Batu Bara ICE Newcastle Bertahan di 139,85 di Tengah Potensi Kesepakatan AS-Iran

Batu Bara ICE Newcastle Bertahan di 139,85 di Tengah Potensi Kesepakatan AS-Iran
  • Batu Bara ICE Newcastle di level saat ini untuk dua hari berturut-turut.
  • Ada laporan bahwa AS-Iran hampir menandatangani kesepakatan.
  • Indonesia semakin dekat dengan implementasi kebijakan ekspor satu pintu.

Batu bara ICE Newcastle front month diperdagangkan di 139,85 yang tidak berubah dari penutupan pekan lalu pada saat berita ini ditulis. Batu bara ini dibuka di level yang sama dengan penutupan hari kemarin dan belum menunjukkan pergerakan sama sekali. Para pedagang komoditas ini tampak mencerna perkembangan terbaru dari Timur Tengah yang muncul dari sepanjang akhir pekan hingga hari ini sebelum menentukan arah selanjutnya.

Tidak adanya pergerakan membuat indikator Relative Strength Index (RSI) datar di 58,95, bertahan di atas level netral 50 yang mengindikasikan momentumnya bullish. Simple Moving Average (SMA) 200-hari yang bergerak di bawah harga tetap setia menunjukkan bahwa tren jangka lebih panjang komoditas ini adalah naik, meskipun jarak antara keduanya semakin lama semakin dekat.

Pejabat Amerika Serikat (AS) dikutip Axios mengatakan bahwa AS dan Iran hampir menandatangani kesepakatan yang termasuk perpanjangan gencatan senjata 60 hari, Selat Hormuz dibuka kembali, Iran menyetujui membersihkan ranjau yang mereka tanam di jalur air tersebut, dan mengizinkan kapal melintas secara bebas.

Namun terkait nuklir, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, mengatakan, "Kami tidak menundanya sampai nanti. Perundingan nuklir adalah masalah yang sangat teknis. Anda tidak bisa menyelesaikan masalah nuklir dalam 72 jam di atas selembar keras."

Kabar seperti ini menekan harga komdoitas-komoditas seperti Minyak dan dan Gas Alam. Minyak West Texas Intermediate sempat tertekan ke 89,52 sebelumnya hari ini. Pembukaan kembali Selat Hormuz, jika memang terjadi, juga dapat memperbaiki distribusi Gas Alam sehingga mengurangi permintaan batu bara yang selama konflik digunakan untuk alternatif untuk pembangkit listrik, berisiko menekan harganya di masa depan.

Namun untuk saat ini, harga-harga komoditas tampak ditopang oleh komentar juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran yang mengatakan selama perdagangan sesi Eropa hari ini bahwa pengelolaan selat merupakan hak negara-negara pesisir.

Terkait energi di dalam negeri, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia (RI) merilis Harga Batu Bara Acuan (HBA) untuk periode kedua Mei 2026 dalam Kepmen ESDM No. 204.K/MB.01/MEM.B/2026. Semua harganya naik dibandingkan dengan sebelumnya dengan perincian sebagai berikut;

  • Batubara (6.322 GAR) $116,32 naik dari $106,57
  • Batubara I (5.300 GAR) $80,34 naik dari $79,56
  • Batubara II (4.100 GAR) $57,61 naik dari $55,66
  • Batubara III (3.400 GAR) $39,35 naik dari $38,76

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia (RI), Airlangga Hartarto, melaporkan kepada Presiden RI bahwa pertemuan dengan para asosiasi pengusaha mengenai sosialisasi Devisa Hasil Ekspor (DHE) dan sosialisasi ekspor komoditas-komoditas melalui BUMN (Badan Usaha Milik Negara) diklaim disambut baik dan bersedia bekerja sama, seperti diinformasikan dalam siaran pers Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.

Sejauh ini tidak ada perubahan jadwal, implementasi tahap satu dimulai pada 1 Juni 2026 untuk tiga komoditas pertama yaitu minyak mentah kelapa sawit, batu bara, dan paduan besi serta dilakukan bertahap dengan evaluasi dalam tiga bulan pertama. Komoditas-komoditas strategis apa saja yang akan menjadi objek dari kebijakan ini akan diatur dalam Peraturan Menteri Perdagangan.

Grafik Harian Batu Bara ICE Newcastle

Batu Bara ICE Newcastle
Grafik harian Batu Bara ICE Newcastle

Pertanyaan Umum Seputar Sentimen Risiko

Dalam dunia jargon keuangan, dua istilah yang umum digunakan, yaitu "risk-on" dan "risk off" merujuk pada tingkat risiko yang bersedia ditanggung investor selama periode yang dirujuk. Dalam pasar "risk-on", para investor optimis tentang masa depan dan lebih bersedia membeli aset-aset berisiko. Dalam pasar "risk-off", para investor mulai "bermain aman" karena mereka khawatir terhadap masa depan, dan karena itu membeli aset-aset yang kurang berisiko yang lebih pasti menghasilkan keuntungan, meskipun relatif kecil.

Biasanya, selama periode "risk-on", pasar saham akan naik, sebagian besar komoditas – kecuali Emas – juga akan naik nilainya, karena mereka diuntungkan oleh prospek pertumbuhan yang positif. Mata uang negara-negara yang merupakan pengekspor komoditas besar menguat karena meningkatnya permintaan, dan Mata Uang Kripto naik. Di pasar "risk-off", Obligasi naik – terutama Obligasi pemerintah utama – Emas bersinar, dan mata uang safe haven seperti Yen Jepang, Franc Swiss, dan Dolar AS semuanya diuntungkan.

Dolar Australia (AUD), Dolar Kanada (CAD), Dolar Selandia Baru (NZD) dan sejumlah mata uang asing minor seperti Rubel (RUB) dan Rand Afrika Selatan (ZAR), semuanya cenderung naik di pasar yang "berisiko". Hal ini karena ekonomi mata uang ini sangat bergantung pada ekspor komoditas untuk pertumbuhan, dan komoditas cenderung naik harganya selama periode berisiko. Hal ini karena para investor memprakirakan permintaan bahan baku yang lebih besar di masa mendatang karena meningkatnya aktivitas ekonomi.

Sejumlah mata uang utama yang cenderung naik selama periode "risk-off" adalah Dolar AS (USD), Yen Jepang (JPY) dan Franc Swiss (CHF). Dolar AS, karena merupakan mata uang cadangan dunia, dan karena pada masa krisis para investor membeli utang pemerintah AS, yang dianggap aman karena ekonomi terbesar di dunia tersebut tidak mungkin gagal bayar. Yen, karena meningkatnya permintaan obligasi pemerintah Jepang, karena sebagian besar dipegang oleh para investor domestik yang tidak mungkin menjualnya – bahkan saat dalam krisis. Franc Swiss, karena undang-undang perbankan Swiss yang ketat menawarkan perlindungan modal yang lebih baik bagi para investor.