- Rupiah melemah 0,48% ke 17.671 pada Kamis, meski BI telah menaikkan suku bunga 50 bp ke 5,25%.
- Kurs transaksi BI menunjukkan titik tengah di sekitar Rp17.685 per Dolar AS.
- Tekanan masih datang dari ekspektasi suku bunga tinggi The Fed, harga minyak di atas US$100, dan risiko geopolitik Timur Tengah.
Rupiah (IDR) masih bergerak defensif pada perdagangan Kamis, menunjukkan bahwa keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan secara agresif belum langsung cukup untuk membalikkan arah pasar. Di akhir sesi Asia, pasangan mata uang USD/IDR naik 0,48% ke 17.671, setelah bergerak dalam rentang 17.598-17.745.
Pergerakan tersebut menandakan pasar masih menguji daya tahan Rupiah setelah keputusan BI. Sebelum pengumuman suku bunga, Rupiah sempat menyentuh area terlemah di sekitar 17.745-17.760 per Dolar AS. Setelah keputusan tersebut, tekanan memang sempat mereda dan Rupiah bergerak kembali ke area 17.600-an hingga penutupan perdagangan Rabu, tetapi pemulihan belum cukup kuat untuk mengubah gambaran besar.
Kurs transaksi Bank Indonesia pada Kamis juga memperlihatkan tekanan yang masih tinggi. Kurs jual USD berada di Rp17.773,42, sementara kurs beli tercatat di Rp17.596,58, menempatkan titik tengah di sekitar Rp17.685 per Dolar AS.
BI Beri Sinyal Keras ke Pasar
Kenaikan BI Rate sebesar 50 bps ke 5,25% dapat dibaca sebagai langkah pre-emptive untuk menjaga daya tarik aset Rupiah di tengah risiko suku bunga AS yang lebih tinggi lebih lama. Langkah ini juga memberi sinyal bahwa BI tidak hanya mengandalkan intervensi valas, tetapi siap memakai instrumen suku bunga untuk menahan arus keluar modal, meredam kebutuhan lindung nilai, dan menjaga inflasi dalam sasaran 2,5% ±1% pada 2026-2027. Tekanan jangka pendek dari repatriasi dividen, pembayaran utang luar negeri, dan belanja terkait haji membuat respons yang lebih tegas dianggap diperlukan.
The Fed Masih Jadi Risiko Utama
Risalah Rapat The Fed 28-29 April memperkuat narasi suku bunga tinggi lebih lama. Banyak pejabat ingin menghapus bias pelonggaran dari pernyataan kebijakan, sementara mayoritas menilai pengetatan tambahan bisa diperlukan jika inflasi tetap bertahan di atas target 2%. Risiko harga energi, tarif, dan ketegangan Timur Tengah membuat jalur kebijakan semakin sulit, meski peluang pemangkasan tetap terbuka jika geopolitik mereda dan inflasi turun meyakinkan.
Minyak Tinggi Menahan Ruang Pemulihan
Ketidakpastian Timur Tengah masih menahan ruang pemulihan Rupiah. Harga minyak tetap tinggi, dengan Brent crude kontrak Juli 2026 di US$106,17 per barel dan WTI crude di US$107,77 per barel. Negosiasi AS-Iran disebut memasuki tahap akhir, tetapi ancaman serangan lanjutan dari Presiden Donald Trump dan langkah Iran memperketat kendali atas Selat Hormuz menjaga premi risiko tetap tebal.
Pasokan yang ketat turut memberi bantalan bagi harga minyak. AS menarik hampir 10 juta barel dari Cadangan Minyak Strategis pekan lalu, penarikan terbesar dalam catatan, sementara persediaan minyak mentah turun lebih dalam dari perkiraan. Ini mempertegas bahwa gangguan pasokan Timur Tengah mulai terasa dalam keseimbangan energi global.
Data AS Malam Ini Jadi Ujian Berikutnya
Agenda AS malam ini akan menjadi ujian berikutnya bagi Rupiah, terutama Klaim Pengangguran Awal, PMI manufaktur dan jasa S&P Global, serta pidato pejabat The Fed Thomas Barkin. Jika data tenaga kerja tetap solid dan PMI bertahan kuat – terutama manufaktur yang diprakirakan di 54 – Dolar AS berpeluang kembali mendapat dorongan dari ekspektasi imbal hasil tinggi. Sebaliknya, data yang lebih lemah dapat memberi Rupiah ruang bernapas, meski penguatannya kemungkinan tetap terbatas selama harga minyak, risiko geopolitik, dan arus keluar modal belum mereda.
(Berita ini dikoreksi pada pukul 9:15 GMT atau 16:15 WIB untuk memperbaiki level Rupiah pada judul: sebelumnya ditulis 16.650, seharusnya 17.650).
Pertanyaan Umum Seputar Sentimen Risiko
Dalam dunia jargon keuangan, dua istilah yang umum digunakan, yaitu "risk-on" dan "risk off" merujuk pada tingkat risiko yang bersedia ditanggung investor selama periode yang dirujuk. Dalam pasar "risk-on", para investor optimis tentang masa depan dan lebih bersedia membeli aset-aset berisiko. Dalam pasar "risk-off", para investor mulai "bermain aman" karena mereka khawatir terhadap masa depan, dan karena itu membeli aset-aset yang kurang berisiko yang lebih pasti menghasilkan keuntungan, meskipun relatif kecil.
Biasanya, selama periode "risk-on", pasar saham akan naik, sebagian besar komoditas – kecuali Emas – juga akan naik nilainya, karena mereka diuntungkan oleh prospek pertumbuhan yang positif. Mata uang negara-negara yang merupakan pengekspor komoditas besar menguat karena meningkatnya permintaan, dan Mata Uang Kripto naik. Di pasar "risk-off", Obligasi naik – terutama Obligasi pemerintah utama – Emas bersinar, dan mata uang safe haven seperti Yen Jepang, Franc Swiss, dan Dolar AS semuanya diuntungkan.
Dolar Australia (AUD), Dolar Kanada (CAD), Dolar Selandia Baru (NZD) dan sejumlah mata uang asing minor seperti Rubel (RUB) dan Rand Afrika Selatan (ZAR), semuanya cenderung naik di pasar yang "berisiko". Hal ini karena ekonomi mata uang ini sangat bergantung pada ekspor komoditas untuk pertumbuhan, dan komoditas cenderung naik harganya selama periode berisiko. Hal ini karena para investor memprakirakan permintaan bahan baku yang lebih besar di masa mendatang karena meningkatnya aktivitas ekonomi.
Sejumlah mata uang utama yang cenderung naik selama periode "risk-off" adalah Dolar AS (USD), Yen Jepang (JPY) dan Franc Swiss (CHF). Dolar AS, karena merupakan mata uang cadangan dunia, dan karena pada masa krisis para investor membeli utang pemerintah AS, yang dianggap aman karena ekonomi terbesar di dunia tersebut tidak mungkin gagal bayar. Yen, karena meningkatnya permintaan obligasi pemerintah Jepang, karena sebagian besar dipegang oleh para investor domestik yang tidak mungkin menjualnya – bahkan saat dalam krisis. Franc Swiss, karena undang-undang perbankan Swiss yang ketat menawarkan perlindungan modal yang lebih baik bagi para investor.
