- Rupiah kembali ke sekitar Rp17.381 pada akhir sesi Asia Jumat, mendekati batas atas rentang harian USD/IDR dan masih berada dekat area rekor terlemah.
- BI dan pemerintah memperkuat langkah stabilisasi, mulai dari intervensi pasar valas hingga rencana pengaktifan kembali bond stabilization fund.
- Fokus pasar bergeser ke NFP AS malam ini, setelah data tenaga kerja semalam belum cukup kuat untuk mengubah ekspektasi suku bunga The Fed.
Rupiah kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Jumat, setelah optimisme atas peluang damai AS-Iran dibayangi bentrokan baru di kawasan Selat Hormuz. Pada akhir sesi Asia, Rupiah melemah 0,73% ke sekitar Rp17.381, mendekati batas atas rentang harian pasangan mata uang USD/IDR di Rp17.391 dan dan masih tidak jauh dari area rekor terlemah historis Rupiah di atas Rp17.400 per Dolar AS. Pergerakan ini menunjukkan penguatan Rupiah pada Kamis belum cukup kuat untuk membalik tren rapuh yang terbentuk dalam beberapa pekan terakhir.
BI-Pemerintah Perkuat Pertahanan Rupiah di Tengah Gejolak Global
Tekanan juga terlihat dari kurs acuan BI. JISDOR 7 Mei berada di Rp17.362 per Dolar AS, turun dari Rp17.405 pada 6 Mei dan Rp17.425 pada 5 Mei, sementara Kurs Transaksi BI 8 Mei mencatat kurs jual USD di Rp17.448,81 dan kurs beli di Rp17.275,19. BI menegaskan kesiapan intervensi besar di pasar domestik maupun offshore secara “around the clock”, sambil menurunkan ambang pembelian Dolar AS yang wajib memakai dokumen underlying menjadi US$25.000 per pihak per bulan dari sebelumnya US$50.000.
Gubernur BI Perry Warjiyo menyebut tekanan Rupiah dipengaruhi ketegangan Timur Tengah, suku bunga The Fed yang masih tinggi, arus keluar dari emerging market, serta pembayaran utang valas korporasi pada April-Mei. Kombinasi ini membuat tekanan kurs tidak hanya bersifat sentimen, tetapi juga berasal dari kebutuhan Dolar AS yang riil.
Dari sisi fiskal, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan KSSK masih melihat stabilitas sektor fiskal, moneter, dan keuangan pada kuartal I 2026, meski volatilitas global meningkat akibat konflik Timur Tengah dan harga energi. Pemerintah juga menyiapkan stimulus tambahan pada kuartal II serta berencana mengaktifkan kembali bond stabilization fund untuk menyerap SBN di pasar sekunder, langkah yang penting untuk meredam tekanan yield, arus keluar modal, dan permintaan Dolar AS.
Risiko Hormuz Mengangkat Harga Minyak
Risiko geopolitik kembali meningkat setelah AS dan Iran terlibat bentrokan baru di kawasan Teluk, meski Presiden Donald Trump menyatakan gencatan senjata masih berlaku. Pasar membaca insiden ini sebagai tanda bahwa jalur diplomasi masih rapuh, sehingga harga minyak kembali naik, dengan Brent di sekitar US$101,41 per barel dan WTI di US$95,84 per barel. Bagi Rupiah, minyak tinggi memperbesar kekhawatiran terhadap inflasi impor, kebutuhan valas migas, dan beban fiskal energi.
Cadangan Devisa Turun, Harga Properti Melambat
Sementara itu, data domestik memberi sinyal campuran. Cadangan devisa April turun ke US$146,2 miliar dari US$148,2 miliar, menandakan bantalan valas masih besar tetapi sedikit menipis di tengah kebutuhan stabilisasi kurs. Sementara itu, Indeks Harga Properti kuartal I melambat ke 0,62% YoY dari 0,83%, menunjukkan tekanan harga lebih terkendali, tetapi permintaan properti belum cukup kuat.
Pasar Menunggu NFP AS
Dari Amerika Serikat, data semalam memberi sinyal beragam. Klaim Tunjangan Pengangguran awal naik ke 200 ribu dari 190 ribu, tetapi masih lebih rendah dari konsensus 205 ribu, menandakan pasar tenaga kerja belum melemah secara signifikan. Di sisi lain, Biaya Tenaga Kerja per Unit Kuartal 1 turun ke 2,3% dari 4,4%, memberi indikasi tekanan biaya tenaga kerja mulai mereda.
Fokus utama pasar malam ini tertuju pada Nonfarm Payrolls (NFP) April, yang diprakirakan turun ke 62 ribu dari 178 ribu. Realisasi yang lebih lemah dapat membuka kembali ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed dan meredakan tekanan Dolar AS. Sebaliknya, angka yang lebih kuat berpotensi menjaga narasi suku bunga tinggi lebih lama, sehingga ruang pemulihan Rupiah tetap terbatas.
Indikator Ekonomi
Nonfarm Payroll (NFP)
Rilis Nonfarm Payrolls menyajikan jumlah pekerjaan baru yang diciptakan di AS selama bulan sebelumnya di semua bisnis non pertanian; dirilis oleh Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS). Perubahan bulanan dalam payrolls bisa sangat fluktuatif. Angka tersebut juga tunduk pada tinjauan yang kuat, yang juga dapat memicu volatilitas di bursa Forex. Secara umum, pembacaan yang tinggi dipandang sebagai bullish bagi Dolar AS (USD), sementara pembacaan yang rendah dipandang sebagai bearish, meskipun tinjauan bulan sebelumnya dan Tingkat Pengangguran sama relevannya dengan angka utama. Oleh karena itu, reaksi pasar bergantung pada bagaimana pasar menilai semua data yang terkandung dalam laporan BLS secara keseluruhan.
Baca lebih lanjutRilis berikutnya Jum Mei 08, 2026 12.30
Frekuensi: Bulanan
Konsensus: 62Rb
Sebelumnya: 178Rb
Sumber: US Bureau of Labor Statistics
Laporan lapangan pekerjaan bulanan Amerika dianggap sebagai indikator ekonomi paling penting bagi pedagang valas. Dirilis pada hari Jumat pertama setelah bulan yang dilaporkan, perubahan jumlah posisi berkorelasi erat dengan kinerja ekonomi secara keseluruhan dan dipantau oleh pembuat kebijakan. Pekerjaan penuh adalah salah satu mandat Federal Reserve dan mempertimbangkan perkembangan di pasar tenaga kerja saat menetapkan kebijakannya, sehingga berdampak pada mata uang. Meskipun beberapa indikator utama membentuk perkiraan, Nonfarm Payrolls cenderung mengejutkan pasar dan memicu volatilitas yang substansial. Angka aktual yang mengalahkan konsensus cenderung membuat USD bullish.
