Elias Haddad dari Brown Brothers Harriman (BBH) melaporkan bahwa Rupiah Indonesia (IDR) dan saham Jakarta berkinerja lebih rendah setelah Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, secara tak terduga mengundurkan diri dua tahun sebelum masa jabatannya berakhir, memicu kekhawatiran terhadap campur tangan politik. Ketika independensi BI tengah diawasi, Haddad berpendapat bahwa pertumbuhan yang mendukung, metrik-metrik eksternal yang masih dapat dikelola, dan kondisi undervalued akan membatasi penurunan lebih lanjut Rupiah.
Kepergian Gubernur Memicu Kekhawatiran terhadap Independensi Kebijakan
"IDR dan indeks harga saham Jakarta berkinerja lebih rendah. Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, mengundurkan diri karena alasan "pribadi" yang tidak dijelaskan, dua tahun lebih awal dari berakhirnya masa jabatan lima tahun keduanya."
"Pengunduran dirinya meningkatkan risiko campur tangan politik dalam kebijakan moneter."
"Independensi BI sudah berada di bawah pengawasan setelah mandatnya diperluas untuk mendukung pertumbuhan, memicu kekhawatiran atas dominasi fiskal."
"Pengawasan parlemen yang lebih luas dan penunjukan keponakan Presiden Prabowo ke dalam dewan BI semakin meningkatkan persepsi pengaruh politik."
“Namun demikian, ruang pelemahan IDR terbatas. Kombinasi pertumbuhan dan inflasi Indonesia tetap mendukung, defisit transaksi berjalan mendekati nol, utang luar negeri masih dapat dikelola, kondisi fiskal tidak mengkhawatirkan, cadangan Valas memadai, dan IDR dinilai jauh di bawah nilai wajarnya.”
(Artikel ini dibuat dengan bantuan alat Kecerdasan Buatan dan ditinjau oleh editor. Pelajari lebih lanjut.)
