Ketegangan Timur Tengah yang meningkat dan perubahan sinyal diplomatik membuat pasar valuta asing tetap waspada sepanjang minggu ini. Serangan AS terhadap target di Iran dan tindakan balasan dari Iran meningkatkan premi risiko geopolitik. Pernyataan Presiden Trump mengenai berakhirnya nota kesepahaman bersama Iran semakin menambah ketidakpastian pasar.
Gangguan potensial di Selat Hormuz memicu kekhawatiran baru terkait pasokan energi global. Jepang sangat rentan terhadap risiko ini karena sebagian besar impor minyak mentahnya berasal dari Timur Tengah. Risiko energi tersebut, ditambah selisih suku bunga yang jauh lebih rendah di Jepang dibanding AS, membatasi penguatan signifikan Yen.
Berita positif bahwa Iran telah menjalin komunikasi meredakan tekanan pasar secara sementara, meskipun volatilitas tetap tinggi. Pasar terus berfluktuasi antara aliran dana aman dan pemulihan risiko, sehingga arah pergerakan harga dapat berubah dengan cepat.

Tinjauan USD/JPY: Pasangan mata uang ini diperdagangkan di sekitar 162,45, mendekati level tertinggi 40 tahun. Tren penguatan didukung oleh selisih suku bunga dan permintaan aset aman USD. Momentum masih berpihak pada kenaikan, namun indikator teknis sudah dalam kondisi jenuh beli.
Level teknis kunci — Support: 161,00–161,50. Penembusan ke bawah level ini berisiko membuka pelemahan menuju level psikologis 160,00. Resistance: 162,50–163,00; penembusan berkelanjutan di atas level ini akan membuka ruang kenaikan lebih lanjut.
Risiko: Peredaan ketegangan konflik dapat melemahkan USD. Sebaliknya, kebijakan bank sentral Jepang atau intervensi valuta berpotensi memicu penguatan Yen yang cepat dan menekan penurunan USD/JPY. Berita terkait aliran distribusi energi juga dapat memicu pergerakan pasar yang mendadak.
Ringkasan Trading: Bias pasar masih berpihak pada USD, namun posisi terbuka rentan terhadap perubahan arah yang tiba-tiba. Gunakan konfirmasi penembusan level dan penutupan harian. Terapkan stop-loss ketat dan pantau berita geopolitik serta kebijakan terkait secara berkala.
