- Batu Bara ICE Newcastle belum bergerak setelah kemarin ditutup turun.
- Presiden Trump mengatakan negosiasi sudah di tahap akhir dengan Iran.
- Batu bara Indonesia menjadi salah satu komoditas yang menjadi target kebijakan ekspor baru.
Batu bara ICE Newcastle front month diperdagangkan di 135,50 yang lebih rendah 1,42% dari penutupan hari kemarin pada saat berita ini ditulis. Batu bara ini dibuka dengan gap bawah di 135,50 dan sama sekali belum bergerak. Ini menyusul penurunan komoditas ini dari 141,50 yang juga lebih tinggi sejak 8 April 2026 pada hari kemarin. Tidak ada yang signifikan, pasar hanya menantikan hasil dari negosiasi baru antara AS dan Iran.
Momentum dalam harga batu bara berubah menjadi netral, seperti yang diindikasikan oleh Relative Strength Index (RSI) 14-hari yang berada di 50,62. Indikator ini menunjukkan bahwa momentum bullish menyusut namun belum berubah ke momentum bearish. Dalam jangka lebih panjang harga batu bara mempertahankan tren naik karena berada di atas Simple Moving Average (SMA) 200-hari.
Pelabuhan Newcastle Australia dalam kondisi hujan ringan dengan suhu sekitar 17°C dan diprakirakan berlangsung hingga besok pagi. Perlu dinantikan apakah hujan ini akan mengganggu proses pemuatan batu bara hingga menunda jadwal pengiriman. Jika hal tersebut terjadi, para pedagang akan mempertimbangkannya menjadi factor yang dapat memengaruhi harga dalam jangka pendek.
Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengklaim bahwa negosiasi dengan Iran sudah berada di tahap akhir, seperti diinformasikan Bloomberg Rabu lalu. Meskipun demikian, Trump berjanji akan melakukan serangan lagi dalam beberapa hari jika persyaratan-persyaratannya tidak disetujui oleh Iran.
Di sisi lain, Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, mengatakan mereka terbuka dengan solusi diplomatik tapi perang regional bisa meluas di luar wilayah jika agresi terhadap Iran berulang kembali.
Para pedagang komoditas dalam mode tunggu dan lihat. Selat Hormuz masih tidak bisa dilalui dengan bebas ketika menunggu hasil apa pun, sehingga membuat harga komoditas-komoditas energi termasuk batu bara tetap tinggi di atas level-level pra-perang. Konflik ini menjadi penggerak dominan penggerak harga komoditas-komoditas yang disebutkan di atas karena efek langsung dari penutupan selat yang berakibat terganggunya rantai pasokan.
Terkait energi di dalam negeri, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia (RI) merilis Harga Batu Bara Acuan (HBA) untuk periode kedua Mei 2026 dalam Kepmen ESDM No. 204.K/MB.01/MEM.B/2026. Semua harganya naik dibandingkan dengan sebelumnya dengan perincian sebagai berikut;
- Batubara (6.322 GAR) $116,32 naik dari $106,57
- Batubara I (5.300 GAR) $80,34 naik dari $79,56
- Batubara II (4.100 GAR) $57,61 naik dari $55,66
- Batubara III (3.400 GAR) $39,35 naik dari $38,76
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI, Bahlil Lahadalia, pada hari kemarin mengatakan, "Terkait dengan Peraturan Pemerintah yang diumumkan tadi oleh Bapak Presiden. Itu memang penjualan daripada hasil komunitas sumber daya alam. Itu akan lewat negara yang akan ditunjuk adalah BUMN yang ditunjuk. Tujuan dari kebijakan ini adalah mencegah terjadi under-invoicing dan transfer pricing yang selama ini terjadi,"
Komentar di atas menindaklanjuti Peraturan Pemerintah untuk Tata Kelola Ekspor Komoditas Sumber Daya Alam (SDA) yang diperkenalkan Presiden Republik Indonesia (RI), Prabowo Subianto, pada hari Rabu lalu.
Dikutip dalam situs Kementerian ESDM, kebijakan ini adalah penerapan pasar 33 UU 1945 yang harus dilakukan negara. Sasaran dari kebijakan ini adalah komoditas-komoditas strategis seperti mineral dan batu bara. Kebijakan ini tidak berlaku untuk minyak dan gas bumi.
Kebijakan ini akan membuat BUMN (Badan Usaha Milik Negara) menjadi pengekspor tunggal SDA. Sehingga, perusahaan-perusahaan di Indonesia melakukan transaksi dengan BUMN dan BUMN yang melakukan transaksi dan kontrak dengan pembeli di luar negeri. Minyak kelapa sawit, batu bara, dan paduan besi menjadi tiga komoditas pertama yang menjadi target kebijakan ini. Implementasi tahap satu dimulai pada 1 Juni hingga 31 Agustus 2026.
Grafik Harian Batu Bara ICE Newcastle

Pertanyaan Umum Seputar Sentimen Risiko
Dalam dunia jargon keuangan, dua istilah yang umum digunakan, yaitu "risk-on" dan "risk off" merujuk pada tingkat risiko yang bersedia ditanggung investor selama periode yang dirujuk. Dalam pasar "risk-on", para investor optimis tentang masa depan dan lebih bersedia membeli aset-aset berisiko. Dalam pasar "risk-off", para investor mulai "bermain aman" karena mereka khawatir terhadap masa depan, dan karena itu membeli aset-aset yang kurang berisiko yang lebih pasti menghasilkan keuntungan, meskipun relatif kecil.
Biasanya, selama periode "risk-on", pasar saham akan naik, sebagian besar komoditas – kecuali Emas – juga akan naik nilainya, karena mereka diuntungkan oleh prospek pertumbuhan yang positif. Mata uang negara-negara yang merupakan pengekspor komoditas besar menguat karena meningkatnya permintaan, dan Mata Uang Kripto naik. Di pasar "risk-off", Obligasi naik – terutama Obligasi pemerintah utama – Emas bersinar, dan mata uang safe haven seperti Yen Jepang, Franc Swiss, dan Dolar AS semuanya diuntungkan.
Dolar Australia (AUD), Dolar Kanada (CAD), Dolar Selandia Baru (NZD) dan sejumlah mata uang asing minor seperti Rubel (RUB) dan Rand Afrika Selatan (ZAR), semuanya cenderung naik di pasar yang "berisiko". Hal ini karena ekonomi mata uang ini sangat bergantung pada ekspor komoditas untuk pertumbuhan, dan komoditas cenderung naik harganya selama periode berisiko. Hal ini karena para investor memprakirakan permintaan bahan baku yang lebih besar di masa mendatang karena meningkatnya aktivitas ekonomi.
Sejumlah mata uang utama yang cenderung naik selama periode "risk-off" adalah Dolar AS (USD), Yen Jepang (JPY) dan Franc Swiss (CHF). Dolar AS, karena merupakan mata uang cadangan dunia, dan karena pada masa krisis para investor membeli utang pemerintah AS, yang dianggap aman karena ekonomi terbesar di dunia tersebut tidak mungkin gagal bayar. Yen, karena meningkatnya permintaan obligasi pemerintah Jepang, karena sebagian besar dipegang oleh para investor domestik yang tidak mungkin menjualnya – bahkan saat dalam krisis. Franc Swiss, karena undang-undang perbankan Swiss yang ketat menawarkan perlindungan modal yang lebih baik bagi para investor.
