Minyak Turun Terhadap Harapan Negosiasi Iran Seiring Yen Menguat Pasca Sinyal Intervensi Baru

Minyak Turun Terhadap Harapan Negosiasi Iran Seiring Yen Menguat Pasca Sinyal Intervensi Baru

Sentimen risiko berubah pada hari Senin ketika meredanya ketegangan Timur Tengah menekan harga minyak, sementara intervensi mata uang Jepang yang baru kembali mendukung yen. Minyak mentah Brent turun lebih dari 6% menjadi $82,41 per barel setelah Presiden Trump mengonfirmasi bahwa negosiasi dengan Iran akan dilanjutkan pada hari Senin, menyusul pembatalan serangan militer yang sebelumnya direncanakan.

Pasar saham menunjukkan performa yang campuran:

  1. Futures S&P 500: +0,4%
  2. Futures Nasdaq: +0,6%
  3. Nikkei 225: -1%
  4. KOSPI: -3,6% (setelah penurunan 22% di bulan Juli)
  5. MSCI Asia-Pacific ex-Jepang: -1%

Terpisah, yen menguat lebih dari 1% menjadi 155,39 terhadap dolar AS setelah Kementerian Keuangan Jepang mengonfirmasi intervensi pembelian yen bersama dengan Amerika Serikat, sambil menunjukkan bahwa langkah tambahan tetap mungkin jika diperlukan.

Pandangan kalangan analis pasar tetap bercampur. Masayuki Nakajima dari Mizuho Bank mengatakan faktor struktural, khususnya selisih suku bunga antara Amerika Serikat dan Jepang, masih memberi tekanan pada yen dalam jangka panjang, meskipun koordinasi yang lebih kuat antara AS-Jepang bisa mengurangi posisi spekulatif tertentu dalam jangka pendek.

Nick Twidale dari ATFX memberikan perspektif berbeda, mengatakan deskripsi Presiden Trump terhadap intervensi sebagai "gerakan persahabatan" dapat membatasi efektivitas yang dirasakan. Ia menambahkan bahwa mata uang bisa menghadapi tekanan baru jika dampak intervensi melemah tanpa perubahan lebih luas pada fundamental ekonomi dasar.

Beberapa analis melihat kekuatan yen belakangan ini sebagai sementara daripada mencerminkan tren struktural yang lebih luas. Di sisi lain, harga minyak yang lebih rendah dapat membantu mengurangi tekanan inflasi jika berkelanjutan, meskipun dampak lebih luas terhadap pasar keuangan akan terus bergantung pada data ekonomi yang masuk serta perkembangan geopolitik, termasuk data pasar tenaga kerja AS yang dijadwalkan rilis akhir pekan ini.