Badan Energi Internasional (IEA) dalam laporan bulanan terbarunya yang dirilis pada hari Jumat memproyeksikan bahwa permintaan minyak global akan turun sebesar 1 juta barel per hari tahun ini. Jika terealisasi, ini akan menjadi penurunan tahunan pertama sejak pandemi COVID-19 pada 2020. IEA menyebut gangguan terhadap produksi dan ekspor minyak di Timur Tengah setelah konflik Israel-Iran sebagai salah satu faktor utama.
Perkembangan pasar
Gangguan pasokan: Penutupan Selat Hormuz, jalur pelayaran yang mengangkut sekitar seperlima aliran minyak dunia, telah mengganggu ekspor minyak dari Teluk Persia. Menurut IEA, dampaknya terhadap permintaan berbeda-beda di setiap produk dan kawasan.
Skenario dasar: Proyeksi utama IEA mengasumsikan gencatan senjata tetap berlangsung dan Selat Hormuz secara bertahap kembali dibuka sehingga pasar dapat kembali mengalami surplus pada akhir tahun. Namun, prospek tersebut menjadi lebih tidak pasti setelah aksi militer terbaru antara Amerika Serikat dan Iran kembali memperlambat lalu lintas kapal tanker.
Faktor tambahan pada pasokan: IEA memangkas proyeksi produksi minyak Rusia sebesar 85.000 barel per hari untuk 2026 dan 150.000 barel per hari untuk 2027. Revisi tersebut mencerminkan dampak serangan drone yang berlanjut terhadap kilang dan fasilitas penyimpanan minyak Rusia. Produksi Rusia kini diperkirakan mencapai rata-rata 8,9 juta barel per hari pada 2026 dan 8,8 juta barel per hari pada 2027.
Minyak mentah Brent diperdagangkan di sekitar US$76,11 per barel pada hari Jumat, relatif stabil secara harian namun masih berada di jalur kenaikan mingguan karena pasar terus menilai prospek konflik yang tetap terkendali dibandingkan dengan risiko eskalasi geopolitik.
Fokus pasar: IEA menyatakan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz tetap penting untuk mendukung normalisasi kondisi pasar. Perkembangan terkait jalur pelayaran di kawasan Teluk, arus kapal tanker, serta hubungan antara Amerika Serikat dan Iran diperkirakan akan tetap menjadi beberapa faktor utama yang memengaruhi sentimen pasar minyak dan volatilitas harga Brent dalam waktu dekat.
Sumber: IEA Monthly Oil Market Report, Investing.com
