Dolar AS Melemah sementara Yen Menguat Berkat Rencana Dana Pensiun dan Data Inflasi

Dolar AS Melemah sementara Yen Menguat Berkat Rencana Dana Pensiun dan Data Inflasi

Indeks Dolar AS turun 0,1% pada hari Jumat dan mencatat penurunan mingguan kedua berturut-turut. Penguatan yen Jepang didorong oleh perkembangan kebijakan domestik serta data inflasi yang lebih kuat dari perkiraan.

Faktor penggerak pasar

Kebijakan dana pensiun: USD/JPY turun 0,6% menjadi 161,44 setelah Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama menyatakan bahwa pemerintah akan mendorong Government Pension Investment Fund (GPIF), dana pensiun terbesar di dunia, untuk meningkatkan alokasi investasi pada aset domestik. Pasar merespons dengan meningkatkan ekspektasi terhadap permintaan obligasi domestik, sehingga imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun turun 3,4%.

Data inflasi: Inflasi harga produsen Jepang pada Juni mencatat laju tercepat dalam lebih dari tiga tahun, terutama didorong oleh kenaikan biaya energi. Data tersebut memperkuat ekspektasi pasar mengenai arah kebijakan moneter Bank of Japan ke depan.

Prospek dolar AS

Risalah rapat Federal Reserve bulan Juni menunjukkan adanya perbedaan pandangan di antara para pembuat kebijakan mengenai arah suku bunga selanjutnya. Sementara itu, data ketenagakerjaan AS yang lebih lemah pada pekan lalu mengurangi ekspektasi pasar terhadap pengetatan kebijakan lebih lanjut. Di sisi lain, perkembangan terkait hubungan Amerika Serikat dan Iran membantu membatasi pelemahan dolar karena pasar terus menilai potensi dampaknya terhadap inflasi.

Mata uang regional

Sebagian besar mata uang regional menguat terhadap dolar AS. USD/CNY turun 0,2% didukung oleh data inflasi China yang lebih baik, USD/SGD melemah 0,1%, dan AUD/USD naik 0,3%. Sebaliknya, USD/KRW naik 0,3% karena volatilitas pasar saham Korea Selatan memberikan tekanan pada won, bertepatan dengan peluncuran perdagangan won-dolar AS selama 24 jam di negara tersebut.

Fokus pasar: Meskipun yen menguat pada perdagangan hari Jumat, mata uang tersebut masih berada di dekat level terendahnya dalam beberapa dekade terhadap dolar AS. Pelaku pasar kemungkinan akan terus memantau keputusan kebijakan Bank of Japan serta data ekonomi domestik untuk menilai apakah penguatan terbaru dapat berkembang menjadi tren yang lebih berkelanjutan.

Sumber: Investing.com