Harga Perak Mencapai Terendah Baru Tahunan di Tengah Meningkatnya Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed

Harga Perak Mencapai Terendah Baru Tahunan di Tengah Meningkatnya Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed
  • Perak turun 4,62% pada hari Rabu ke $58,75, menandai level terendah tahun ini.
  • Pasar meningkatkan prakiraan pada kenaikan suku bunga The Fed nanti tahun ini, mendukung Dolar AS.
  • Para investor tetap berhati-hati menjelang Indeks Harga Belanja Konsumsi Pribadi (Personal Consumption Expenditure/PCE) AS, indikator penting untuk ekspektasi kebijakan moneter.

Harga Perak (XAG/USD) melanjutkan koreksinya pada hari Rabu dan diperdagangkan di sekitar $58,75 pada saat berita ini ditulis, turun 4,62% dalam sehari setelah mencapai level terendah baru yang belum terlihat sejak Desember 2025. Logam putih ini tetap berada di bawah tekanan signifikan karena ekspektasi kebijakan moneter lebih ketat di Amerika Serikat (AS) terus mendukung Dolar AS (USD).

Penurunan terbaru pada Perak terjadi di tengah penilaian ulang agresif terhadap ekspektasi suku bunga. Federal Reserve (The Fed) menyampaikan pesan yang jelas hawkish pada pertemuan terbarunya, memicu spekulasi bahwa biaya pinjaman bisa naik lebih lanjut dalam beberapa bulan mendatang. Menurut CME FedWatch tool, para investor kini menilai peluang tinggi pada kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun.

Latar belakang ini terus mendukung Dolar AS, yang penguatannya membebani logam-logam mulia berdenominasi dolar. Greenback yang lebih kuat membuat Perak menjadi lebih mahal bagi para pembeli internasional, sementara suku bunga yang lebih tinggi mengurangi daya tarik aset-aset yang tidak berimbal hasil seperti Perak.

Imbal hasil obligasi Pemerintah AS juga bergerak naik saat para investor menyesuaikan ekspektasi mereka sebagai respons terhadap risiko inflasi yang persisten. Kekhawatiran terhadap biaya energi yang tinggi dan ketahanan ekonomi AS telah berkontribusi pada pengurangan harapan terhadap siklus pelonggaran jangka pendek.

Perhatian pasar kini beralih ke Indeks Harga Belanja Konsumsi Pribadi (Personal Consumption Expenditure/PCE) yang akan dirilis pada hari Kamis. Data inflasi yang lebih kuat dari prakiraan dapat memperkuat ekspektasi pengetatan moneter lebih lanjut dan menambah tekanan ke bawah pada Perak. Sebaliknya, data inflasi yang lebih lemah mungkin memberikan sedikit kelegaan bagi logam mulia ini dan membantu menstabilkan harga setelah sell-off baru-baru ini.

Pertanyaan Umum Seputar Perak

Perak adalah logam mulia yang banyak diperdagangkan di kalangan investor. Secara historis, perak telah digunakan sebagai penyimpan nilai dan alat tukar. Meskipun kurang populer dibandingkan Emas, investor dapat beralih ke Perak untuk mendiversifikasi portofolio investasi mereka, untuk nilai intrinsiknya atau sebagai lindung nilai potensial selama periode inflasi tinggi. Para investor dapat membeli Perak fisik, dalam bentuk koin-koin atau batangan, atau memperdagangkannya melalui sarana seperti Dana yang Diperdagangkan di Bursa, yang melacak harganya di pasar internasional.

Harga Perak dapat bergerak karena berbagai faktor. Ketidakstabilan geopolitik atau ketakutan akan resesi yang dalam dapat membuat harga Perak meningkat karena statusnya sebagai tempat berlindung yang aman, meskipun pada tingkat yang lebih rendah daripada Emas. Sebagai aset tanpa imbal hasil, Perak cenderung naik dengan suku bunga yang lebih rendah. Pergerakannya juga bergantung pada bagaimana Dolar AS (USD) berperilaku karena aset tersebut dihargai dalam dolar (XAG/USD). Dolar yang kuat cenderung menjaga harga Perak tetap stabil, sedangkan Dolar yang lemah cenderung mendorong harga naik. Faktor lain seperti permintaan investasi, pasokan pertambangan – Perak jauh lebih melimpah daripada Emas – dan tingkat daur ulang juga dapat memengaruhi harga.

Perak banyak digunakan dalam industri, khususnya di sektor-sektor seperti elektronik atau energi surya, karena memiliki salah satu konduktivitas listrik tertinggi dari semua logam – lebih dari Tembaga dan Emas. Lonjakan permintaan dapat meningkatkan harga, sementara penurunan cenderung menurunkannya. Dinamika ekonomi AS, Tiongkok, dan India juga dapat berkontribusi pada perubahan harga: bagi AS dan khususnya Tiongkok, sektor industri besar mereka menggunakan Perak dalam berbagai proses; di India, permintaan konsumen terhadap logam mulia ini yang digunakan dalam perhiasan juga memainkan peran penting dalam menentukan harga.

Harga Perak cenderung mengikuti pergerakan Emas. Ketika harga Emas naik, Perak biasanya mengikutinya, karena statusnya sebagai aset-aset safe haven serupa. Rasio Emas/Perak, yang menunjukkan jumlah ons Perak yang dibutuhkan untuk menyamakan nilai satu ons Emas, dapat membantu menentukan valuasi relatif antara kedua logam tersebut. Beberapa investor mungkin menganggap rasio yang tinggi sebagai indikator bahwa Perak dinilai terlalu rendah, atau Emas dinilai terlalu tinggi. Sebaliknya, rasio yang rendah mungkin menunjukkan bahwa Emas dinilai terlalu rendah relatif terhadap Perak.