Harga minyak menguat pada hari Senin. Brent crude naik US$2,69 (3,05%) menjadi US$90,79 per barel, level tertinggi sejak 11 Juni, sementara WTI bertambah US$2,19 (2,65%) menjadi US$84,68 per barel, tertinggi sejak 12 Juni. Kenaikan tersebut terjadi di tengah berlanjutnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Kedua acuan minyak tersebut melanjutkan kenaikan tajam pekan lalu. Brent naik 15,9%, merupakan kenaikan mingguan terbesar sejak April, sedangkan WTI menguat 15,5%, yang menjadi kenaikan mingguan terbesar sejak awal Maret.
Menurut pernyataan resmi dan berbagai laporan media, aktivitas militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran berlanjut sepanjang akhir pekan. Laporan juga menyebut adanya serangan tambahan di kawasan Teluk, sementara UK Maritime Trade Operations (UKMTO) melaporkan sebuah kapal mengalami kebakaran di barat laut Kumzar, Oman.
Data pelayaran juga menunjukkan penurunan aktivitas di Selat Hormuz. Berdasarkan data LSEG, hanya empat kapal yang melintasi jalur tersebut pada hari Minggu, dibandingkan delapan kapal sehari sebelumnya. Sejak Jumat, tercatat sedikitnya tiga kapal tanker produk minyak dan satu Very Large Crude Carrier (VLCC) memasuki selat tersebut untuk memuat kargo. Selat Hormuz biasanya menjadi jalur sekitar 20% perdagangan minyak dunia melalui laut.
Analis Barclays, Amarpreet Singh, mengatakan beberapa hari ke depan akan memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai kapasitas ekspor kawasan di tengah gangguan saat ini. Ia juga menyatakan bahwa pasar kemungkinan masih meremehkan potensi dampaknya terhadap persediaan minyak global, yang saat ini berada pada level terendah dalam sekitar lima tahun.
Implikasi pasar
Perkembangan di Selat Hormuz tetap menjadi perhatian utama pasar komoditas karena jalur tersebut memiliki peran penting dalam pasokan energi global. Pelaku pasar juga terus menilai potensi dampaknya terhadap harga bahan bakar, pasar gas alam, ekspektasi inflasi, serta sentimen di pasar keuangan.
