Mata uang Asia bergerak dalam kisaran sempit pada perdagangan Kamis karena investor menyeimbangkan membaiknya sentimen geopolitik di Timur Tengah dengan ketidakpastian mengenai langkah kebijakan berikutnya dari Federal Reserve (Fed). Dolar AS tetap berada di dekat level terendah dalam tujuh pekan, sementara pelaku pasar menunggu data terbaru pasar tenaga kerja Amerika Serikat yang dapat membentuk ekspektasi suku bunga untuk September.
Indeks Dolar AS (DXY) bertahan di sekitar 99,7, tetap dekat level terendah sejak pertengahan Juni setelah penurunan dalam beberapa hari terakhir. Pasar semakin berhati-hati karena harapan atas kemajuan negosiasi mengenai Selat Hormuz membantu meredakan kekhawatiran terhadap pasokan energi global, sementara investor enggan mengambil posisi besar di pasar valuta asing menjelang rilis data ekonomi utama Amerika Serikat.
Yen Jepang hampir tidak berubah, dengan pasangan USD/JPY bergerak di sekitar 157,7 setelah sebelumnya didukung oleh intervensi pemerintah. Meskipun Bank of Japan (BoJ) terus mengakui meningkatnya tekanan inflasi domestik, ketidakpastian mengenai kecepatan pengetatan kebijakan di masa depan membatasi penguatan yen lebih lanjut.
Di seluruh kawasan, sebagian besar mata uang utama hanya mengalami pergerakan terbatas. Yuan onshore (USD/CNY) dan yuan offshore (USD/CNH) diperdagangkan relatif datar, sementara won Korea Selatan melemah tipis. Dolar Singapura dan rupee India juga relatif stabil, meskipun rupee terus mengungguli banyak mata uang regional setelah menguat dalam lima dari tujuh sesi perdagangan terakhir, didukung oleh pelemahan harga minyak mentah dan keputusan Reserve Bank of India (RBI) untuk mempertahankan suku bunga repo acuannya di 5,25%.
Dolar Australia turun tipis meskipun data menunjukkan neraca perdagangan Australia kembali mencatat surplus pada Juni. Kenaikan ekspor emas non-moneter dan komoditas lainnya memberikan dukungan bagi perekonomian, tetapi mata uang tersebut belum memperoleh manfaat yang signifikan karena investor global masih berfokus pada perkembangan ekonomi makro yang lebih luas.
Sementara itu, negosiasi antara Iran dan Oman mengenai usulan pengaturan jalur pelayaran melalui Selat Hormuz terus menjadi perhatian pasar. Meskipun para pejabat menyebut pembahasan berlangsung secara konstruktif, sejumlah isu penting masih belum terselesaikan. Belum adanya kesepakatan final membuat pelaku pasar tetap berhati-hati, terutama mengingat pentingnya jalur laut tersebut bagi ekspor minyak dunia.
Mengapa Ini Penting bagi Trader
Katalis utama berikutnya bagi pasar valuta asing adalah data terbaru pasar tenaga kerja Amerika Serikat, termasuk klaim tunjangan pengangguran mingguan dan laporan Nonfarm Payrolls (NFP) pada Jumat. Jika data ketenagakerjaan lebih lemah dari perkiraan, ekspektasi bahwa Fed akan mengambil kebijakan yang lebih dovish dapat semakin menguat, sehingga memperpanjang tekanan terhadap dolar AS dan mendukung mata uang Asia dengan imbal hasil yang lebih tinggi.
Di saat yang sama, setiap kemajuan maupun kemunduran dalam negosiasi mengenai Selat Hormuz dapat dengan cepat memengaruhi harga minyak, sentimen risiko kawasan, dan mata uang yang terkait dengan komoditas. Bagi trader di Asia Tenggara, memantau perkembangan geopolitik dan data ekonomi AS akan tetap menjadi hal yang sangat penting karena kedua faktor tersebut kemungkinan besar akan menjadi pendorong utama volatilitas pasangan mata uang seperti USD/JPY, AUD/USD, USD/SGD, dan USD/CNH dalam beberapa sesi mendatang.
