- CPO kontrak acuan Agustus 2026 naik 0,51% ke RM4.496 per ton menjelang libur Bursa Malaysia.
- Pelemahan Ringgit, minyak nabati pesaing, dan Brent yang naik memberi dorongan, tetapi ekspor Malaysia masih lemah.
- Pasar juga mencermati rencana sentralisasi ekspor Indonesia dan dampaknya ke harga TBS petani.
Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) Malaysia kembali menguat terbatas pada perdagangan Selasa, menjelang libur Bursa Malaysia untuk Hari Raya Haji pada Rabu. Kontrak acuan Agustus 2026 naik 0,51% atau 23 poin ke RM4.496 per ton, setelah bergerak dalam rentang RM4.445-RM4.510 per ton.
Kenaikan ini menunjukkan pasar masih mencoba membangun pemulihan, meski ruang geraknya belum terlalu kuat. Dorongan datang dari pelemahan Ringgit, penguatan sebagian minyak nabati pesaing, serta kenaikan harga minyak mentah di tengah meningkatnya risiko geopolitik. Namun, karena perdagangan akan terhenti sementara dan baru kembali aktif pada Kamis, pergerakan hari ini juga mencerminkan penyesuaian posisi sebelum jeda pasar.
Bagi pelaku pasar Indonesia, pergerakan ini juga terjadi menjelang periode perdagangan domestik yang lebih pendek karena libur Idul Adha pada Rabu dan cuti bersama pada Kamis. Kondisi tersebut membuat sebagian pelaku pasar cenderung menyesuaikan posisi lebih awal, terutama di tengah ketidakpastian ekspor dan tekanan harga TBS di dalam negeri.
Ekspor Malaysia Masih Jadi Ganjalan
Meski begitu, pemulihan CPO belum cukup memberi sinyal perubahan tren yang solid. Data pengiriman masih menjadi ganjalan utama setelah cargo surveyor melaporkan ekspor produk sawit Malaysia pada 1-25 Mei turun 14,5% menurut Intertek Testing Services dan 18,0% menurut AmSpec Agri Malaysia dibandingkan periode yang sama bulan sebelumnya.
Kondisi permintaan utama juga belum cukup kuat, sehingga pergerakan CPO saat ini lebih banyak bertumpu pada dorongan kurs, kenaikan minyak mentah, dan penyesuaian posisi jangka pendek. Dengan kata lain, kenaikan harga hari ini belum sepenuhnya mencerminkan pemulihan fundamental yang kokoh.
Risiko Tata Niaga Indonesia Ikut Dipantau
Sementara itu, dari Indonesia, perhatian tertuju pada rencana sentralisasi ekspor komoditas utama, termasuk CPO, RBD palm oil, dan RBD palm olein. Reuters menyebut produk-produk tersebut akan masuk dalam skema pengaturan, sementara sebagian turunannya dikecualikan. Kelompok produk yang diatur ini mencakup sekitar 90% ekspor sawit Indonesia, sehingga kebijakan tersebut berpotensi memengaruhi persepsi pasar terhadap pasokan global.
Meski belum menunjukkan gangguan pasokan fisik secara langsung, rencana ini menambah risiko administrasi dan ketidakpastian tata niaga bagi eksportir maupun pembeli global. Pasar dapat membaca kebijakan tersebut sebagai potensi disrupsi alur perdagangan, terutama jika mekanisme baru memperlambat proses ekspor, mengubah pembentukan harga, atau mendorong sebagian pembeli mencari pasokan yang dinilai lebih stabil dari Malaysia.
Di tingkat domestik, tekanan mulai terasa pada petani sawit. Data SPKS menyebut harga tandan buah segar (TBS) di Kalimantan Barat turun sekitar Rp1.000-Rp1.500 per kg. Di Mamuju, Sulawesi Barat, harga yang sebelumnya berada di kisaran Rp2.800 per kg disebut anjlok ke sekitar Rp1.000 per kg, sementara di Labuhanbatu, Sumatra Utara, harga TBS turun hingga Rp1.500 per kg.
Kondisi ini menunjukkan pasar domestik masih menunggu kejelasan mekanisme ekspor baru sebelum transaksi kembali berjalan lebih normal. Bagi harga CPO, kombinasi antara dukungan eksternal dan risiko tata niaga membuat penguatan hari ini lebih tepat dibaca sebagai pemulihan teknis, bukan pembalikan tren yang sudah kokoh.
