CPO Naik 0,62% saat Ringgit Melemah, Pasar Menimbang Stok Malaysia dan Prospek B50

CPO Naik 0,62% saat Ringgit Melemah, Pasar Menimbang Stok Malaysia dan Prospek B50
  • Kontrak berjangka CPO naik 28 poin atau 0,62% ke MYR4.541 per ton pada perdagangan Senin siang.
  • Ringgit Malaysia melemah 0,34% terhadap Dolar AS, dengan USD/MYR bergerak di 4,0810.
  • Stok minyak sawit Malaysia naik 4,78% pada Juni, sementara Indonesia memprakirakan B50 akan meningkatkan penggunaan CPO.

Harga minyak sawit mentah (CPO) menguat pada perdagangan Senin ketika Ringgit Malaysia melemah terhadap Dolar AS, di tengah kenaikan stok minyak sawit Malaysia dan prospek peningkatan penggunaan CPO melalui program biodiesel B50 di Indonesia.

Kontrak berjangka CPO dibuka di MYR4.543 per ton dan sempat naik ke MYR4.556, sebelum bergerak di MYR4.541 pada sekitar pukul 12:05 WIB, memulihkan sebagian pelemahan Jumat yang tercatat lebih dari 1%. Posisi tersebut lebih tinggi 28 poin atau 0,62%, dengan terendah harian tercatat di MYR4.529.

Survei kargo menunjukkan ekspor produk minyak sawit Malaysia selama 1-10 Juli meningkat 1,6% hingga 5,1% dibandingkan periode yang sama pada bulan sebelumnya.

Pada waktu yang hampir bersamaan, USD/MYR naik 0,34% ke 4,0810, yang menunjukkan pelemahan Ringgit terhadap Dolar AS. Pergerakan mata uang Malaysia menjadi salah satu faktor yang dicermati dalam perdagangan CPO karena komoditas tersebut diperdagangkan dalam Ringgit.

Pergerakan minyak mentah turut menjadi faktor yang dicermati. Pada perdagangan Senin, WTI melonjak 4,71% ke USD74,77 per barel, sementara Brent menguat 4,64% ke USD79,54 per barel di tengah memanasnya konflik AS-Iran.

Di tengah penguatan tersebut, data sementara Badan Minyak Sawit Malaysia (MPOB) menunjukkan stok minyak sawit Malaysia mencapai 2,54 juta metrik ton pada akhir Juni, naik 4,78% dari Mei.

Kenaikan berlangsung ketika produksi CPO meningkat 8,08% secara bulanan menjadi 1,64 juta metrik ton, sementara ekspor minyak sawit bertambah 6,19% menjadi 1,20 juta metrik ton.

Sementara itu, impor minyak sawit India diprakirakan turun 10,5% secara bulanan menjadi sekitar 492.000 metrik ton pada Juni, terendah dalam 14 bulan. Penurunan tersebut terjadi di tengah lemahnya permintaan domestik dan menyempitnya selisih harga minyak sawit dengan minyak nabati pesaing.

Pasar juga memantau rencana Indonesia menaikkan campuran biodiesel berbasis minyak sawit menjadi B50 dari B40. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia pekan lalu mengatakan mandat tersebut diprakirakan meningkatkan penggunaan CPO menjadi 16,3 juta hingga 17 juta metrik ton dari sebelumnya 15,2 juta ton.