- Pemerintah tidak menaikkan tarif PPh Final UMKM, tetapi memperjelas kelompok yang berhak menggunakan fasilitas 0,5%.
- Wajib pajak orang pribadi dengan omzet sampai Rp500 juta per tahun tetap tidak dikenai PPh Final, setara pajak 0%.
- Aturan baru diarahkan untuk mencegah penyalahgunaan fasilitas oleh usaha yang secara ekonomi sudah lebih besar.
Aturan pajak UMKM dalam PP 20/2026 masih menjadi pembahasan ramai di awal Juni, meski beleid tersebut telah ditetapkan dan berlaku sejak 22 April 2026. Perdebatan terutama muncul karena sebagian pelaku usaha menilai fasilitas PPh Final 0,5% dihapus, padahal inti kebijakan ini bukan kenaikan tarif, melainkan pengetatan kelompok yang berhak menggunakan fasilitas tersebut.
Melalui aturan tersebut, tarif PPh Final UMKM tetap dipertahankan sebesar 0,5% dengan batas omzet Rp4,8 miliar per tahun. Namun, fasilitas ini kini diarahkan lebih selektif, terutama untuk wajib pajak orang pribadi, perseroan perorangan, dan koperasi dalam negeri yang memenuhi ketentuan.
Bagi pelaku usaha orang pribadi skala kecil, perlindungan juga tetap berlaku. Omzet sampai Rp500 juta per tahun tidak dikenai PPh Final, atau secara sederhana setara dengan pajak 0%. Dengan ketentuan ini, aturan baru tidak ditujukan untuk menambah beban pedagang kecil, warung, maupun pelaku usaha mikro yang masih berada pada skala awal.
Perubahan ini dapat dibaca sebagai upaya pemerintah membuat insentif pajak UMKM lebih tepat sasaran. Skema 0,5% tetap diberikan kepada pelaku usaha yang memenuhi kriteria, tetapi ruang bagi usaha yang sudah berkembang lebih besar untuk terus menggunakan fasilitas UMKM mulai dipersempit.
Salah satu praktik yang menjadi perhatian adalah pemecahan usaha ke beberapa entitas agar masing-masing tetap berada di bawah ambang omzet Rp4,8 miliar. Dengan pendekatan baru ini, pemerintah berupaya membedakan pelaku UMKM yang benar-benar membutuhkan fasilitas dari usaha yang memanfaatkan celah aturan untuk mempertahankan tarif rendah.
Meski demikian, pengetatan fasilitas pajak tetap menyisakan tantangan bagi pelaku usaha yang mulai berkembang. Persoalan yang muncul tidak hanya berkaitan dengan besaran PPh, tetapi juga kesiapan administrasi, kewajiban PPN, serta potensi perubahan harga jual ketika usaha masuk ke skala yang lebih besar. Karena itu, efektivitas aturan baru akan ikut ditentukan oleh kemudahan kepatuhan dan kepastian pelaksanaan di lapangan.
