Hanya dalam satu pekan, narasi harga komoditas telah berbalik arah.
Fed lebih hawkish. Ketegangan AS-Iran mereda. Hasilnya: emas kehilangan target 500 USD, minyak mentah meluncur tajam.
🔴 Emas: Imbal hasil riil "menggerogoti" emas

Goldman Sachs memangkas target akhir tahun dari 5.400 menjadi 4.900 USD per ons. Alasannya: Fed tidak akan memotong suku bunga hingga Juni 2027 – enam bulan lebih lambat dari perkiraan sebelumnya.
Morgan Stanley memperingatkan emas akan sulit mencapai target 5.200 USD di paruh kedua tahun jika arus ETF tidak kembali. UBS dan BofA juga serentak berhati-hati.
Pembelian bank sentral masih menjadi satu-satunya penyangga yang mencegah emas jatuh di bawah support teknis 4.075 USD per ons.
🟢 Minyak: Kehilangan premi geopolitik, tapi belum bisa runtuh

Kesepakatan AS-Iran telah menghapus premi risiko perang. Goldman Sachs menurunkan proyeksi Brent akhir tahun menjadi 80 USD per barel. Minyak WTI juga telah turun ke sekitar 75 USD.
Namun Deutsche Bank memperingatkan: inflasi jasa masih tinggi, Fed belum bisa melonggar hanya karena minyak lebih murah. Morgan Stanley memperkirakan WTI di 85-90 USD di kuartal III – tidak terlalu buruk.
📌 Poin kunci: Pekan ini, PCE Mei (Kamis) akan menjadi sinyal penting. Jika inflasi lebih panas dari perkiraan, emas akan semakin tertekan, sementara minyak akan menghadapi tekanan ganda dari Fed dan pasokan yang melimpah.
