- Harga CPO melemah pada Jumat, dengan kontrak acuan Juli 2026 turun 0,95% ke 4.498 ringgit per ton di Bursa Malaysia.
- Pasar menahan posisi jelang rilis data MPOB, yang akan memberi gambaran terbaru soal stok, produksi, dan ekspor Malaysia.
- Harga minyak tinggi dan agenda biodiesel regional masih menjadi bantalan, terutama melalui B15 Malaysia, B50 Indonesia, dan HIP BBN biodiesel Mei yang ditetapkan ESDM di Rp14.917 per liter.
Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) melemah pada perdagangan Jumat, dengan tekanan terlihat pada sejumlah kontrak utama Bursa Malaysia. Kontrak acuan Juli 2026 turun 0,95% atau 43 ringgit ke 4.498 ringgit per ton, setelah bergerak dalam rentang 4.492-4.563 ringgit. Kontrak Juni ikut melemah 0,91% ke 4.466 ringgit, sementara kontrak Mei turun lebih terbatas 0,24% ke 4.480 ringgit.
Pelemahan ini menunjukkan pelaku pasar masih berhati-hati menjelang rilis data pasokan dan permintaan bulanan Malaysia dari Malaysian Palm Oil Board (MPOB) pada Senin pekan depan. Investor menunggu sinyal terbaru dari stok, produksi, dan ekspor untuk menilai apakah CPO masih memiliki ruang pemulihan atau kembali tertekan oleh pasokan serta persaingan minyak nabati lain.
Dari sisi energi, sentimen pasar kembali dibayangi ketegangan baru AS-Iran di sekitar Selat Hormuz, yang mengganggu optimisme terhadap jalur damai. Data Bloomberg terbaru menunjukkan Brent bergerak di sekitar US$100,44 per barel dan WTI di US$94,94 per barel, menandakan harga minyak masih bertahan di level tinggi setelah sempat melonjak akibat meningkatnya risiko pasokan di kawasan Teluk.
Harga minyak yang tinggi sebenarnya dapat memberi bantalan bagi CPO melalui kanal biodiesel, karena sawit menjadi lebih menarik sebagai bahan baku energi alternatif. Namun, dorongan tersebut belum cukup menahan koreksi hari ini, seiring pasar lebih memilih menunggu kejelasan data stok Malaysia dan arah permintaan minyak nabati.
Dari sisi kebijakan, narasi permintaan biodiesel masih menjadi penopang penting. Agenda B15 Malaysia pada Juni dan B50 Indonesia pada Juli tetap menjadi faktor yang menjaga ekspektasi serapan minyak sawit, terutama ketika harga minyak mentah masih tinggi. SD Guthrie, seperti dilaporkan Reuters, menyebut ekspansi mandat biodiesel regional berpotensi mendukung harga CPO dalam jangka pendek, meski kesiapan implementasinya masih menjadi perhatian.
Di Indonesia, Kementerian ESDM menetapkan HIP BBN biodiesel Mei 2026 sebesar Rp14.917 per liter plus ongkos angkut, berlaku sejak 1 Mei. Harga acuan ini menjadi perhatian pasar karena berkaitan langsung dengan hitung-hitungan harga biodiesel dan prospek serapan CPO domestik, terutama menjelang agenda implementasi B50 pada Juli.
Pertanyaan Umum Seputar Minyak Mentah Brent
Minyak Mentah Brent adalah jenis minyak mentah yang ditemukan di Laut Utara yang digunakan sebagai patokan untuk harga minyak internasional. Minyak ini dianggap 'ringan' dan 'manis' karena gravitasinya yang tinggi dan kandungan sulfurnya yang rendah, sehingga lebih mudah dimurnikan menjadi bensin dan produk bernilai tinggi lainnya. Minyak Mentah Brent berfungsi sebagai harga referensi untuk sekitar dua pertiga dari pasokan minyak yang diperdagangkan secara internasional di dunia. Popularitasnya bergantung pada ketersediaan dan stabilitasnya: wilayah Laut Utara memiliki infrastruktur yang mapan untuk produksi dan transportasi Minyak, yang menjamin pasokan yang andal dan konsisten.
Seperti semua aset, penawaran dan permintaan merupakan pendorong utama harga Minyak Mentah Brent. Dengan demikian, pertumbuhan global dapat menjadi pendorong peningkatan permintaan dan sebaliknya untuk pertumbuhan global yang lemah. Ketidakstabilan politik, perang, dan sanksi dapat mengganggu pasokan dan memengaruhi harga. Keputusan OPEC, sekelompok negara penghasil minyak utama, merupakan pendorong utama harga lainnya. Nilai Dolar AS memengaruhi harga Minyak Mentah Brent, karena Minyak sebagian besar diperdagangkan dalam Dolar AS, sehingga Dolar AS yang lebih lemah dapat membuat Minyak lebih terjangkau dan sebaliknya.
Laporan inventaris minyak mingguan yang diterbitkan oleh American Petroleum Institute (API) dan Energy Information Agency (EIA) memengaruhi harga minyak WTI. Perubahan inventaris mencerminkan fluktuasi pasokan dan permintaan. Jika data menunjukkan penurunan inventaris, ini dapat mengindikasikan peningkatan permintaan, yang mendorong harga minyak naik. Inventaris yang lebih tinggi dapat mencerminkan peningkatan pasokan, yang mendorong harga turun. Laporan API diterbitkan setiap hari Selasa dan EIA pada hari berikutnya. Hasilnya biasanya serupa, dengan selisih 1% satu sama lain selama 75% waktu. Data EIA dianggap lebih dapat diandalkan, karena merupakan lembaga pemerintah. Hasilnya biasanya serupa, dengan selisih 1% dari satu sama lain selama 75% waktu. Data EIA dianggap lebih dapat diandalkan, karena merupakan lembaga pemerintah.
OPEC (Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak) adalah kelompok yang terdiri dari 12 negara penghasil minyak yang secara kolektif memutuskan kuota produksi untuk negara-negara anggota dalam pertemuan dua kali setahun. Keputusan mereka sering kali memengaruhi harga minyak mentah Brent. Ketika OPEC memutuskan untuk menurunkan kuota, pasokan dapat diperketat, sehingga harga minyak naik. Ketika OPEC meningkatkan produksi, efeknya justru sebaliknya. OPEC+ merujuk pada kelompok yang diperluas yang mencakup sepuluh anggota non-OPEC tambahan, yang paling menonjol adalah Rusia.
