VG Markets Unduh

Emas Uji US$4.500 saat USD dan Imbal Hasil Turun, Taruhan Kenaikan Fed Mereda

Emas Uji US$4.500 saat USD dan Imbal Hasil Turun, Taruhan Kenaikan Fed Mereda
  • Emas rebound dari level terendah hampir empat minggu saat Greenback kehilangan momentum.
  • Ekspektasi suku bunga The Fed tetap menjadi fokus utama menjelang laporan NFP yang akan dirilis pada hari Jumat.
  • Secara teknis, resistance terdekat berada di US$4.500, diikuti oleh SMA 200 hari di US$4.533.

Emas (XAU/USD) melanjutkan rebound pada hari Kamis setelah sempat turun di bawah US$4.300 ke level terendah hampir empat minggu pada hari sebelumnya. Reli tajam pada Yen Jepang (JPY) membebani Dolar AS (USD), sementara pullback pada imbal hasil obligasi Treasury AS memberikan dukungan tambahan bagi logam mulia ini. Pada saat berita ini ditulis, XAU/USD diperdagangkan di sekitar US$4.509, naik 2,78% pada hari ini.

Indeks Dolar AS (DXY), yang melacak nilai Greenback terhadap sekeranjang enam mata uang utama, diperdagangkan di sekitar 99,00, mendekati level terendah satu minggu, setelah mencapai 99,86 pada hari Rabu, level tertingginya sejak 14 Agustus. Imbal hasil obligasi Treasury AS bertenor 10 tahun acuan diperdagangkan di sekitar 4,75%, turun selama dua hari berturut-turut setelah mencapai 4,81%, level tertingginya sejak Oktober 2023.

Data ekonomi AS memberikan sinyal yang beragam. Klaim Tunjangan Pengangguran Awal Jobless Claims naik ke 206 Ribu pada pekan yang berakhir 29 Agustus, sedikit di atas prakiraan pasar 205 Ribu dan pembacaan sebelumnya 204 Ribu. Sementara itu, Indeks Manajer Pembelian (Purchasing Managers' Index/PMI) Jasa ISM bulan Agustus naik ke 55,4 dari 54,1 pada bulan Juli, melampaui ekspektasi 54,3.

Dolar AS yang lebih lemah umumnya positif bagi Emas. Namun, sejumlah hambatan jangka pendek dapat membuat logam kuning ini sulit mempertahankan pemulihannya, meskipun prospek jangka panjang tetap didukung oleh pembelian bank sentral yang kuat dan permintaan investasi.

Imbal hasil obligasi pemerintah telah naik ke level tertinggi multi-tahun di berbagai ekonomi utama seiring dengan semakin dalamnya kekhawatiran terhadap fiskal dan inflasi. Harga Minyak yang lebih tinggi terkait perang di Timur Tengah juga menambah ekspektasi inflasi. Imbal hasil yang tinggi meningkatkan biaya peluang untuk memegang aset-aset yang tidak berimbal hasil seperti Emas.

Ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) menjadi tantangan tambahan, karena Emas biasanya berkinerja lebih baik ketika suku bunga rendah. Namun, komentar dovish dari Gubernur The Fed Christopher Waller membuat para pedagang tetap berhati-hati terhadap kemungkinan langkah pada bulan September.

Waller mengatakan bahwa ia "akhirnya melihat beberapa tanda disinflasi dalam data terbaru" dan bahwa "keputusan suku bunga pada bulan September bergantung pada inflasi Agustus." Ia menambahkan bahwa ia akan mendukung mempertahankan suku bunga tidak berubah jika data Agustus mengonfirmasi kemajuan terbaru.

Menurut CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed 15–16 September telah turun menjadi sekitar 48% dari 63% sehari sebelumnya. Para pedagang kini menantikan laporan Nonfarm Payrolls (NFP) hari Jumat untuk petunjuk baru mengenai prospek kebijakan moneter The Fed.

Analisis Teknis: XAU/USD Mendekati US$4.500 saat Pembeli Kembali Menguasai Pasar

XAU/USD bertahan di atas Simple Moving Average (SMA) 50 hari dan 100 hari, menjaga prospek jangka pendek tetap konstruktif. Indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD) masih berada di bawah nol dan di wilayah negatif, mengisyaratkan bahwa momentum bullish masih tentatif meskipun harga spot diperdagangkan jauh di atas support tren yang mendasarinya. Relative Strength Index (RSI) pada grafik harian berada di 55 dan sedikit positif, memperkuat nada bullish yang berkonsolidasi alih-alih reli yang sudah terlalu jauh.

Pada sisi atas, resistance terdekat berada di level horizontal US$4.500, diikuti oleh SMA 200-hari di US$4.533 dan level US$4.700. Pada sisi bawah, level psikologis US$4.400 menawarkan support awal sebelum SMA 100-hari di US$4.357 dan SMA 50-hari di US$4.231. Penurunan yang lebih dalam dapat membawa support horizontal US$4.000 kembali menjadi fokus.

(Analisis teknis dalam berita ini ditulis dengan bantuan alat AI. Pelajari lebih lanjut.)

Pertanyaan Umum Seputar Emas

Emas telah memainkan peran penting dalam sejarah manusia karena telah banyak digunakan sebagai penyimpan nilai dan alat tukar. Saat ini, selain kilaunya dan kegunaannya sebagai perhiasan, logam mulia tersebut secara luas dipandang sebagai aset safe haven, yang berarti bahwa emas dianggap sebagai investasi yang baik selama masa-masa sulit. Emas juga secara luas dipandang sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan terhadap mata uang yang terdepresiasi karena tidak bergantung pada penerbit atau pemerintah tertentu.

Bank-bank sentral merupakan pemegang Emas terbesar. Dalam upaya mereka untuk mendukung mata uang mereka di masa sulit, bank sentral cenderung mendiversifikasi cadangan mereka dan membeli Emas untuk meningkatkan kekuatan ekonomi dan mata uang yang dirasakan. Cadangan Emas yang tinggi dapat menjadi sumber kepercayaan bagi solvabilitas suatu negara. Bank sentral menambahkan 1.136 ton Emas senilai sekitar $70 miliar ke cadangan mereka pada tahun 2022, menurut data dari World Gold Council. Ini merupakan pembelian tahunan tertinggi sejak pencatatan dimulai. Bank sentral dari negara-negara berkembang seperti Tiongkok, India, dan Turki dengan cepat meningkatkan cadangan Emasnya.

Emas memiliki korelasi terbalik dengan Dolar AS dan Obligasi Pemerintah AS, yang keduanya merupakan aset cadangan utama dan aset safe haven. Ketika Dolar terdepresiasi, Emas cenderung naik, yang memungkinkan para investor dan bank sentral untuk mendiversifikasi aset-aset mereka di masa sulit. Emas juga berkorelasi terbalik dengan aset-aset berisiko. Rally di pasar saham cenderung melemahkan harga Emas, sementara aksi jual di pasar yang lebih berisiko cenderung menguntungkan logam mulia ini.

Harga dapat bergerak karena berbagai faktor. Ketidakstabilan geopolitik atau ketakutan akan resesi yang parah dapat dengan cepat membuat harga Emas meningkat karena statusnya sebagai aset safe haven. Sebagai aset tanpa imbal hasil, Emas cenderung naik dengan suku bunga yang lebih rendah, sementara biaya uang yang lebih tinggi biasanya membebani logam kuning tersebut. Namun, sebagian besar pergerakan bergantung pada perilaku Dolar AS (USD) karena aset tersebut dihargakan dalam dolar (XAU/USD). Dolar yang kuat cenderung menjaga harga Emas tetap terkendali, sedangkan Dolar yang lebih lemah cenderung mendorong harga Emas naik.