- Emas melanjutkan kenaikan di atas US$4.400 seiring memudarnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed membebani Dolar AS.
- Fokus beralih ke Risalah Rapat FOMC hari Rabu untuk mendapatkan lebih banyak wawasan mengenai prospek The Fed.
- XAU/USD bertahan di atas SMA 100-hari, meskipun para pembeli kesulitan untuk melanjutkan kenaikan.
Emas (XAU/USD) melanjutkan kenaikan dalam perdagangan harian pada hari Senin, didukung oleh memudarnya ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan menaikkan suku bunga pada pertemuan bulan September, sementara Dolar AS (USD) tetap melemah. Pada saat berita ini ditulis, XAU/USD diperdagangkan di sekitar US$4.425, naik 1,11% pada hari ini.
Menurut CME FedWatch Tool, pasar kini melihat sekitar 70% peluang bahwa bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga tidak berubah bulan depan, naik dari 48% seminggu lalu.
Perubahan ekspektasi dari kenaikan suku bunga menjadi jeda menyusul serangkaian rilis data ekonomi AS yang mengecewakan. Nonfarm Payrolls (NFP) turun pada bulan Juli, Penjualan Ritel turun secara bulanan, dan inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK atau CPI) serta Indeks Harga Produsen (IHP atau PPI) sama-sama melambat secara tahunan.
Indeks Dolar AS (DXY), yang melacak nilai Greenback terhadap sekeranjang enam mata uang utama, diperdagangkan di sekitar 99,50 setelah menyentuh 99,30, level terendah sejak 5 Juni.
Emas mempertahankan bias positif jangka pendek, meskipun para pembeli tampak enggan mendorong harga naik tajam. Perkembangan di Timur Tengah tetap menjadi titik fokus, khususnya ketegangan di sekitar Selat Hormuz, yang menjaga harga Minyak tetap tinggi dan mempertahankan risiko inflasi yang didorong energi.
Presiden AS, Donald Trump, menegaskan kembali pada hari Senin bahwa Iran tidak akan diizinkan memperoleh senjata nuklir saat nota kesepahaman 60 hari berakhir tanpa kesepakatan. Sementara itu, seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa Teheran akan meningkatkan ketegangan di Selat tersebut dan di seluruh kawasan yang lebih luas jika diplomasi dengan Washington gagal.
Risiko inflasi yang terus didorong energi berarti pasar belum sepenuhnya mengesampingkan kenaikan suku bunga pada tahun ini. Para pedagang kini menunggu Risalah Rapat FOMC Juli pada hari Rabu untuk mendapatkan kejelasan lebih lanjut mengenai jalur kebijakan The Fed.
Analisis Teknis: XAU/USD Mempertahankan Bias Bullish dengan SMA 200 Hari di Depan

XAU/USD mempertahankan bias bullish yang konstruktif karena harga spot berada sedikit di atas Simple Moving Average (SMA) 100 hari di US$4.385. Momentum tetap positif, dengan Relative Strength Index (RSI) pada grafik harian di dekat 65 dan Moving Average Convergence Divergence (MACD) tetap berada di wilayah positif, yang bersama-sama mengindikasikan bahwa para pembeli masih memegang kendali tanpa mendorong kondisi ke wilayah jenuh beli ekstrem.
Di sisi bawah, support terdekat terlihat di SMA 100 hari di sekitar US$4.385, dengan permintaan struktural tambahan berada lebih rendah di level horizontal US$4.200 dan SMA 50 hari di dekat US$4.147, sebelum dasar yang lebih dalam di US$4.000.
Di sisi atas, SMA 200 hari di US$4.506 adalah resistance berikutnya yang patut dicatat, dan penembusan tegas di atas average jangka panjang ini kemungkinan akan membuka jalan bagi kelanjutan tren naik terbaru.
(Analisis teknis dalam berita ini ditulis dengan bantuan alat AI. Pelajari lebih lanjut.)
Pertanyaan Umum Seputar Emas
Emas telah memainkan peran penting dalam sejarah manusia karena telah banyak digunakan sebagai penyimpan nilai dan alat tukar. Saat ini, selain kilaunya dan kegunaannya sebagai perhiasan, logam mulia tersebut secara luas dipandang sebagai aset safe haven, yang berarti bahwa emas dianggap sebagai investasi yang baik selama masa-masa sulit. Emas juga secara luas dipandang sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan terhadap mata uang yang terdepresiasi karena tidak bergantung pada penerbit atau pemerintah tertentu.
Bank-bank sentral merupakan pemegang Emas terbesar. Dalam upaya mereka untuk mendukung mata uang mereka di masa sulit, bank sentral cenderung mendiversifikasi cadangan mereka dan membeli Emas untuk meningkatkan kekuatan ekonomi dan mata uang yang dirasakan. Cadangan Emas yang tinggi dapat menjadi sumber kepercayaan bagi solvabilitas suatu negara. Bank sentral menambahkan 1.136 ton Emas senilai sekitar $70 miliar ke cadangan mereka pada tahun 2022, menurut data dari World Gold Council. Ini merupakan pembelian tahunan tertinggi sejak pencatatan dimulai. Bank sentral dari negara-negara berkembang seperti Tiongkok, India, dan Turki dengan cepat meningkatkan cadangan Emasnya.
Emas memiliki korelasi terbalik dengan Dolar AS dan Obligasi Pemerintah AS, yang keduanya merupakan aset cadangan utama dan aset safe haven. Ketika Dolar terdepresiasi, Emas cenderung naik, yang memungkinkan para investor dan bank sentral untuk mendiversifikasi aset-aset mereka di masa sulit. Emas juga berkorelasi terbalik dengan aset-aset berisiko. Rally di pasar saham cenderung melemahkan harga Emas, sementara aksi jual di pasar yang lebih berisiko cenderung menguntungkan logam mulia ini.
Harga dapat bergerak karena berbagai faktor. Ketidakstabilan geopolitik atau ketakutan akan resesi yang parah dapat dengan cepat membuat harga Emas meningkat karena statusnya sebagai aset safe haven. Sebagai aset tanpa imbal hasil, Emas cenderung naik dengan suku bunga yang lebih rendah, sementara biaya uang yang lebih tinggi biasanya membebani logam kuning tersebut. Namun, sebagian besar pergerakan bergantung pada perilaku Dolar AS (USD) karena aset tersebut dihargakan dalam dolar (XAU/USD). Dolar yang kuat cenderung menjaga harga Emas tetap terkendali, sedangkan Dolar yang lebih lemah cenderung mendorong harga Emas naik.
