Perubahan Sikap Hawkish The Fed Dorong Dolar AS Mencatat Kenaikan Harian Terbesar Hampir Setahun

Perubahan Sikap Hawkish The Fed Dorong Dolar AS Mencatat Kenaikan Harian Terbesar Hampir Setahun

Perubahan Sikap Hawkish The Fed Dorong Dolar AS Mencatat Kenaikan Harian Terbesar Hampir Setahun — Apa Dampaknya bagi Mata Uang ASEAN?

Indeks DXY mencatat kenaikan harian terbesar dalam hampir satu tahun setelah Federal Reserve mengubah proyeksi kebijakan tahun 2026 dari ekspektasi penurunan suku bunga menjadi kecenderungan kenaikan suku bunga.

Rupiah Indonesia dan peso Filipina menghadapi tekanan baru, sementara ringgit Malaysia dan dolar Singapura diperkirakan lebih mampu bertahan.

Federal Reserve mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 3,50%–3,75% pada pertemuan tanggal 17 Juni, menandai enam pertemuan berturut-turut tanpa perubahan. Namun, sorotan utama datang dari keputusan yang disetujui secara bulat 12-0, berbalik tajam dari hasil pemungutan suara 8-4 pada bulan April. Pernyataan kebijakan terbaru juga menghapus seluruh referensi mengenai kemungkinan penurunan suku bunga.

Pertemuan ini merupakan rapat pertama yang dipimpin Ketua Fed baru, Kevin Warsh, setelah menggantikan Jerome Powell pada bulan Mei. Warsh menyampaikan pernyataan yang lebih ringkas dan, secara tidak biasa, tidak menyerahkan proyeksi suku bunga pribadinya.

Sinyal dari anggota FOMC lainnya menunjukkan perubahan arah kebijakan yang jelas. Sebanyak 9 dari 18 pembuat kebijakan kini memperkirakan suku bunga federal funds akan berakhir pada tahun 2026 di atas level saat ini, sehingga proyeksi median naik menjadi sekitar 3,8%, dibandingkan 3,4% pada bulan Maret.

Perubahan tersebut didorong oleh inflasi AS yang kembali meningkat. Inflasi utama mencapai 4,2% secara tahunan pada bulan Mei, level tertinggi sejak April 2023, sementara indeks PCE—ukuran inflasi yang menjadi acuan utama Fed—berada di 3,8% pada bulan April. Alat CME FedWatch kini menunjukkan sekitar 60% peluang kenaikan suku bunga pada bulan Oktober.

Pasar segera menyesuaikan ekspektasi. Indeks DXY naik sekitar 1%, mencatat kenaikan harian terbesar dalam hampir satu tahun dan kembali menembus level psikologis 100,00. Level teknikal berikutnya yang perlu diperhatikan berada di 100,50 dan 101,00, sedangkan penurunan kembali di bawah 100,00 dapat membatalkan sinyal penembusan tersebut.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor dua tahun melonjak 16 basis poin menjadi 4,21%, jauh di atas rata-rata sekitar 6 basis poin yang dicatat Citi pada pertemuan pertama ketua Fed sebelumnya. Di sisi lain, harga emas turun lebih dari 2% seiring memudarnya ekspektasi pemangkasan suku bunga.

Bagi pelaku pasar di Asia Tenggara, dampaknya diperkirakan tidak merata. Selisih suku bunga AS yang semakin lebar biasanya memberikan tekanan lebih besar pada mata uang yang telah menghadapi tantangan domestik. Rupiah Indonesia dan peso Filipina dinilai oleh ING THINK sebagai mata uang yang paling rentan memasuki paruh kedua tahun 2026 karena kekhawatiran terhadap defisit fiskal dan transaksi berjalan.

Sebaliknya, ringgit Malaysia mendapat dukungan dari sikap kebijakan yang stabil dari Bank Negara Malaysia serta surplus perdagangan, menjadikannya salah satu mata uang Asia dengan kinerja terbaik tahun ini.

Sementara itu, dolar Singapura yang dikelola melalui sistem S$NEER alih-alih suku bunga kebijakan cenderung menyerap penguatan dolar AS secara lebih bertahap. Namun, sejumlah pelaku pasar tetap mengamati area USD/SGD 1,38 sebagai level penting apabila penguatan dolar terus berlanjut.

Yang Perlu Diperhatikan Selanjutnya

Fokus pasar berikutnya adalah konferensi pers Kevin Warsh terkait target inflasi 2% serta rencana "perubahan rezim" kebijakan moneter yang pernah ia sampaikan. Selain itu, rilis data PCE bulan Mei dan pertemuan FOMC pada bulan Juli akan menjadi faktor utama yang menentukan arah dolar AS dalam jangka pendek.

Pernyataan Risiko

Perdagangan forex dan CFD memiliki tingkat risiko yang tinggi dan mungkin tidak sesuai bagi semua investor. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang.