Harga minyak melanjutkan kenaikan pada perdagangan Rabu pagi karena ketegangan geopolitik di Timur Tengah tetap tinggi. Minyak Brent naik 1,2% menjadi US$85,72 per barel, sementara WTI menguat 0,8% menjadi US$79,98, melanjutkan reli pada sesi sebelumnya.
Perkembangan terbaru meningkatkan ketidakpastian di kawasan:
- Militer Iran dilaporkan melancarkan serangan drone terhadap posisi AS di dekat Pangkalan Udara Azraq, Yordania.
- Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah menyerang fasilitas militer di Bahrain dan Kuwait. Klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
- Militer Amerika Serikat mengatakan telah melancarkan serangan tambahan terhadap kemampuan militer Iran yang dikaitkan dengan ancaman terhadap pelayaran komersial di sekitar Selat Hormuz.
- Pejabat Iran kembali menyatakan bahwa Selat Hormuz telah ditutup. Namun, status operasional pelayaran di selat tersebut sebaiknya mengacu pada pembaruan dari otoritas maritim dan sumber resmi.
Analis memperkirakan arah harga minyak akan tetap dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik. Dalam skenario meredanya ketegangan, Brent diperkirakan berada di kisaran US$75–80 per barel. Sebaliknya, apabila konflik meningkat dan memengaruhi infrastruktur energi di kawasan Teluk, harga berpotensi kembali mendekati US$100 per barel.
Phillip Nova menilai pasokan fisik minyak masih memadai untuk saat ini. Namun, gangguan tambahan di sekitar Hormuz atau sanksi baru terhadap ekspor minyak Iran dapat meningkatkan premi risiko geopolitik di pasar.
