Para analis Societe Generale mencatat adanya kelegaan baru-baru ini untuk Rupee India setelah intervensi agresif RBI untuk menjaga nilainya di bawah 95,00. Fokus tertuju pada keputusan kebijakan hari Jumat, dengan kenaikan 25 bp dipandang mungkin mengingat pengetatan regional. Namun, sumber menyebutkan bahwa RBI lebih memilih operasi Valas dan kebijakan arus masuk daripada kenaikan suku bunga untuk mendukung INR.
Pilihan Kebijakan antara kenaikan Suku Bunga dan Valas
"Di pasar negara berkembang, kelegaan pada INR menimbulkan pertanyaan apakah RBI akan melewatkan pertemuan minggu ini setelah melakukan intervensi agresif pekan lalu untuk menahan rupee kembali di bawah 95,00."
"Selain itu, RBI mentransfer rekor dividen sebesar INR2,87 triliun (US$30,1 miliar) kepada pemerintah untuk tahun 2026 tetapi pasar obligasi memilih mengabaikannya, menjaga imbal hasil IGB bertenor 10 tahun di sekitar 7,00%."
"Fokus beralih ke keputusan suku bunga pada hari Jumat. Rangkaian level-level terendah rekor mata uang, kenaikan suku bunga di Indonesia, dan pergeseran hawkish di Korea Selatan telah menurunkan ambang batas bagi RBI untuk mengambil sikap dan berpotensi mengetatkan setidaknya 25 bp (pandangan SG)."
"Sumber mengindikasikan bahwa RBI tidak cenderung mempertahankan mata uang dengan menaikkan biaya pinjaman dan lebih memilih intervensi Valas serta kebijakan-kebijakan untuk menarik arus masuk dolar agar INR menguat dan meredam efek inflasi energi impor."
"Data PDB Kuartal 1 pada hari Jumat diprakirakan akan melambat menjadi 6,8% y/y dari 7,8% di Kuartal IV."
(Artikel ini dibuat dengan bantuan alat Kecerdasan Buatan dan telah ditinjau oleh editor.)
