- Rupiah masih melemah di sekitar Rp17.700 per Dolar AS pada perdagangan Jumat.
- Kenaikan BI-Rate 50 bp ke 5,25% memberi jangkar kebijakan, tetapi belum cukup membalikkan tekanan.
- Risiko domestik, arus modal keluar, defisit transaksi berjalan, dan harga minyak tinggi masih membayangi Rupiah.
Rupiah kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Jumat, hari terakhir pekan ini. Pada akhir sesi Asia, pasangan mata uang USD/IDR bergerak di sekitar Rp17.716-Rp17.719 per Dolar AS, setelah sepanjang sesi diperdagangkan dalam rentang Rp17.626,9 hingga Rp17.726,1. Posisi ini membuat Rupiah tetap dekat dengan area psikologis Rp17.700 dan belum jauh dari batas atas 52 minggu di sekitar Rp17.800.
Tekanan juga terlihat dari kurs transaksi Bank Indonesia. Kurs jual Dolar AS tercatat di Rp17.761,37, sementara kurs beli berada di Rp17.584,63. Angka ini menunjukkan tekanan terhadap Rupiah masih bertahan di level tinggi, meski BI baru saja menaikkan suku bunga secara agresif.
Data Domestik Menambah Beban
Dari dalam negeri, data terbaru belum banyak memberi dukungan. Neraca transaksi berjalan Indonesia kuartal I 2026 mencatat defisit US$4,0 miliar, melebar dari defisit sebelumnya US$2,5 miliar. Defisit yang lebih besar ini mempertebal perhatian pasar terhadap kebutuhan pembiayaan eksternal Indonesia di tengah arus modal yang masih rapuh.
Pada saat yang sama, pertumbuhan uang beredar M2 melambat ke 9,2% secara tahunan pada April, dari 9,7% sebelumnya. Perlambatan ini mengindikasikan likuiditas domestik mulai lebih moderat, sejalan dengan arah kebijakan moneter yang kini lebih ketat.
BI-Rate Naik, tetapi Pemulihan Rupiah Belum Aman
Christopher Wong dari OCBC menilai Rupiah berpeluang mendapat penopang jangka pendek setelah BI menaikkan BI-Rate 50 bp ke 5,25%. Langkah yang lebih agresif dari prakiraan ini mempertegas komitmen BI menjaga stabilitas Valas, terutama jika disertai intervensi dan komunikasi kebijakan yang konsisten.
Namun, ruang pemulihan Rupiah masih bergantung pada meredanya tekanan eksternal, terutama harga minyak, risiko geopolitik, dan imbal hasil global. Secara teknis, momentum penguatan USD/IDR mulai melemah setelah RSI turun dari area jenuh beli dan muncul pola bearish engulfing. Support dipantau di 17.509 dan 17.350, sementara resistance berada di 17.700 dan 17.760.
Sementara itu, Radhika Rao dari DBS Group Research menilai kenaikan BI-Rate mencerminkan langkah pre-emptive untuk menjaga stabilitas makro, menopang Rupiah, dan menahan risiko inflasi impor. DBS melihat bias kebijakan BI kini lebih ketat, dengan ruang kenaikan 50 bp lagi ke 5,75% pada paruh kedua tahun jika Rupiah terus melemah dan ketegangan geopolitik tetap tinggi.
Tekanan Lebih Banyak Datang dari Faktor Domestik
Sejumlah analis menilai tekanan Rupiah saat ini belum sebanding dengan krisis 1998. Saat itu, Rupiah terdepresiasi sekitar 500% dalam setahun, jauh lebih dalam dibanding pelemahan sekitar 7,5%-8,5% dalam 12 bulan terakhir ini. Namun, akselerasi pelemahan beberapa bulan terakhir tetap membuat pasar lebih hati-hati menilai risiko Indonesia.
Tekanan Rupiah juga tidak sepenuhnya berasal dari penguatan Dolar AS, karena sejumlah indikator Dolar masih berada di bawah level awal 2025. Hal ini menunjukkan pelemahan Rupiah lebih banyak dipengaruhi faktor domestik, terutama arus modal keluar, persepsi risiko, dan kebutuhan kepastian kebijakan. Investor asing masih mengurangi eksposur di SBN dan saham, dengan porsi asing di SBN turun dari sekitar 38% sebelum pandemi menjadi 12,75% per akhir April 2026, sementara net sell asing YTD di saham mencapai Rp41,32 triliun atau sekitar US$2,34 miliar.
Risiko Hormuz dan Data AS Tetap Jadi Katalis
Dari eksternal, perang AS-Iran masih menjaga premi risiko energi. Negosiasi yang dimediasi Pakistan belum menghasilkan terobosan, sementara arus kapal melalui Selat Hormuz tetap jauh di bawah normal. ADNOC bahkan memperingatkan aliran minyak penuh lewat jalur tersebut baru bisa pulih pada kuartal I atau II 2027, meski konflik segera berakhir.
Harga minyak yang bertahan di atas US$100 per barel ikut menambah beban bagi Rupiah. WTI Juli 2026 tercatat di US$107,77 per barel, sementara Brent Juli 2026 berada di US$104,61. Level ini menjaga kekhawatiran terhadap inflasi impor, subsidi energi, ruang fiskal, dan neraca eksternal Indonesia.
Dari AS, data semalam memberi sinyal campuran. Klaim Pengangguran Awal turun ke 209 ribu dan PMI Manufaktur S&P Global naik ke 55,3, tetapi PMI jasa turun ke 50,9 dan Survei Manufaktur The Fed Philadelphia jatuh ke -0,4. Ke depan, pasar akan mencermati pidato Christopher Waller, Michigan Consumer Sentiment, ekspektasi inflasi konsumen, serta seremoni pelantikan Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed, yang dapat memengaruhi arah Dolar AS, imbal hasil global, dan aset emerging market seperti Rupiah.
Indikator Ekonomi
Upacara pengambilan sumpah Ketua The Fed Warsh
Presiden AS Donald Trump melantik Kevin Warsh sebagai ketua Federal Reserve (The Fed) berikutnya di Gedung Putih. Warsh akan menjadi ketua bank sentral ke-17 dan menggantikan Jerome Powell, yang menjabat sementara setelah masa kepemimpinan resminya berakhir pada 15 Mei.
Baca lebih lanjut