- Rupiah berada di sekitar Rp17.787, dekat area terlemah baru sepanjang masa.
- Koreksi harga minyak memberi sedikit ruang lega, tetapi risiko eksternal belum mereda.
- Pasar menunggu data PCE dan PDB AS untuk membaca arah suku bunga The Fed.
Rupiah masih berada dalam tekanan pada perdagangan Rabu, meski pasar keuangan domestik Indonesia libur nasional Idul Adha 1447 H. Berdasarkan data real-time USD/IDR, pasangan mata uang ini bergerak di sekitar Rp17.787 per Dolar AS, naik 0,15%, dengan rentang harian Rp17.772,9-Rp17.866. Posisi ini menempatkan Rupiah dekat area terlemahnya, sehingga ruang pemulihan jangka pendek masih terlihat terbatas.
Data resmi domestik terbaru juga menunjukkan tekanan yang belum mereda. JISDOR Bank Indonesia pada 26 Mei naik ke Rp17.789 per Dolar AS, dari Rp17.743 per Dolar AS pada 25 Mei. Karena pasar Indonesia libur pada Rabu, pergerakan kurs hari ini lebih mencerminkan indikasi pasar global dan offshore, bukan aktivitas penuh pasar domestik.
Analis Masih Hati-Hati terhadap Rupiah
Sejumlah analis masih melihat tekanan terhadap Rupiah belum selesai. MUFG menilai hambatan utama datang dari imbal hasil AS yang tinggi, harga minyak yang masih mahal, selisih suku bunga yang menyempit, serta risiko domestik seperti transaksi berjalan, subsidi energi, dan perlambatan pertumbuhan. UOB juga menyoroti defisit transaksi berjalan dan finansial yang melebar sebagai faktor yang dapat mempertahankan risiko pelemahan IDR dalam beberapa kuartal ke depan.
Namun, MUFG menilai risiko pembalikan USD/IDR mulai meningkat karena posisi pasar sudah jenuh dan valuasi Rupiah tampak murah secara REER. Pengetatan BI, imbal hasil SRBI yang lebih tinggi, serta potensi deeskalasi AS-Iran dapat menjadi katalis pemulihan jika sentimen global membaik.
Minyak Turun, tetapi Risiko Geopolitik Belum Selesai
Dari pasar energi, tekanan minyak mulai berkurang setelah WTI turun ke US$91,67 per barel dan Brent melemah ke US$97,73 per barel. Penurunan ini memberi sedikit ruang lega bagi Rupiah karena meredakan kekhawatiran terhadap biaya impor energi, inflasi, dan beban subsidi.
Namun, koreksi minyak bukan berarti risiko geopolitik sudah hilang. Tensi AS-Iran masih rapuh setelah AS melancarkan serangan baru di Iran selatan, termasuk terhadap kapal yang disebut mencoba menanam ranjau dan lokasi peluncur rudal. Washington menyebut langkah itu sebagai tindakan defensif, sementara Iran menilainya sebagai pelanggaran gencatan senjata.
Harga minyak tetap turun karena pasar membaca bahwa jalur diplomasi belum tertutup sepenuhnya. Pernyataan Marco Rubio bahwa negosiasi untuk memperpanjang gencatan senjata dan membuka kembali Selat Hormuz masih berlangsung dalam beberapa hari ke depan, ditambah seruan Tiongkok agar semua pihak mencari kompromi, membuat sebagian premi risiko geopolitik mulai dikurangi.
Data AS Jadi Fokus Berikutnya
Dari AS, data semalam memberi sinyal campuran. Indeks Harga Perumahan Maret naik 0,1%, sedikit di atas konsensus, tetapi Indeks Keyakinan Konsumen Conference Board turun ke 93,1 dari 93,8 pada April. Kombinasi ini belum cukup mengubah ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga The Fed.
Fokus berikutnya tertuju pada data PCE dan PDB AS pada Kamis. PCE Inti tahunan diprakirakan naik ke 3,3% dari 3,2%, sementara PDB Kuartal I diprakirakan tetap 2,0%. Jika inflasi lebih panas dari prakiraan, tekanan terhadap Rupiah berisiko kembali meningkat.
