Harga Batu Bara Melemah, Indonesia Menimbang Permintaan Asia dan Arah Kebijakan Tambang

Harga Batu Bara Melemah, Indonesia Menimbang Permintaan Asia dan Arah Kebijakan Tambang
  • Harga batu bara global terkoreksi setelah pasar memangkas premi risiko energi di tengah harapan de-eskalasi Iran-AS.
  • Permintaan India dan penguatan harga termal Tiongkok menjadi faktor penahan koreksi di pasar Asia.
  • Dari dalam negeri, pelaku usaha mencermati kenaikan HBA dan arah kebijakan pertambangan.

Harga batu bara global bergerak melemah setelah pasar memangkas sebagian premi risiko energi di tengah harapan de-eskalasi Iran-AS. Data Barchart menunjukkan kontrak berjangka ICE Newcastle Coal Juni 2026 turun 3,51% ke US$134,80 per ton pada 6 Mei, sementara kontrak Mei tercatat melemah ke sekitar US$132 per ton pada 7 Mei. Meski terkoreksi, harga masih berada di level relatif tinggi karena risiko pasokan energi belum sepenuhnya hilang.

Tekanan pada batu bara sejalan dengan koreksi harga energi global. Tim Ekonomi Global ING mencatat harga minyak dan gas turun tajam setelah Iran mempertimbangkan proposal baru AS yang mencakup nota kesepahaman satu halaman untuk membuka jalan bagi pemulihan bertahap arus Selat Hormuz. Menurut data Bloomberg, Brent turun 3,64% ke US$97,58 per barel pada pukul 20.18 WIB. Namun, ING mengingatkan pasar energi masih sensitif terhadap berita utama karena kesepakatan Iran-AS belum final dan lalu lintas Hormuz belum sepenuhnya normal.

India dan Tiongkok Jadi Penahan Koreksi

Dari sisi permintaan Asia, India masih menjadi penahan koreksi. Produksi listrik April mencapai 167,61 miliar kWh, tertinggi sejak Mei 2024, dengan puncak permintaan menyentuh rekor 256,1 GW. Namun, dorongan ini belum otomatis memicu lonjakan impor karena produksi Coal India pada April turun 9,7% YoY ke 56,1 juta ton, sementara offtake hanya turun 2% ke 63,2 juta ton. Sentimen emiten juga tertekan setelah pemerintah India dilaporkan akan melepas 3%-4% saham Coal India melalui OFS senilai sekitar ₹10.000 crore, meski dampaknya terhadap harga fisik batu bara cenderung tidak langsung.

Sementara itu, harga batu bara termal di Tiongkok mulai menguat menjelang musim panas. SunSirs mencatat harga 5.500 kcal di pelabuhan utara berada di 800-820 yuan per ton per 6 Mei. Bagi Indonesia, sinyal ini penting karena dapat membantu menahan tekanan harga batu bara Asia, meski dorongan impor Tiongkok belum terlihat seagresif India.

Indonesia Mencermati HBA dan Arah Kebijakan Tambang

Dari dalam negeri, pelaku usaha mencermati arah kebijakan pertambangan. APBI-ICMA mengingatkan rencana skema bagi hasil ala migas perlu dikaji hati-hati karena karakter batu bara berbeda dari hulu migas, sementara industri sudah menanggung royalti, pajak, iuran tetap, PNBP, serta kewajiban lingkungan dan sosial. Sebelumnya, APBI juga menilai pembatasan produksi berisiko menekan perusahaan kecil dan belum tentu efektif mengangkat harga, sementara ekspor batu bara tetap penting bagi devisa, stabilitas Rupiah, dan penerimaan negara.

Di sisi harga domestik, sentimen masih mendapat dukungan dari kenaikan Harga Batubara Acuan atau HBA periode pertama Mei. HBA utama naik ke US$106,57 per ton dari US$103,43 pada periode kedua April. Dengan demikian, pasar batu bara masih berada dalam tarik-menarik antara koreksi premi geopolitik, dukungan permintaan energi Asia, dan arah kebijakan domestik Indonesia.