Batu Bara ICE Newcastle Menutup Gap Rabu, Pemerintah Indonesia Sosialisasikan Kebijakan Ekspor Baru

Batu Bara ICE Newcastle Menutup Gap Rabu, Pemerintah Indonesia Sosialisasikan Kebijakan Ekspor Baru
  • Batu Bara ICE Newcastle memulihkan gap yang dibuat Kamis lalu.
  • Pejabat Iran mengklaim kesenjangan dengan AS menyempit.
  • Pemerintah Indonesia melakukan sosialisasi tentang kebijakan SDA yang baru.

Batu bara ICE Newcastle front month menutup hari perdagangan Kamis lalu di 137,55 yang lebih tinggi 0,07% dari hari sebelumnya. Batu bara ini dibuka dengan gap bearish di 135,50 namun bangkit sepanjang hari untuk menutup gap tersebut dan sempat meraih tertinggi hari 138,00. Perhatian para pedagang komoditas ini tetap tertuju pada Timur Tengah dan perkembangan terbaru soal kebijakan baru utuk ekspor sumber daya alam (SDA) salah satu negara pengekspor besar batu bara di dunia, Indonesia.

Momentum dalam harga batu bara terlihat stabil di wilayah bullish, seperti yang ditunjukkan oleh Relative Strength Index (RSI) 14-hari yang berada di 54,83 setelah turun dari 59,00. Momentum tersebut memperkuat tren naik harga yang terlihat dari posisinya yang berada di atas Simple Moving Average (SMA) 200-hari.

Untuk masalah konflik Timur Tengah, Reuters melaporkan pejabat senior Iran mengatakan belum mencapai kesepakatan dengan AS, namun telah mempersempit kesenjangan yang sebelumnya mencuat.

Kabar baik tersebut diperkuat oleh Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, yang mencatat ada tanda-tanda menggembirakan soal kemungkinan tercapainya kesepakatan dengan Iran.

Para pedagang komoditas-komoditas enegi kembali dalam mode tunggu dan lihat. Mereka terutama ingin melihat kesepakatan terkait Selat Hormuz karena penutupan selat ini mengakibatkan volatilitas harga tidak hanya pada minyak dan gas alam yang terdampak langsung tetapi juga komoditas alternatif pengganti gas alam seperti batu bara yang digunakan untuk pembangkit listrik.

Terkait energi di dalam negeri, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia (RI) merilis Harga Batu Bara Acuan (HBA) untuk periode kedua Mei 2026 dalam Kepmen ESDM No. 204.K/MB.01/MEM.B/2026. Semua harganya naik dibandingkan dengan sebelumnya dengan perincian sebagai berikut;

  • Batubara (6.322 GAR) $116,32 naik dari $106,57
  • Batubara I (5.300 GAR) $80,34 naik dari $79,56
  • Batubara II (4.100 GAR) $57,61 naik dari $55,66
  • Batubara III (3.400 GAR) $39,35 naik dari $38,76

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, bersama Kementerian Investasi/BKPM, Kementerian Perdagangan, Kementerian Keuangan, Kementerian Sekretariat negara, Bank Indonesia, dan Otoritas Jasa Keuangan mengadakan "Sosialisasi dan Penjelasan Kebijakan DHE (Devisa Hasil Ekspor) SDA (Sumber Daya Alam) dan Tata Kelola Ekspor Komoditas SDA Strategis" pada hari kemarin. Sosialisasi ini untuk asosiasi-asosiasi yang terkait dengan ekspor komoditas SDA strategis, seperti diinformasikan dalam siaran pers Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI.

Dalam sosialisasi ini dijelaskan seluruh komoditas SDA yang memiliki sifat strategis hanya bisa diekspor melalui BUMN (Badan Usaha Milik Negara) PT Danantara Sumberdaya Indonesia. Kebijakan ini untuk memperkuat kontrol dan pengawasan ekspor komoditas-komoditas strategis serta menghilangkan praktir trade misinvoising.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI, Airlangga Hartarto, mengatakan, "Selanjutnya, kebijakan ini bertujuan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, mengendalikan inflasi, menjaga stabilitas nilai tukar, menguatkan posisi tawar Indonesia dalam negosiasi ekspor dengan para buyers di luar negeri, menjaga stabilitas harga, serta memperdalam pasar ekspor".

Di tahap awal, komoditas yang menjadi objek adalah minyak kelapa sawit, batu bara, dan paduan besi. Perincian komoditas-komoditas yang masuk dalam SDA strategis akan diatur dalam Peraturan Menteri Perdagangan. Implementasi tahap satu akan dimulai pada 1 Juni sampai dengan 31 Agustus 2026.

Grafik Harian Batu Bara ICE Newcastle

Batu Bara ICE Newcastle
Grafik harian Batu Bara ICE Newcastle

Pertanyaan Umum Seputar Sentimen Risiko

Dalam dunia jargon keuangan, dua istilah yang umum digunakan, yaitu "risk-on" dan "risk off" merujuk pada tingkat risiko yang bersedia ditanggung investor selama periode yang dirujuk. Dalam pasar "risk-on", para investor optimis tentang masa depan dan lebih bersedia membeli aset-aset berisiko. Dalam pasar "risk-off", para investor mulai "bermain aman" karena mereka khawatir terhadap masa depan, dan karena itu membeli aset-aset yang kurang berisiko yang lebih pasti menghasilkan keuntungan, meskipun relatif kecil.

Biasanya, selama periode "risk-on", pasar saham akan naik, sebagian besar komoditas – kecuali Emas – juga akan naik nilainya, karena mereka diuntungkan oleh prospek pertumbuhan yang positif. Mata uang negara-negara yang merupakan pengekspor komoditas besar menguat karena meningkatnya permintaan, dan Mata Uang Kripto naik. Di pasar "risk-off", Obligasi naik – terutama Obligasi pemerintah utama – Emas bersinar, dan mata uang safe haven seperti Yen Jepang, Franc Swiss, dan Dolar AS semuanya diuntungkan.

Dolar Australia (AUD), Dolar Kanada (CAD), Dolar Selandia Baru (NZD) dan sejumlah mata uang asing minor seperti Rubel (RUB) dan Rand Afrika Selatan (ZAR), semuanya cenderung naik di pasar yang "berisiko". Hal ini karena ekonomi mata uang ini sangat bergantung pada ekspor komoditas untuk pertumbuhan, dan komoditas cenderung naik harganya selama periode berisiko. Hal ini karena para investor memprakirakan permintaan bahan baku yang lebih besar di masa mendatang karena meningkatnya aktivitas ekonomi.

Sejumlah mata uang utama yang cenderung naik selama periode "risk-off" adalah Dolar AS (USD), Yen Jepang (JPY) dan Franc Swiss (CHF). Dolar AS, karena merupakan mata uang cadangan dunia, dan karena pada masa krisis para investor membeli utang pemerintah AS, yang dianggap aman karena ekonomi terbesar di dunia tersebut tidak mungkin gagal bayar. Yen, karena meningkatnya permintaan obligasi pemerintah Jepang, karena sebagian besar dipegang oleh para investor domestik yang tidak mungkin menjualnya – bahkan saat dalam krisis. Franc Swiss, karena undang-undang perbankan Swiss yang ketat menawarkan perlindungan modal yang lebih baik bagi para investor.