USD/IDR: Rupiah Masih Menempel di Sekitar Rp17.700, Pasar Menunggu Kepastian De-eskalasi AS-Iran

USD/IDR: Rupiah Masih Menempel di Sekitar Rp17.700, Pasar Menunggu Kepastian De-eskalasi AS-Iran
  • Rupiah melemah 0,41% ke Rp17.736 per Dolar AS pada perdagangan Senin siang.
  • Kurs transaksi BI menunjukkan tekanan serupa, dengan titik tengah sekitar Rp17.717 per Dolar AS.
  • Koreksi tajam harga minyak memberi sedikit ruang lega, tetapi pasar masih menunggu kepastian diplomasi AS-Iran.

Rupiah kembali melemah terhadap Dolar AS pada perdagangan Senin, meski tekanan tidak sepenuhnya datang dari penguatan Greenback. Pasangan mata uang USD/IDR naik 70,5 poin atau 0,41% ke Rp17.736 per Dolar AS pada pukul 13.18 WIB. Sepanjang perdagangan, kurs bergerak dalam rentang Rp17.668-Rp17.743 per Dolar AS, menunjukkan tekanan terhadap mata uang Garuda belum sepenuhnya mereda.

Di saat yang sama, Indeks Dolar AS atau DXY justru cenderung bergerak mendatar di sekitar 99,019 dan melemah tipis 0,30%. Kondisi ini mengindikasikan bahwa pelemahan Rupiah lebih banyak dipengaruhi oleh faktor spesifik domestik dan kehati-hatian investor terhadap aset emerging markets, bukan semata-mata oleh rally Dolar AS secara luas.

Tekanan serupa juga terlihat pada kurs transaksi Bank Indonesia. Untuk Dolar AS, kurs jual BI tercatat di Rp17.805,58, sementara kurs beli berada di Rp17.628,42 per Dolar AS. Jika dihitung dari titik tengahnya, kurs BI berada di sekitar Rp17.717 per Dolar AS, relatif sejalan dengan posisi spot USD/IDR yang berada di kisaran Rp17.736. Angka ini memperlihatkan bahwa tekanan terhadap Rupiah masih cukup konsisten, meski latar eksternal dari sisi Dolar AS tidak sedang menunjukkan penguatan agresif.

BI Lebih Tegas Menjaga Stabilitas

Komentar terbaru dari pemerintah dan analis menunjukkan pelemahan Rupiah tidak lagi bisa dibaca hanya sebagai gejolak kurs harian. Apalagi, Dolar AS secara luas tidak sedang menguat agresif; DXY justru bergerak mendatar di sekitar level 99 setelah turun dari puncak 2025. Dengan latar ini, tekanan Rupiah lebih mencerminkan kombinasi faktor domestik, kebutuhan valas, arus modal yang belum stabil, serta kehati-hatian investor terhadap aset Indonesia.

Pemerintah masih menekankan bahwa fundamental ekonomi tetap kuat, dengan pertumbuhan kuartal I-2026 sebesar 5,61%. Namun, pasar juga mencermati defisit transaksi berjalan Indonesia yang melebar menjadi sekitar US$4,0 miliar atau 1,09% dari PDB pada kuartal I-2026. Angka ini membuat pelaku pasar belum sepenuhnya yakin tekanan terhadap Rupiah sudah mereda, terutama di tengah kebutuhan Dolar AS musiman untuk pembayaran dividen, utang luar negeri, dan impor bahan baku.

Dari sisi kebijakan, BI sudah mengambil posisi lebih defensif dengan menaikkan BI-Rate sebesar 50 basis poin ke 5,25% untuk menjaga stabilitas Rupiah. Bagi analis, langkah ini membantu memberi ruang napas bagi mata uang Garuda, tetapi belum cukup untuk memastikan pembalikan arah yang berkelanjutan. Pemulihan Rupiah masih bergantung pada konsistensi kebijakan domestik, kejelasan aturan devisa hasil ekspor, stabilisasi arus modal, serta berlanjutnya penurunan harga minyak setelah muncul harapan de-eskalasi AS-Iran.

Harga Minyak Turun, tetapi Risiko Belum Hilang

Dari sisi eksternal, perang AS-Iran mulai menunjukkan ruang de-eskalasi, meski belum dapat dibaca sebagai akhir konflik. Washington dan Teheran disebut semakin dekat pada kerangka kesepakatan yang mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz. Namun, sejumlah isu utama seperti program nuklir Iran, sanksi, blokade, dan posisi Hezbollah masih menjadi ganjalan dalam proses diplomasi.

Sinyal negosiasi tersebut sudah cukup untuk menurunkan sebagian premi risiko energi. Harga minyak terbaru ikut mempertegas perubahan sentimen ini. WTI kontrak Juli 2026 turun 5,91% ke US$90,89 per barel, sementara Brent kontrak Juli 2026 merosot 5,63% ke US$97,71 per barel. Koreksi tajam itu menunjukkan investor mulai menakar peluang de-eskalasi dan kemungkinan normalisasi jalur pasokan melalui Selat Hormuz.

Bagi Indonesia, penurunan harga minyak tetap menjadi sentimen penting bagi Rupiah karena dapat meredakan tekanan pada inflasi impor, subsidi energi, dan fiskal. Komitmen pembelian minyak dari Rusia memang dapat menjadi salah satu bantalan pasokan, tetapi pasar belum melihatnya sebagai pelindung penuh dari gejolak harga energi global karena realisasinya masih bergantung pada skema impor, logistik, risiko sanksi, dan kesiapan pengiriman. Dengan latar DXY yang cenderung sideways, pelemahan Rupiah di area Rp17.700-an per Dolar AS lebih mencerminkan tekanan spesifik domestik, mulai dari defisit transaksi berjalan yang melebar, kebutuhan valas, arus modal yang belum stabil, hingga kejelasan kebijakan devisa hasil ekspor.

Pertanyaan Umum Seputar Inflasi

Inflasi mengukur kenaikan harga sekeranjang barang dan jasa yang representatif. Inflasi utama biasanya dinyatakan sebagai perubahan persentase berdasarkan basis bulan ke bulan (MoM) dan tahun ke tahun (YoY). Inflasi inti tidak termasuk elemen yang lebih fluktuatif seperti makanan dan bahan bakar yang dapat berfluktuasi karena faktor geopolitik dan musiman. Inflasi inti adalah angka yang menjadi fokus para ekonom dan merupakan tingkat yang ditargetkan oleh bank sentral, yang diberi mandat untuk menjaga inflasi pada tingkat yang dapat dikelola, biasanya sekitar 2%.

Indeks Harga Konsumen (IHK) mengukur perubahan harga sekeranjang barang dan jasa selama periode waktu tertentu. Biasanya dinyatakan sebagai perubahan persentase berdasarkan basis bulan ke bulan (MoM) dan tahun ke tahun (YoY). IHK Inti adalah angka yang ditargetkan oleh bank sentral karena tidak termasuk bahan makanan dan bahan bakar yang mudah menguap. Ketika IHK Inti naik di atas 2%, biasanya akan menghasilkan suku bunga yang lebih tinggi dan sebaliknya ketika turun di bawah 2%. Karena suku bunga yang lebih tinggi positif untuk suatu mata uang, inflasi yang lebih tinggi biasanya menghasilkan mata uang yang lebih kuat. Hal yang sebaliknya berlaku ketika inflasi turun.

Meskipun mungkin tampak berlawanan dengan intuisi, inflasi yang tinggi di suatu negara mendorong nilai mata uangnya naik dan sebaliknya untuk inflasi yang lebih rendah. Hal ini karena bank sentral biasanya akan menaikkan suku bunga untuk melawan inflasi yang lebih tinggi, yang menarik lebih banyak arus masuk modal global dari para investor yang mencari tempat yang menguntungkan untuk menyimpan uang mereka.

Dahulu, Emas merupakan aset yang diincar para investor saat inflasi tinggi karena emas dapat mempertahankan nilainya, dan meskipun investor masih akan membeli Emas sebagai aset safe haven saat terjadi gejolak pasar yang ekstrem, hal ini tidak terjadi pada sebagian besar waktu. Hal ini karena saat inflasi tinggi, bank sentral akan menaikkan suku bunga untuk mengatasinya. Suku bunga yang lebih tinggi berdampak negatif bagi Emas karena meningkatkan biaya peluang untuk menyimpan Emas dibandingkan dengan aset berbunga atau menyimpan uang dalam rekening deposito tunai. Di sisi lain, inflasi yang lebih rendah cenderung berdampak positif bagi Emas karena menurunkan suku bunga, menjadikan logam mulia ini sebagai alternatif investasi yang lebih layak.