Mata Uang Asia Menguat Seiring Turunnya Harga Minyak Menekan Dolar AS, Sementara Rupiah Melemah Setelah Pergantian Pimpinan Bank Indonesia

Mata Uang Asia Menguat Seiring Turunnya Harga Minyak Menekan Dolar AS, Sementara Rupiah Melemah Setelah Pergantian Pimpinan Bank Indonesia

Sebagian besar mata uang Asia menguat terhadap dolar AS pada 27 Juli setelah penurunan harga minyak mengurangi permintaan terhadap dolar sebagai aset safe haven menjelang keputusan kebijakan Federal Reserve pekan ini. US Dollar Index turun 0,3% pada perdagangan Asia, sementara EUR/USD naik 0,3% dan USD/JPY turun 0,3% ke sekitar 163,4, level terendah dolar terhadap yen dalam lebih dari dua pekan.

Mengapa Dolar AS Melemah

Harga minyak Brent turun lebih dari 5% setelah Amerika Serikat menghentikan sementara operasi militernya terhadap Iran dan Teheran menyatakan akan menangguhkan serangan balasan selama jeda tersebut tetap berlaku. Perkembangan ini terjadi bersamaan dengan perubahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan Federal Reserve, karena sebagian investor menilai harga minyak yang lebih rendah berpotensi mengurangi tekanan inflasi.

Menurut CME FedWatch Tool, kontrak berjangka suku bunga Fed menunjukkan probabilitas 33,7% untuk kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pekan ini, turun dari 37,4% pada hari Jumat.

Pergerakan Mata Uang Regional

  1. Dolar Singapura (SGD) diperdagangkan relatif stabil setelah Monetary Authority of Singapore (MAS) mengumumkan sedikit peningkatan pada laju apresiasi pita kebijakan S$NEER, sementara lebar dan titik tengah pita tetap dipertahankan.
  2. Rupiah Indonesia melemah sekitar 0,5% setelah muncul laporan bahwa Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengundurkan diri. Destry Damayanti ditunjuk sebagai gubernur sementara, dan perubahan kepemimpinan tersebut mendorong perhatian pasar terhadap prospek kebijakan moneter serta arah kepemimpinan bank sentral.
  3. Di kawasan lainnya, yuan onshore dan yuan offshore masing-masing menguat sekitar 0,2%, sementara dolar Taiwan dan rupee India juga mencatat kenaikan tipis terhadap dolar AS.

Agenda Pekan Ini

Sejumlah keputusan penting dari bank sentral dijadwalkan berlangsung pekan ini, termasuk dari Federal Reserve, Bank of England (BoE), dan Bank of Japan (BoJ), yang berpotensi meningkatkan volatilitas di pasar valuta asing.

Pelaku pasar juga diperkirakan akan mencermati sinyal dari Bank of Japan mengenai proses normalisasi kebijakan moneternya. Pergerakan terbaru rupiah Indonesia diperkirakan tetap menjadi salah satu fokus pasar di samping perkembangan dolar AS secara lebih luas.

Sumber: Reuters, CME FedWatch Tool, serta pernyataan resmi dari Monetary Authority of Singapore (MAS) dan Bank Indonesia. Artikel ini disusun dengan bantuan AI dan telah ditinjau oleh editor. Artikel ini disediakan semata-mata untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi maupun keuangan. Pasar valuta asing dapat mengalami volatilitas yang tinggi, terutama di sekitar pengumuman kebijakan bank sentral.