Neraca perdagangan Indonesia mencatat defisit US$450 juta pada Juni, menyempit dari US$1,61 miliar pada Mei dan lebih kecil daripada prakiraan pasar sebesar US$790 juta.
Ekspor meningkat 8,84% secara tahunan menjadi US$25,46 miliar, berbalik dari penurunan 5,73% pada bulan sebelumnya dan jauh melampaui ekspektasi kenaikan 0,25%.
Namun, impor melonjak 34,27% menjadi US$25,91 miliar, lebih cepat dibandingkan pertumbuhan 22,16% pada Mei dan prakiraan 25,3%. Kenaikan impor terjadi secara luas, termasuk lonjakan impor migas sebesar 105,15% secara tahunan.
Meski membukukan defisit selama dua bulan berturut-turut, neraca perdagangan Indonesia masih mencatat surplus kumulatif US$3,58 miliar sepanjang Semester I 2026.
Reaksi Pasar
USD/IDR berada di 17.993 yang tidak menunjukkan reaksi signifikan terhadap rilis data Neraca Perdagangan Indonesia. Dalam basis harian, pasangan mata uang ini turun 0,10% dan sempat mencatatkan terendah hari di 17.969 sebelum rilis data.
Indikator Ekonomi
Neraca Perdagangan
Neraca Perdagangan yang dirilis oleh Statistik Indonesia adalah keseimbangan antara ekspor dan impor barang dan jasa secara keseluruhan. Nilai yang positif menunjukkan surplus perdagangan, sedangkan nilai negatif menunjukkan defisit perdagangan. Jika permintaan dalam pertukaran untuk ekspor Indonesia yang stabil terlihat, Rupiah akan menerima efek positif (atau bullish), sebaliknya akan memiliki efek negatif (atau bearish).
Baca lebih lanjutRilis terakhir: Sen Agu 03, 2026 04.00
Frekuensi: Bulanan
Aktual: $-0.45M
Konsensus: $-0.79M
Sebelumnya: $-1.61M
Sumber:
