Harga emas naik sekitar 1% pada Rabu setelah data inflasi AS bulan Juli sesuai dengan ekspektasi, mendorong trader mengurangi taruhan terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve pada September.
Harga emas spot naik 1,1% menjadi $4.416,15 per troy ounce, sementara futures emas naik 0,8% menjadi $4.476,35. Pergerakan ini terjadi setelah harga konsumen AS hanya meningkat 0,1% secara bulanan pada Juli, sementara headline CPI tahunan melambat menjadi 3,4% dari 3,5%. Core CPI naik 0,2% secara bulanan, sedangkan inflasi inti tahunan turun menjadi 2,5% dari 2,6%. Keempat angka tersebut sesuai dengan perkiraan pasar.
Data tersebut memberikan ruang lebih besar bagi Fed untuk mempertahankan suku bunga, terutama setelah laporan ketenagakerjaan AS sebelumnya menunjukkan pelemahan. CME FedWatch menunjukkan probabilitas suku bunga tetap tidak berubah pada September naik menjadi 60%, dari 54% sebelum data CPI dirilis. Ekspektasi suku bunga yang lebih rendah cenderung mendukung emas karena bullion tidak menghasilkan pendapatan bunga.
Namun, kenaikan emas tetap rentan terhadap perkembangan geopolitik. Brent sempat mencapai $90 per barel di tengah ketidakpastian terkait pembukaan kembali Selat Hormuz, yang membuat pasar energi tetap volatil dan menciptakan potensi risiko inflasi bagi Fed.
China juga memberikan dukungan terhadap permintaan emas. People’s Bank of China menambah sekitar 640.000 troy ounce emas ke dalam cadangannya pada Juli, memperpanjang pembelian emas selama 21 bulan berturut-turut.
Bagi trader Asia Tenggara, level berikutnya yang perlu diperhatikan adalah $4.460–$4.495, yang menjadi area konsentrasi resistance teknikal. Breakout yang mampu bertahan di atas zona tersebut dapat memperkuat pemulihan emas, sementara tekanan baru dari kenaikan harga minyak dapat dengan cepat mengubah prospek kebijakan Fed dan arah harga emas.
