Rupee India Pangkas sebagian Kenaikannya, RBI Kembali Pertahankan Status Quo

Rupee India Pangkas sebagian Kenaikannya, RBI Kembali Pertahankan Status Quo
  • Rupee India memangkas sebagian kenaikan sebelumnya terhadap Dolar AS setelah keputusan kebijakan RBI.
  • RBI mempertahankan Suku Bunga Repo tetap di 5,25% untuk empat kali berturut-turut.
  • Harga minyak turun tajam di tengah harapan kesepakatan AS-Iran.

Rupee India (INR) memangkas sebagian kenaikannya setelah pembukaan yang kuat terhadap Dolar AS (USD), menyusul keputusan kebijakan moneter Reserve Bank of India (RBI). USD/INR dibuka turun tajam mendekati level terendah bulanan di sekitar 94,80 akibat harga minyak yang lebih rendah, tetapi pasangan mata uang ini berhasil memangkas sebagian penurunan sebelumnya dan rebound ke dekat 95,12.

RBI mempertahankan Suku Bunga Repo tetap di 5,25%, sesuai dengan yang diprakirakan, untuk empat kali berturut-turut, dan mempertahankan sikap "netral" terhadap kebijakan moneter.

Bank sentral India diprakirakan mempertahankan status quo karena inflasi ritel, yang diukur melalui Indeks Harga Konsumen (IHK/CPI), masih berada jauh di dalam kisaran toleransi RBI sebesar 2%–6%, meski meningkat menjadi 4,4% secara tahunan (YoY) pada Juni.

Gubernur RBI, Sanjay Malhotra, memperingatkan bahwa konflik di Asia Barat terus membebani perekonomian global, dengan harga minyak mentah, nilai tukar, dan pasar keuangan yang tetap volatil. Terkait inflasi, Malhotra mengatakan bahwa kenaikan harga bahan bakar dan pangan sejauh ini baru menunjukkan sedikit tanda meluas ke komponen harga lainnya. Ia menambahkan bahwa inflasi inti diprakirakan meningkat menjadi 5,9% secara tahunan (YoY) pada kuartal III, sebelum mencapai puncaknya dan mulai melandai ke 5,5% YoY pada kuartal IV.

Terkait prospek ekonomi, Gubernur RBI, Malhotra, telah meyakinkan bahwa aktivitas ekonomi tetap tangguh, dengan menyatakan, "Perekonomian India berkinerja lebih baik dari yang diprakirakan pada Kuartal I tahun fiskal 2027."

Harapan Kesepakatan AS-Iran Dorong Harga Minyak Turun Lebih Jauh

Harga minyak melanjutkan penurunannya pada hari Rabu di tengah harapan bahwa AS dan Iran akan segera mencapai kesepakatan. Pada hari Selasa, Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, mengatakan dalam sebuah wawancara dengan CNBC bahwa Washington dapat mencapai kesepakatan dengan Iran mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur vital bagi hampir 20% pasokan energi global, dalam dua hari ke depan.

Pada sesi pembukaan, kontrak MCX Crude Oil yang berakhir pada 19 Agustus diperdagangkan 1,6% lebih rendah ke dekat Rs. 7.100.

Sementara itu, Qatar juga mengonfirmasi pada hari Selasa bahwa para mediator termasuk Qatar, Pakistan, dan Oman berkoordinasi erat untuk memfasilitasi negosiasi dan pertukaran draf antara kedua belah pihak.

Namun, pasar keuangan tetap tidak yakin apakah kesepakatan AS-Iran mengenai Hormuz akan memulihkan kebebasan pergerakan melalui jalur tersebut.

Data Ketenagakerjaan ADP AS Menjadi Titik Fokus

Di AS, para investor menantikan data Perubahan Ketenagakerjaan ADP AS untuk bulan Juli, yang akan dirilis pada pukul 12:15 GMT (19:15 WIB).

Para ekonom di Deutsche Bank memprakirakan laporan pasar tenaga kerja AS sedikit lebih kuat pada hari Rabu, memproyeksikan payrolls swasta naik sebesar +65 ribu setelah sebelumnya +49 ribu. Data ketenagakerjaan sektor swasta ini diprakirakan akan mempengaruhi ekspektasi suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Analisis Teknis: USD/INR Bisa Turun Lebih Jauh saat di Bawah 94,80

USD/INR diperdagangkan lebih rendah di sekitar 95,12 pada saat berita ini ditulis. Pasangan mata uang ini masih berada di bawah tekanan dalam jangka pendek, bertahan di bawah Exponential Moving Average (EMA) 20-periode di 95,6394, yang mengindikasikan bahwa rebound terbaru masih menemukan penawaran jual.

Relative Strength Index (RSI) di dekat 42,00 tetap berada di wilayah bearish namun masih di atas zona jenuh jual, mengisyaratkan bias pelemahan masih berlanjut sambil tetap memberi ruang untuk pelemahan lebih lanjut sebelum kondisi yang terlalu ekstrem muncul.

Di sisi atas, resistance awal berada di EMA 20-hari di sekitar 95,64. Level ini perlu ditembus kembali untuk meredakan tekanan bearish jangka pendek dan membuka peluang pemulihan yang lebih kuat menuju 96,00. Sementara itu, pasangan mata uang ini berisiko turun ke level terendah Juni di 94,15 jika gagal bertahan di atas level terendah harian di sekitar 94,80.

(Analisis teknis dalam berita ini ditulis dengan bantuan alat AI. Pelajari lebih lanjut.)

Indikator Ekonomi

Perubahan Ketenagakerjaan ADP

Perubahan Ketenagakerjaan ADP merupakan pengukur ketenagakerjaan di sektor swasta yang dirilis oleh pemroses payrolls terbesar di AS, Automatic Data Processing Inc. Alat ini mengukur perubahan jumlah orang yang bekerja secara swasta di AS. Secara umum, kenaikan indikator ini memiliki implikasi positif bagi belanja konsumen dan merupakan stimulator pertumbuhan ekonomi. Jadi, pembacaan yang tinggi secara tradisional dianggap sebagai bullish bagi Dolar AS (USD), sementara pembacaan yang rendah dianggap bearish.

Baca lebih lanjut

Rilis berikutnya Rab Agu 05, 2026 12.15

Frekuensi: Bulanan

Konsensus: 70Rb

Sebelumnya: 98Rb

Sumber: ADP Research Institute

Pedagang sering mempertimbangkan data ketenagakerjaan dari ADP, penyedia payrolls terbesar di Amerika ini, melaporkan sebagai pertanda dari rilis Biro Statistik Tenaga Kerja tentang Nonfarm Payrolls (biasanya diterbitkan dua hari kemudian), karena korelasi antara keduanya. Terjadinya tumpang tindih kedua seri tersebut cukup tinggi, tetapi pada bulan-bulan tertentu, perbedaannya bisa sangat besar. Alasan lain pedagang Valas mengikuti laporan ini sama dengan NFP – pertumbuhan angka ketenagakerjaan yang kuat dan terus-menerus meningkatkan tekanan inflasi, dan bersamaan dengan itu, kemungkinan bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga. Angka aktual yang mengalahkan konsensus cenderung membuat USD bullish.