Rand Afrika Selatan melemah 0,5% ke 16,3850 per dolar AS pada hari Rabu, level terendah dalam satu pekan, setelah meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran mengurangi selera risiko investor dan menekan mata uang pasar berkembang.
Kenaikan harga minyak juga meningkatkan kekhawatiran terhadap prospek inflasi Afrika Selatan. Sebagai negara pengimpor energi bersih, Afrika Selatan menghadapi biaya impor yang lebih tinggi ketika harga minyak naik, yang dapat mendorong tekanan inflasi domestik.
South African Reserve Bank (SARB) menaikkan suku bunga repo sebesar 25 basis poin menjadi 7% pada 28 Mei, kenaikan pertama dalam tiga tahun. Bank sentral menyebut risiko inflasi yang dipicu perkembangan di Timur Tengah sebagai salah satu pertimbangan utama. Inflasi tahunan Afrika Selatan kemudian naik menjadi 4,5% pada Mei, masih berada di atas titik tengah target inflasi SARB sebesar 3%.
Investor kini menantikan pertemuan kebijakan SARB berikutnya pada 23 Juli, sembari memantau sinyal dari Federal Reserve AS karena ekspektasi suku bunga global terus memengaruhi pergerakan mata uang pasar berkembang.
