- Batu Bara ICE Newcastle dibuka dengan gap atas setelah turun kemarin.
- Presiden AS mengklaim gencatan senjata dengan Iran tetap berlanjut.
- Ekspor baru bara Januari-April 2026 menurun dibandingkan tahun sebelumnya.
Batu bara ICE Newcastle front month diperdagangkan di 147,75 yang lebih tinggi 2,04% dibandingkan penutupan hari kemarin pada saat berita ini ditulis. Hasil lebih tinggi itu dibantu oleh pembukaan dengan gap atas setelah komoditas ini ditutup lebih rendah dari dari level pembukaannya kemarin. Komoditas ini merayap naik semakin dekat ke tertinggi 2026 di 150,00 yang ditorehkan di awal bulan Maret.
Kinerja ini memperkuat momentum bullish yang ditunjukkan oleh Relative Strength Index (RSI) 14-hari di 67,05, semakin dekat dengan level-level jenuh beli. Melihat jangka lebih panjang, batu bara ini berada dalam tren naik karena harga bergerak jauh di atas Simple Moving Average (SMA) 200-hari yang menopang harga sejak ditembus pada pertengahan Januari 2026.
Timur Tengah kembali menjadi pendorong utama sentimen harga komoditas hari ini menyusul Komando Pusat (Central Command/CENTCOM) Amerika Serikat yang mengatakan pada Selasa lalu bahwa mereka mencegat serta menggagalkan serangan rudal dan drone Iran yang menargetkan negara-negara tetangga termasuk Kuwait dan Bahrain, seperti dilaporkan ABC News. CENTCOM melakukan serangan dengan tujuan pembelaan diri di Pulau Qeshm Iran.
Di luar itu, Presiden AS, Donald Trump, mengklaim perpanjangan gencatan senjata tanpa batas waktu dan melanjutkan blokade AS sampai negosiasi selesai. Situasi ini menambah ketidakpastian soal kapan Selat Hormuz akan dibuka kembali, yang saat ini mendorong komoditas-komoditas seperti minyak WTI yang melanjutkan kenaikan dua hari berturut-turut sebelumnya.
Efek tidak langsungnya, harga batu bara menjadi lebih tinggi karena peningkatan permintaan untuk menggantikan gas alam dari Timur Tengah, yang saat ini terganggu distribusinya, untuk digunakan sebagai pembangkit listrik.
Terkait energi di dalam negeri, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia (RI) merilis Harga Batu Bara Acuan (HBA) untuk periode pertama Juni 2026. Semua harganya naik dibandingkan dengan sebelumnya dengan perincian sebagai berikut;
- Batubara (6.322 GAR) $121,83 naik dari $116,32
- Batubara I (5.300 GAR) $84,53 naik dari $80,34
- Batubara II (4.100 GAR) $58,81 naik dari $57,61
- Batubara III (3.400 GAR) $40,32 naik dari $39,35
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia yang dirilis kemarin menunjukkan bahwa ekspor produk pertambangan dan lainnya selama Januari–April 2026 turun 8,44% dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang disumbang oleh penurunan ekspor batu bara.
Perinciannya, nilai ekspor Januari–April 2026 sebesar $7,57 miliar yang turun 7,27% dari $8,17 miliar pada perioe yang sama pada tahun 2025. Volume juga mengalami penurunan menjadi 114,54 juta ton pada periode pelaporan dari 122,76 juta ton pada Januari–April 2025.
Grafik Harian Batu Bara ICE Newcastle

Pertanyaan Umum Seputar Sentimen Risiko
Dalam dunia jargon keuangan, dua istilah yang umum digunakan, yaitu "risk-on" dan "risk off" merujuk pada tingkat risiko yang bersedia ditanggung investor selama periode yang dirujuk. Dalam pasar "risk-on", para investor optimis tentang masa depan dan lebih bersedia membeli aset-aset berisiko. Dalam pasar "risk-off", para investor mulai "bermain aman" karena mereka khawatir terhadap masa depan, dan karena itu membeli aset-aset yang kurang berisiko yang lebih pasti menghasilkan keuntungan, meskipun relatif kecil.
Biasanya, selama periode "risk-on", pasar saham akan naik, sebagian besar komoditas – kecuali Emas – juga akan naik nilainya, karena mereka diuntungkan oleh prospek pertumbuhan yang positif. Mata uang negara-negara yang merupakan pengekspor komoditas besar menguat karena meningkatnya permintaan, dan Mata Uang Kripto naik. Di pasar "risk-off", Obligasi naik – terutama Obligasi pemerintah utama – Emas bersinar, dan mata uang safe haven seperti Yen Jepang, Franc Swiss, dan Dolar AS semuanya diuntungkan.
Dolar Australia (AUD), Dolar Kanada (CAD), Dolar Selandia Baru (NZD) dan sejumlah mata uang asing minor seperti Rubel (RUB) dan Rand Afrika Selatan (ZAR), semuanya cenderung naik di pasar yang "berisiko". Hal ini karena ekonomi mata uang ini sangat bergantung pada ekspor komoditas untuk pertumbuhan, dan komoditas cenderung naik harganya selama periode berisiko. Hal ini karena para investor memprakirakan permintaan bahan baku yang lebih besar di masa mendatang karena meningkatnya aktivitas ekonomi.
Sejumlah mata uang utama yang cenderung naik selama periode "risk-off" adalah Dolar AS (USD), Yen Jepang (JPY) dan Franc Swiss (CHF). Dolar AS, karena merupakan mata uang cadangan dunia, dan karena pada masa krisis para investor membeli utang pemerintah AS, yang dianggap aman karena ekonomi terbesar di dunia tersebut tidak mungkin gagal bayar. Yen, karena meningkatnya permintaan obligasi pemerintah Jepang, karena sebagian besar dipegang oleh para investor domestik yang tidak mungkin menjualnya – bahkan saat dalam krisis. Franc Swiss, karena undang-undang perbankan Swiss yang ketat menawarkan perlindungan modal yang lebih baik bagi para investor.
