Indeks Dolar AS turun tipis ke 100,93 pada Selasa setelah sehari sebelumnya mencapai level tertinggi sejak 15 Juli. Pasar terus mencermati perkembangan konflik yang melibatkan Iran bersamaan dengan laporan mengenai usulan gencatan senjata selama 10 hari yang dimediasi oleh pihak ketiga, menurut Reuters.
Faktor yang Mendukung Dolar AS
Komando Pusat Amerika Serikat melaporkan malam kesembilan berturut-turut operasi militer yang menargetkan pusat komando dan infrastruktur maritim Iran. Sementara itu, kelompok Houthi di Yaman mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi, sehingga meningkatkan kekhawatiran mengenai potensi gangguan pasokan.
Reaksi pasar terlihat di berbagai kelas aset:
- Harga minyak sempat diperdagangkan mendekati level tertinggi enam minggu sebelum kembali melemah.
- Imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun bertahan di sekitar 4,59%, sementara tenor 30 tahun tetap di atas 5%.
- USD/JPY diperdagangkan di sekitar 162,53 dengan imbal hasil Treasury yang tetap memberikan dukungan terhadap pasangan mata uang tersebut.
Pergerakan Mata Uang Regional
- USD/KRW turun 0,1% menjadi 1.474,05 seiring penguatan won Korea setelah kebijakan liberalisasi pasar valuta asing Korea Selatan.
- USD/CNY turun tipis ke 6,7660 setelah China mempertahankan suku bunga pinjaman acuannya.
- USD/NZD melemah 0,4% setelah inflasi kuartal kedua Selandia Baru naik menjadi 4,1% secara tahunan, sehingga meningkatkan ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga RBNZ pada September.
Agenda Penting Pekan Ini
Bank Indonesia dijadwalkan mengumumkan keputusan kebijakan moneternya pada Rabu. Ekspektasi pasar masih terbagi antara kemungkinan kenaikan suku bunga dan mempertahankan suku bunga saat ini.
Keputusan kebijakan ECB akan diumumkan pada Kamis, sementara pertemuan Bank of Japan dan Federal Reserve pekan depan akan menjadi fokus pasar untuk memperoleh petunjuk lebih lanjut mengenai prospek kebijakan moneter global.
