Harga Minyak Turun ke US$76,24 tetapi Tetap Mencatat Kenaikan Mingguan yang Kuat di Tengah Perkembangan Timur Tengah

Harga Minyak Turun ke US$76,24 tetapi Tetap Mencatat Kenaikan Mingguan yang Kuat di Tengah Perkembangan Timur Tengah

Harga minyak bergerak lebih rendah pada awal perdagangan Asia hari Jumat, tetapi tetap berada di jalur kenaikan mingguan sekitar 6% untuk Brent dan 5% untuk WTI, yang merupakan kinerja mingguan terkuat dalam lebih dari satu bulan.

Pergerakan harga terbaru terjadi seiring munculnya upaya diplomatik baru, dengan Qatar dan Pakistan berupaya memfasilitasi pembicaraan antara Washington dan Teheran setelah rangkaian aksi militer yang terjadi sepanjang pekan.

Konflik meningkat setelah Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran sebagai tanggapan atas serangan terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz. Iran kemudian membalas dengan meluncurkan rudal dan drone yang menargetkan aset-aset Amerika Serikat di Bahrain, Kuwait, Qatar, dan Yordania.

Menurut Daniel Hynes, Senior Commodity Strategist ANZ Bank, tidak adanya serangan langsung terhadap infrastruktur energi Iran menjadi salah satu faktor yang membantu membatasi kenaikan harga minyak lebih lanjut. Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengatakan bahwa ia tidak memperkirakan konflik akan berkembang menjadi perang yang lebih luas.

Di sisi permintaan, data ekonomi China tetap menjadi perhatian pasar. Indeks Harga Produsen (PPI) naik 4,1% secara tahunan pada Juni, laju tercepat dalam empat tahun, sementara Indeks Harga Konsumen (CPI) meningkat 1,0%, lebih rendah dari ekspektasi pasar. Penjualan kendaraan juga turun untuk bulan kesembilan berturut-turut, yang menunjukkan permintaan bahan bakar di negara pengimpor minyak mentah terbesar di dunia masih menunjukkan tanda-tanda pelemahan.

Fokus pasar: Pelaku pasar kemungkinan akan terus memantau perkembangan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran, kondisi pelayaran di Selat Hormuz, serta data ekonomi dari negara-negara konsumen minyak utama karena faktor-faktor tersebut dapat terus memengaruhi sentimen di pasar minyak.

Sumber: Trading Economics; CNBC; ANZ Bank (melalui Al Jazeera); National Bureau of Statistics of China (9–10 Juli 2026)