Societe Generale mencatat fungsi reaksi Bank Indonesia’s (BI) didorong oleh Rupiah Indonesia (IDR) dan stabilitas nilai tukar. Laporan tersebut mengatakan Rupiah menghadapi tekanan dari Dolar AS (USD) yang lebih kuat dan penetapan harga Federal Reserve (The Fed) yang hawkish, dengan tekanan di sekitar USD/IDR 18.000. BI siap bertindak jika pelemahan mata uang menjadi tidak teratur atau mengancam ekspektasi inflasi, dengan mempertahankan sikap hawkish.
Pelemahan Mata Uang Menjaga Risiko Kenaikan Suku Bunga Tetap Hidup
"Selain itu, BI masih memiliki ruang untuk mengelola tekanan depresiasi mata uang melalui instrumen non-suku bunga."
"Kami memprakirakan BI akan mempertahankan bias kebijakan hawkish, menekankan kesediaannya untuk bertindak lagi jika pelemahan rupiah menjadi tidak teratur atau mulai mengancam ekspektasi inflasi."
"Rupiah masih berada di bawah tekanan dari Dolar AS yang lebih kuat dan penetapan harga Fed yang lebih hawkish, dengan tekanan baru di sekitar USD/IDR 18.000 pada awal Juli."
"Pertama, jika depresiasi mata uang semakin cepat meskipun ada intervensi, BI mungkin perlu menaikkan suku bunga untuk membangun kembali carry, menstabilkan ekspektasi, dan membatasi arus keluar portofolio."
"Kedua, BI sudah mengetatkan kebijakan secara signifikan dalam waktu singkat, dan trade-off makroekonomi menjadi semakin terlihat. Keyakinan konsumen turun menjadi 117,8 pada Juni dari 120,9 pada Mei, meskipun masih berada di wilayah optimistis."
"Ketiga, kenaikan imbal hasil AS yang kembali terjadi, The Fed yang lebih hawkish, harga minyak yang lebih tinggi, atau memburuknya neraca eksternal Indonesia dapat memaksa BI untuk memprioritaskan stabilitas mata uang di atas pertumbuhan."
(Artikel ini dibuat dengan bantuan alat Kecerdasan Buatan dan ditinjau oleh editor. Pelajari lebih lanjut.)
