USD/IDR: Rupiah Melemah Dekati Rp17.800, Pasar Menahan Posisi Jelang Pekan yang Pendek

USD/IDR: Rupiah Melemah Dekati Rp17.800, Pasar Menahan Posisi Jelang Pekan yang Pendek
  • Rupiah semakin merunduk, sekarang bergerak ke sekitar Rp17.800.
  • Libur Idul Adha dan cuti bersama berpotensi membuat likuiditas pasar domestik menipis.
  • Pasar masih menakar negosiasi AS-Iran, harga minyak, imbal hasil AS, dan data PCE pekan ini.

Rupiah kembali melemah terhadap Dolar AS pada perdagangan Selasa, di tengah sikap hati-hati pasar menjelang libur nasional di dalam negeri. Pasangan mata uang USD/IDR naik ke sekitar Rp17.788 per Dolar AS, menguat 0,41% atau 72,4 poin, dengan rentang harian Rp17.724-Rp17.799,6.

Tekanan tersebut juga tercermin dari data Bank Indonesia. JISDOR pada 25 Mei 2026 tercatat di Rp17.743 per Dolar AS. Sementara itu, Kurs Transaksi BI untuk Dolar AS menunjukkan kurs jual di Rp17.831,72 dan kurs beli di Rp17.654,28, dengan kurs tengah sekitar Rp17.743 per Dolar AS. Posisi ini memperlihatkan tekanan terhadap Rupiah belum sepenuhnya mereda, sejalan dengan pergerakan spot yang mendekati batas atas rentang hariannya. Dengan posisi tersebut, tekanan terhadap Rupiah tidak hanya datang dari pergerakan pasar spot, tetapi juga dari kondisi perdagangan domestik yang lebih pendek dan berpotensi kurang likuid.

Pekan perdagangan domestik juga lebih pendek karena libur Hari Raya Idul Adha 1447 H pada Rabu, 27 Mei 2026, cuti bersama pada Kamis, 28 Mei 2026, dan libur nasional Hari Lahir Pancasila pada Senin, 1 Juni 2026. Meski Jumat kembali menjadi hari kerja normal, likuiditas berpotensi menipis karena pasar berada di antara periode libur, sehingga investor cenderung menahan posisi besar.

Pemerintah Coba Tenangkan Pasar

Dari dalam negeri, pemerintah kembali berupaya memberi sinyal stabilisasi. Menteri Perekonomian Airlangga Hartarto menilai tekanan Rupiah saat ini masih lebih terkendali dibanding episode pelemahan besar sebelumnya. Ia menyebut depresiasi Rupiah berada di sekitar 5%, sementara inflasi masih dijaga di kisaran 2,4%.

Pemerintah juga menyiapkan penguatan pasokan devisa melalui kewajiban penempatan devisa hasil ekspor sumber daya alam atau DHE SDA di bank Himbara mulai 1 Juni 2026. Kebijakan ini diarahkan untuk memperkuat cadangan devisa dan membantu menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah.

Imbal Hasil dan Premi Risiko Masih Jadi Beban

Lloyd Chan dari MUFG menilai Rupiah masih dibayangi imbal hasil obligasi AS tenor 2 tahun yang tinggi, harga Brent yang sensitif bagi importir energi, serta sentimen investor yang rapuh terhadap kebijakan domestik. Tekanan pada USD/IDR masih cenderung mengarah naik, terutama karena risiko fiskal dan defisit transaksi berjalan. Namun, peluang pembalikan tetap terbuka karena USD/IDR sudah berada di area jenuh beli, sementara valuasi Rupiah dinilai murah berdasarkan REER.

Pasar obligasi juga menjadi ukuran daya tarik aset Rupiah. Selisih imbal hasil SBN 10 tahun terhadap Treasury AS 10 tahun yang berada di sekitar 219 basis poin menunjukkan masih ada premi yang ditawarkan aset domestik. Namun, ruang dukungan bagi Rupiah bergantung pada apakah premi tersebut cukup untuk mengimbangi risiko kurs, fiskal, transaksi berjalan, dan ketidakpastian geopolitik.

Negosiasi AS-Iran Belum Memberi Kepastian

Dari geopolitik, pasar masih menakar sinyal campuran dari negosiasi AS-Iran. WSJ melaporkan kemajuan kesepakatan melambat akibat perbedaan sikap soal program nuklir Iran dan tuntutan keringanan finansial dari Teheran, sementara Presiden AS Donald Trump menghadapi tekanan dari kelompok garis keras di partainya. Harapan kesepakatan yang dapat membuka kembali Selat Hormuz sempat menekan harga minyak dan Dolar AS, tetapi belum adanya kesepakatan final, serangan baru AS terhadap target Iran, serta pernyataan Washington bahwa diplomasi masih membutuhkan waktu membuat rally kelegaan pasar belum sepenuhnya solid.

Pada Selasa siang, harga minyak bergerak tidak searah. WTI Juli 2026 turun 4,90% ke US$91,87 per barel, sedangkan Brent Juli 2026 naik 2,21% ke US$98,26 per barel. Bagi Rupiah, Brent yang masih dekat US$100 tetap menjadi risiko bagi inflasi impor, subsidi energi, dan neraca perdagangan.

Fokus Pekan ini Tertuju pada Data PCE AS

Dari AS, pasar malam ini akan mencermati Indeks Harga Perumahan Maret dan Keyakinan Konsumen Mei. Namun, perhatian terbesar pekan ini tertuju pada Indeks Harga Belanja Konsumsi Pribadi atau Personal Consumption Expenditure (PCE) AS dan laporan pendahuluan PDB AS yang dijadwalkan rilis pada Kamis.

Kedua data tersebut akan menjadi petunjuk penting bagi pasar dalam menilai arah inflasi, ketahanan ekonomi AS, dan peluang kebijakan suku bunga The Fed. Data yang kuat berisiko kembali menopang Dolar AS dan membatasi ruang pemulihan Rupiah, sementara tanda pelemahan ekonomi atau inflasi yang lebih jinak dapat memberi sedikit ruang bagi aset emerging market untuk bernapas.

Indikator Ekonomi

Belanja Konsumsi Perorangan Inti - Indeks Harga (Bln/Bln)

Belanja Konsumsi Pribadi (Personal Consumption Expenditures/PCE) Inti, yang dirilis oleh Biro Analisis Ekonomi AS pada basis bulanan, mengukur perubahan harga barang dan jasa yang dibeli oleh konsumen di Amerika Serikat (AS). Indeks Harga PCE juga merupakan pengukur inflasi yang disukai oleh Federal Reserve (The Fed). Angka MoM membandingkan harga barang pada bulan referensi dengan bulan sebelumnya. Pembacaan inti mengecualikan apa yang disebut komponen makanan dan energi yang lebih fluktuatif untuk memberikan pengukuran tekanan harga yang lebih akurat. Secara umum, pembacaan yang tinggi adalah bullish bagi Dolar AS (USD), sedangkan pembacaan yang rendah adalah bearish.

Baca lebih lanjut

Rilis berikutnya Kam Mei 28, 2026 12.30

Frekuensi: Bulanan

Konsensus: 0.3%

Sebelumnya: 0.3%

Sumber: US Bureau of Economic Analysis

Setelah menerbitkan laporan PDB, Biro Analisis Ekonomi AS merilis data Indeks Harga Belanja Konsumsi Pribadi (Personal Consumption Expenditures/PCE) bersama dengan perubahan bulanan dalam Belanja Pribadi dan Pendapatan Pribadi. Para pengambil kebijakan FOMC menggunakan Indeks Harga PCE Inti tahunan, yang tidak termasuk harga makanan dan energi yang bergejolak, sebagai pengukur utama inflasi mereka. Pembacaan yang lebih kuat dari prakiraan dapat membantu USD mengungguli para pesaingnya karena akan mengisyaratkan kemungkinan pergeseran hawkish dalam panduan The Fed ke depan dan sebaliknya.