Batu Bara ICE Newcastle Tidak Bergerak di 135,20, Perhatian Tetap Tertuju pada Timur Tengah

Batu Bara ICE Newcastle Tidak Bergerak di 135,20, Perhatian Tetap Tertuju pada Timur Tengah
  • Batu Bara ICE Newcastle belum membuat pergerakan di hari perdagangan terakhir minggu ni.
  • Presiden AS mengklaim gencatan senjata dengan Iran masih berlaku.
  • Data tenaga kerja AS bisa menjadi penggerak untuk komoditas di depan.
  • Pemerintah Indonesia mengupayakan pemanfaatan tenaga matahari untuk menjadi PLTS 100 GW.

Harga batu bara ICE Newcastle front month diperdagangkan di 135,20 dan belum bergerak sama sekali sejak dibuka hari ini. Batu bara juga menunjukkan kinerja yang sama kemarin, mematung di level ini sepanjang hari kemarin. Para pedagang komoditas ini tampak tidak terkesan oleh sentimen optimis dari Timur Tengah baru-baru ini mengingat pada kenyataannya, Selat Hormuz tidak bisa dilalui dengan bebas.

Batu bara ini tidak menunjukkan pergerakan sepanjang hari kemarin di 135,20 setelah sempat jatuh ke 128,50 Rabu lalu. Pembalikkan Rabu menyelamatkan Relative Strength Index (RSI) 14-hari dari terjerumus ke bawah 50, level yang memisahkan momentum bullish dan bearish. Simple Moving Average (SMA) 200-hari yang jauh di bawah harga tidak berbuat apa pun selain menjadi petunjuk bahwa komoditas ini berada dalam tren naik.

Suhu di Pelabuhan Newcastle Australia adalah 18°C pada saat berita ini ditulis. Kondisi cuaca diprakirakan cerah sepanjang hari sehingga memudahkan pemuatan batu bara ke kapal-kapal. Kelancaran proses tersebut membuat jadwal pengiriman menjadi tepat waktu dan pada akhirnya membuat cuaca tidak bisa menjadi faktor yang memengaruhi harga batu bara dalam jangka pendek.

Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, dalam wawancara dengan ABC News, mengatakan gencatan senjata dengan Iran masih berlaku meskipun baru-baru ini terjadi aksi saling serang. Pernyataan tersebut muncul saat pasar menantikan respon Iran terhadap nota kesepahaman 14 poin yang diberikan AS untuk mengakhiri konflik.

Titik perhatiannya adalah pada masa depan Selat Hormuz yang sampai saat ini belum bisa dilalui dengan bebas. Blokade yang berlangsung berminggu-minggu menyebabkan distrubisi komoditas dari kawasan ini terganggu. Gangguan tersebut menyebabkan peningkatan harga komoditas-komoditas energi secara umum mengingat jalur tersebut digunakan untuk mengangkut 20% kebutuhan minyak dunia.

Selain dari perkembangan Timur Tengah, data tenaga kerja dari Amerika Serikat yang berupa Nonfarm Payrolls, Pendapatan Rata-Rata Per-Jam, dan Tingkat Pengangguran yang akan dirilis hari ini juga dapat memengaruhi sentimen terhadap harga-harga komoditas mengingat mereka dinilai dalam USD.

Terkait energi di dalam negeri, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia (RI) merilis Harga Batu Bara Acuan (HBA) untuk periode pertama Mei 2026 dalam Kepmen ESDM No. 179.K/MB.01/MEM.B/2026. Semua harganya naik dibandingkan dengan sebelumnya dengan perincian sebagai berikut;

  • Batubara (6.322 GAR) $106,57 naik dari $103,43
  • Batubara I (5.300 GAR) $79,56 naik dari $77,71
  • Batubara II (4.100 GAR) $55,66 naik dari $52,84
  • Batubara III (3.400 GAR) $38,76 naik dari $38,30

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengatakan, "Kita juga sedang mendorong pemanfaatan tenaga surya untuk menjadi PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) 100 GW untuk mengurangi pemakaian fosil. Tentu ini memerlukan kolaborasi dari banyak pihak untuk menyelesaikan tugas tersebut," ketika mendampingi Presiden RI, Prabowo Subianto, di KTT ASEAN di Filipina kemarin.

Ketahanan energi menjadi perhatian Indonesia ketika Presiden Prabowo memberikan pidato di KTT Khusus Brunei Darussalam–Indonesia–Malaysia–Philippines East ASEAN Growth Area (BIMP-EAG) Kamis lalu. Presiden mendorong anggota-anggota forum untuk mempercepat pengembangan energi bersih di kawasan ASEAN serta memiliki potensi untuk mengembangkan energi baru terbarukan, seperti diinformasikan dalam situs Kementerian ESDM. Desakan ini juga terjadi di tengah konflik AS-Iran yang menyebabkan gangguan distribusi komoditas energi dari kawasan tersebut sehingga berefek pada meningkatnya harga komoditas impor.

Grafik Harian Batu Bara ICE Newcastle

Batu Bara ICE Newcastle
Grafik harian Batu Bara ICE Newcastle

Pertanyaan Umum Seputar Sentimen Risiko

Dalam dunia jargon keuangan, dua istilah yang umum digunakan, yaitu "risk-on" dan "risk off" merujuk pada tingkat risiko yang bersedia ditanggung investor selama periode yang dirujuk. Dalam pasar "risk-on", para investor optimis tentang masa depan dan lebih bersedia membeli aset-aset berisiko. Dalam pasar "risk-off", para investor mulai "bermain aman" karena mereka khawatir terhadap masa depan, dan karena itu membeli aset-aset yang kurang berisiko yang lebih pasti menghasilkan keuntungan, meskipun relatif kecil.

Biasanya, selama periode "risk-on", pasar saham akan naik, sebagian besar komoditas – kecuali Emas – juga akan naik nilainya, karena mereka diuntungkan oleh prospek pertumbuhan yang positif. Mata uang negara-negara yang merupakan pengekspor komoditas besar menguat karena meningkatnya permintaan, dan Mata Uang Kripto naik. Di pasar "risk-off", Obligasi naik – terutama Obligasi pemerintah utama – Emas bersinar, dan mata uang safe haven seperti Yen Jepang, Franc Swiss, dan Dolar AS semuanya diuntungkan.

Dolar Australia (AUD), Dolar Kanada (CAD), Dolar Selandia Baru (NZD) dan sejumlah mata uang asing minor seperti Rubel (RUB) dan Rand Afrika Selatan (ZAR), semuanya cenderung naik di pasar yang "berisiko". Hal ini karena ekonomi mata uang ini sangat bergantung pada ekspor komoditas untuk pertumbuhan, dan komoditas cenderung naik harganya selama periode berisiko. Hal ini karena para investor memprakirakan permintaan bahan baku yang lebih besar di masa mendatang karena meningkatnya aktivitas ekonomi.

Sejumlah mata uang utama yang cenderung naik selama periode "risk-off" adalah Dolar AS (USD), Yen Jepang (JPY) dan Franc Swiss (CHF). Dolar AS, karena merupakan mata uang cadangan dunia, dan karena pada masa krisis para investor membeli utang pemerintah AS, yang dianggap aman karena ekonomi terbesar di dunia tersebut tidak mungkin gagal bayar. Yen, karena meningkatnya permintaan obligasi pemerintah Jepang, karena sebagian besar dipegang oleh para investor domestik yang tidak mungkin menjualnya – bahkan saat dalam krisis. Franc Swiss, karena undang-undang perbankan Swiss yang ketat menawarkan perlindungan modal yang lebih baik bagi para investor.