- Emas melonjak lebih dari 1% ke US$4.061 setelah menguji US$3.989.
- WTI mundur menuju US$100, memberikan kelegaan untuk tekanan inflasi yang didorong energi.
- Peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Desember berada di 83% menjelang pernyataan Warsh.
Harga Emas rebound dari level terendah harian US$3.989, naik lebih dari 1% pada hari Selasa meskipun Dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS naik. Penurunan harga minyak memberikan dorongan untuk logam kuning, sementara para investor bersiap menghadapi keputusan Federal Reserve (The Fed) pada hari Rabu. XAU/USD diperdagangkan di US$4.061.
XAU/USD Rebound meski Imbal Hasil AS Naik saat Penurunan Harga Minyak Meredakan Inflasi
Data AS hari ini gagal memberikan sinyal yang berarti bagi arah Emas, dengan logam mulia ini dibuka lebih rendah sebelum berbalik hijau. Geopolitik mendorong aksi harga setelah West Texas Intermediate (WTI), acuan minyak AS, turun lebih dari 1% ke US$100,05 per barel.
Konflik Timur Tengah tampaknya masih jauh dari penyelesaian cepat karena perundingan antara AS dan Iran tampaknya terhenti. Menurut laporan terbaru, AS dan Israel kemungkinan akan melanjutkan serangan mereka terhadap Teheran setelah pemilu sela Israel dan AS, yang mendorong harga WTI di atas ambang US$100,00 pada hari Senin.
Data perumahan AS lebih lemah dari yang diprakirakan, meski sebagian besar diabaikan oleh para pelaku pasar. Keyakinan Konsumen membaik pada bulan Oktober dari 84,2 menjadi 91,7, menurut Conference Board, saat masyarakat Amerika menjadi lebih optimis terhadap pasar tenaga kerja dan kondisi bisnis. Sebaliknya, ekspektasi inflasi tidak berubah dari angka sebelumnya sebesar 5,8%.
Pesanan Barang Tahan Lama naik 1,8% pada September, dari 0,1%, karena belanja bisnis tetap kuat di tengah ekspansi infrastruktur AI. Sementara itu, rata-rata 4 minggu Perubahan Ketenagakerjaan ADP melandai ke 16,8 ribu dari 17,5 ribu, menandakan pendinginan pasar tenaga kerja yang moderat.
Fokus para pedagang tertuju pada The Fed, bukan pada pernyataan kebijakan moneter, kecuali jika menunjukkan kecenderungan hawkish yang agresif. Pasar uang melihat peluang kenaikan suku bunga sebesar 9%, yang akan menjadi kejutan menjelang pemilu sela AS. Perhatian tertuju pada pernyataan Ketua The Fed, Kevin Warsh, yang dapat menjabarkan langkah berikutnya untuk pertemuan bulan Desember.
Perlu dicatat bahwa selain The Fed, dua bank sentral lainnya diprakirakan akan menaikkan suku bunga, di tengah kekhawatiran bahwa harga energi akan terus bergerak lebih tinggi. Keputusan Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB) akan dirilis pada hari Kamis, diikuti oleh Bank of Japan (BoJ) pada hari Jumat. ECB diprakirakan akan membiarkan suku bunga tidak berubah pada hari Kamis.
Data dari Prime Terminal menunjukkan peluang 83% untuk kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin oleh The Fed pada bulan Desember. Meskipun peluangnya positif, angkanya terus menunjukkan tren lebih rendah dibandingkan 90% pada pekan lalu.

Selain itu, para pedagang juga mencermati rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) AS dan pengukur inflasi yang disukai The Fed, Indeks Harga Belanja Konsumsi Pribadi (Personal Consumption Expenditures/PCE) inti pada hari Kamis.
Analisis Teknis XAU/USD: Pembeli Emas Pertahankan US$4.000, Fokus pada US$4.100
Dari sisi teknis, Emas membentuk pola candle "bullish harami", yang dikonfirmasi hari ini saat XAU/USD naik di atas tertinggi 23 hari bulan Oktober di US$4.034. Meskipun momentum berpihak pada pembeli dalam jangka pendek, Relative Strength Index (RSI) bersifat bearish, sehingga kehati-hatian diperlukan.
Di sisi atas, area minat berikutnya adalah garis tren resistance yang ditarik dari sekitar tertinggi bulan September, di dekat US$4.100. Penembusan level tersebut akan membuka peluang menuju US$4.200. Level-level resistance utama berikutnya adalah Simple Moving Average (SMA) 100 hari di US$4.219 dan SMA 50 hari di US$4.288.
Jika XAU/USD merosot di bawah US$4.000, ini membuka jalan untuk menguji terendah Jumat lalu di US$3.975. Level-level support utama berikutnya adalah terendah 17 Juli di US$3.959 dan terendah tahun berjalan (YTD) di US$3.941.
(Berita ini dikoreksi pada 27 Oktober pukul 18:00 GMT/28 Oktober pukul 01:00 WIB pada paragraf kelima bahwa rata-rata 4 minggu Perubahan Ketenagakerjaan ADP sebelumnya adalah 17,5 ribu, bukan 18,5 ribu)

Pertanyaan Umum Seputar Emas
Emas telah memainkan peran penting dalam sejarah manusia karena telah banyak digunakan sebagai penyimpan nilai dan alat tukar. Saat ini, selain kilaunya dan kegunaannya sebagai perhiasan, logam mulia tersebut secara luas dipandang sebagai aset safe haven, yang berarti bahwa emas dianggap sebagai investasi yang baik selama masa-masa sulit. Emas juga secara luas dipandang sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan terhadap mata uang yang terdepresiasi karena tidak bergantung pada penerbit atau pemerintah tertentu.
Bank-bank sentral merupakan pemegang Emas terbesar. Dalam upaya mereka untuk mendukung mata uang mereka di masa sulit, bank sentral cenderung mendiversifikasi cadangan mereka dan membeli Emas untuk meningkatkan kekuatan ekonomi dan mata uang yang dirasakan. Cadangan Emas yang tinggi dapat menjadi sumber kepercayaan bagi solvabilitas suatu negara. Bank sentral menambahkan 1.136 ton Emas senilai sekitar $70 miliar ke cadangan mereka pada tahun 2022, menurut data dari World Gold Council. Ini merupakan pembelian tahunan tertinggi sejak pencatatan dimulai. Bank sentral dari negara-negara berkembang seperti Tiongkok, India, dan Turki dengan cepat meningkatkan cadangan Emasnya.
Emas memiliki korelasi terbalik dengan Dolar AS dan Obligasi Pemerintah AS, yang keduanya merupakan aset cadangan utama dan aset safe haven. Ketika Dolar terdepresiasi, Emas cenderung naik, yang memungkinkan para investor dan bank sentral untuk mendiversifikasi aset-aset mereka di masa sulit. Emas juga berkorelasi terbalik dengan aset-aset berisiko. Rally di pasar saham cenderung melemahkan harga Emas, sementara aksi jual di pasar yang lebih berisiko cenderung menguntungkan logam mulia ini.
Harga dapat bergerak karena berbagai faktor. Ketidakstabilan geopolitik atau ketakutan akan resesi yang parah dapat dengan cepat membuat harga Emas meningkat karena statusnya sebagai aset safe haven. Sebagai aset tanpa imbal hasil, Emas cenderung naik dengan suku bunga yang lebih rendah, sementara biaya uang yang lebih tinggi biasanya membebani logam kuning tersebut. Namun, sebagian besar pergerakan bergantung pada perilaku Dolar AS (USD) karena aset tersebut dihargakan dalam dolar (XAU/USD). Dolar yang kuat cenderung menjaga harga Emas tetap terkendali, sedangkan Dolar yang lebih lemah cenderung mendorong harga Emas naik.

