Dolar AS dan mata uang utama bergerak dalam rentang sempit pada Kamis ketika trader menunggu data ekonomi terbaru AS untuk mendapatkan petunjuk lebih jelas mengenai langkah kebijakan Federal Reserve (Fed) berikutnya.
Dollar Spot Index bertahan di sekitar 100,03, sementara EUR/USD berada di sekitar $1,1520 dan GBP/USD diperdagangkan dekat $1,3480. USD/JPY bertahan di sekitar 159,40, mendekati level tertinggi dalam dua minggu, ketika pasar terus mencermati kemungkinan intervensi Jepang.
Pergerakan pasar valuta asing yang relatif tenang terjadi setelah laporan CPI AS pada Rabu. Inflasi headline turun menjadi 3,4% secara tahunan pada Juli, sementara core CPI melambat menjadi 2,5%. Ditambah laporan nonfarm payrolls yang lebih lemah pada pekan sebelumnya, data tersebut mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga Fed pada September. Probabilitas yang tercermin di pasar turun menjadi sekitar 40% dari 67% pada pekan lalu.
Meski demikian, trader masih memiliki alasan untuk tidak melakukan aksi jual dolar secara agresif. Harga minyak yang tetap tinggi akibat ketidakpastian di sekitar Selat Hormuz dapat menjaga tekanan inflasi tetap tinggi, terutama bagi negara-negara besar di Eropa dan Asia yang bergantung pada impor energi.
Fokus berikutnya tertuju pada Producer Price Index (PPI) dan data penjualan ritel AS. PPI akan memberikan gambaran tambahan mengenai tekanan biaya yang dihadapi perusahaan, sementara penjualan ritel akan menunjukkan apakah permintaan konsumen tetap kuat meskipun kondisi keuangan semakin ketat.
Bagi trader FX di Asia Tenggara, data tersebut dapat menjadi katalis penting bagi USD/SGD, USD/MYR, dan USD/JPY. Sebelum data memberikan sinyal kebijakan yang lebih jelas, pasangan mata uang utama kemungkinan masih bergerak dalam range dan sensitif terhadap berita jangka pendek.
