- Rupee India menguat terhadap Dolar AS saat harga minyak terus turun.
- Gubernur RBI, Malhotra, meredam kekhawatiran kenaikan suku bunga.
- Dolar AS turun tipis menjelang data Inflasi PCE AS untuk bulan Mei.
Rupee India (INR) diperdagangkan menguat terhadap Dolar AS (USD) pada hari Kamis. Pasangan mata uang USD/INR turun ke sekitar 94,30 saat mata uang India menguat akibat penurunan harga minyak lebih lanjut.
Harga Minyak WTI kembali mendekati level-level sebelum perang Timur Tengah karena lalu lintas melalui Selat Hormuz, titik kritis bagi hampir 20% pasokan energi global, mulai normal kembali, setelah penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) dan kemajuan dalam perundingan teknis menuju kesepakatan nuklir antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Pada saat berita ini ditulis, harga Minyak WTI diperdagangkan turun 0,75% ke sekitar $69,25. Kontrak Minyak Mentah MCX yang jatuh tempo pada 20 Juli turun 1,6% ke sekitar 6.563.
Mata uang dari negara-negara seperti India, yang sangat bergantung pada impor minyak untuk memenuhi kebutuhan energi mereka, menguat saat harga minyak turun secara signifikan.
Salah satu anggota penetapan suku bunga Reserve Bank of India (RBI) menyatakan bahwa ekonomi India bisa melampaui prakiraan pertumbuhan bank sentral 6,6% dan naik menjadi 7% jika harga minyak tetap rendah di sekitar $70,00, lapor Bloomberg.
Dolar AS yang Sedikit Melemah Juga menjadi Beban bagi USD/INR
Dalam perdagangan sesi Asia, Dolar AS menunjukkan kinerja yang lesu sementara para investor menunggu data Indeks Harga Belanja Konsumsi Pribadi (Personal Consumption Expenditure/PCE) AS untuk bulan Mei, yang akan dipublikasikan pada pukul 12:30 GMT (19:30 WIB).
Pada saat berita ini ditulis, Indeks Dolar AS (DXY), yang melacak nilai Greenback terhadap enam mata uang utama, diperdagangkan sedikit lebih rendah di sekitar 101,52, namun masih dekat dengan level tertinggi lebih dari setahun di 101,80 yang dicapai pada hari Rabu.
Para investor akan memerhatikan dengan seksama data inflasi PCE AS karena data ini diprakirakan akan memengaruhi ekspektasi pasar terhadap prospek kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed). Inflasi PCE inti AS, yang merupakan pengukur inflasi yang disukai The Fed, diprakirakan akan naik menjadi 3,4% Tahun-ke-Tahun (YoY) dari 3,3% pada bulan April.
Tanda-tanda percepatan tekanan harga akan semakin memperkuat prospek The Fed yang hawkish. Saat ini, CME FedWatch tool menunjukkan bahwa peluang The Fed menaikkan suku bunga tahun ini hampir 82%. Sedangkan kemungkinan setidaknya dua kenaikan suku bunga adalah 42,2%.
FII Terus Mengurangi Kepemilikan di Pasar Saham India
Minat investor asing terhadap pasar saham India tetap rendah meskipun harga minyak telah kembali mendekati level-level sebelum perang dan Reserve Bank of India meredam kekhawatiran kenaikan suku bunga dalam waktu dekat.
Pada hari Rabu, Investor Institusional Asing (Foreign Institutional Investors/FII) melepas kepemilikan senilai Rs. 1.843,40 crore di pasar saham India. Pada hari yang sama, Gubernur RBI, Sanjay Malhotra, mengatakan, saat berbicara kepada ET Now, bahwa masih "terlalu dini" untuk mempertimbangkan kenaikan suku bunga, dengan alasan bahwa bank sentral tidak melihat tanda-tanda inflasi yang disebabkan krisis energi menjadi meluas. "Jika kami ingin mempersiapkan pasar untuk menghadapi kenaikan suku bunga, kami akan mengubah sikap dari netral menjadi restriktif," tambah Malhotra.
Analisis Teknis: USD/INR Tetap di Bawah EMA 20-Hari

USD/INR diperdagangkan lebih rendah di sekitar 94,25, mempertahankan sentimen bearish jangka pendek karena harga spot berada secara tegas di bawah Exponential Moving Average (EMA) 20-hari di 94,86.
Relative Strength Index (14) di sekitar 41 mengindikasikan tekanan jual masih ada namun belum mencapai kondisi oversold, mengindikasikan bahwa para penjual masih unggul sambil memberikan ruang untuk perpanjangan penurunan lebih lanjut sebelum muncul sinyal kelelahan.
Di sisi atas, resistance awal disediakan oleh EMA 20-hari di 94,86, dengan batas bawah pola Descending Triangle di sekitar 95,23 bertindak sebagai batas berikutnya, sebelum hambatan yang lebih jauh di sekitar 97,0541 dari asal garis tren. Jika turun, pasangan mata uang ini akan mengekspos level tertinggi 15 April di 93,67 jika melanjutkan penurunan di bawah level terendah 7 Mei di 94,03.
(Analisis teknis dalam berita ini ditulis dengan bantuan alat AI.)
