cenderung naik harganya selama periode berisiko. Hal ini karena para investor memprakirakan permintaan bahan baku yang lebih besar di masa mendatang karena meningkatnya aktivitas ekonomi.

Sejumlah mata uang utama yang cenderung naik selama periode "risk-off" adalah Dolar AS (USD), Yen Jepang (JPY) dan Franc Swiss (CHF). Dolar AS, karena merupakan mata uang cadangan dunia, dan karena pada masa krisis para investor membeli utang pemerintah AS, yang dianggap aman karena ekonomi terbesar di dunia tersebut tidak mungkin gagal bayar. Yen, karena meningkatnya permintaan obligasi pemerintah Jepang, karena sebagian besar dipegang oleh para investor domestik yang tidak mungkin menjualnya – bahkan saat dalam krisis. Franc Swiss, karena undang-undang perbankan Swiss yang ketat menawarkan perlindungan modal yang lebih baik bagi para investor.