Emas Bertahan di Dekat Level Tertinggi Dua Pekan Setelah Data Ketenagakerjaan AS yang Lemah Mengubah Ekspektasi Suku Bunga The Fed

Emas Bertahan di Dekat Level Tertinggi Dua Pekan Setelah Data Ketenagakerjaan AS yang Lemah Mengubah Ekspektasi Suku Bunga The Fed

Harga emas (XAU/USD) berada di jalur untuk mencatat kenaikan mingguan pertama dalam lima pekan, diperdagangkan sedikit di bawah US$4.200 menjelang sesi Eropa pada Jumat. Logam mulia tersebut juga membukukan kenaikan untuk hari ketiga berturut-turut seiring pelaku pasar mengurangi ekspektasi terhadap pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut oleh Federal Reserve (The Fed).

Menurut data Trading Economics, harga emas spot diperdagangkan di sekitar US$4.137 pada Jumat setelah melonjak lebih dari 2% pada sesi sebelumnya.

Apa yang Mendorong Pergerakan Harga?

Laporan Nonfarm Payrolls (NFP) Amerika Serikat yang dirilis pada Kamis menunjukkan hasil yang lebih lemah dari perkiraan pasar. Perekonomian AS hanya menambah 57.000 lapangan kerja pada Juni, lebih rendah dibandingkan konsensus pasar sekitar 110.000.

Sementara itu, data ketenagakerjaan bulan Mei direvisi turun dari 172.000 menjadi 129.000.

Tingkat pengangguran turun tipis menjadi 4,2%. Namun, penurunan tersebut terjadi bersamaan dengan berkurangnya partisipasi angkatan kerja, sehingga mengindikasikan bahwa perbaikan tersebut mungkin tidak sepenuhnya mencerminkan penguatan kondisi pasar tenaga kerja.

Setelah data dirilis, penetapan harga di pasar beralih ke ekspektasi jumlah kenaikan suku bunga The Fed yang lebih sedikit pada 2026, menurut CME FedWatch Tool. Perubahan ekspektasi tersebut memberikan tekanan pada dolar AS dan mendukung aset yang tidak memberikan imbal hasil, seperti emas.

Risiko Geopolitik Tetap Menjadi Fokus Pasar

Kenaikan harga emas masih dibatasi oleh ketidakpastian seputar negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran.

Menurut laporan The New York Times, sejumlah pejabat AS mengkhawatirkan kemungkinan Israel menargetkan negosiator senior Iran selama proses perundingan berlangsung. Skenario tersebut dinilai dapat mengganggu proses diplomatik dan meningkatkan kembali ketegangan di kawasan.

Secara terpisah, komando militer Iran memperingatkan bahwa setiap intervensi Amerika Serikat di Selat Hormuz akan memicu "respons yang cepat dan tegas."

Perkembangan tersebut dapat terus memengaruhi sentimen pasar, sehingga berpotensi mendukung permintaan terhadap aset safe haven sekaligus memengaruhi pergerakan dolar AS.

Level-Level Teknikal yang Perlu Diperhatikan

Harga emas telah bergerak di atas Simple Moving Average (SMA) 100 periode serta level Fibonacci retracement 23,6% dari penurunan April–Juni, yang dapat mendukung prospek teknikal yang konstruktif dalam jangka pendek.

Sementara itu, Relative Strength Index (RSI) berada di sekitar 68, mendekati wilayah overbought, yang umumnya diinterpretasikan sebagai sinyal bahwa momentum kenaikan dapat mulai melambat.

Level Resistensi

  1. US$4.301 – Fibonacci retracement 38,2%
  2. US$4.412
  3. US$4.522

Level Support

  1. US$4.165
  2. US$4.143 – SMA 100 periode

Apabila harga bergerak turun dan bertahan di bawah area support tersebut, kondisi itu dapat meningkatkan kemungkinan pengujian kembali area US$3.944.

Mengapa Hal Ini Penting bagi Trader di Asia Tenggara

Karena pasar keuangan Amerika Serikat tutup pada Jumat dalam rangka libur Independence Day, volume perdagangan mungkin lebih rendah dari biasanya, sehingga berpotensi meningkatkan volatilitas pergerakan harga dalam intraday.

Pelaku pasar di kawasan dapat memantau pergerakan harga dalam kisaran teknikal saat ini, sekaligus mengikuti perkembangan terbaru terkait Selat Hormuz, karena dinamika geopolitik di kawasan tersebut dapat tetap menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi sentimen pasar pada pekan mendatang.

Analisis teknikal serta data harga mengacu pada Trading Economics dan CME FedWatch Tool. Konten ini disediakan hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi.