- Emas anjlok saat imbal hasil Treasury 10 tahun melonjak di atas 5,1%.
- Peluang kenaikan The Fed pada Oktober melonjak ke 70% setelah pernyataan hawkish.
- PMI AS yang melonjak kuat memperkuat Dolar dan memperdalam aksi jual logam mulia.
Emas anjlok lebih dari 1,5% pada sesi Amerika Utara hari Rabu setelah investor semakin yakin bahwa Federal Reserve (The Fed) akan menaikkan suku bunga pada pertemuan Oktober. Keyakinan tersebut menguat menyusul pernyataan hawkish dari sejumlah pejabat The Fed. XAU/USD diperdagangkan di US$4.285 setelah sempat mencapai level tertinggi US$4.369.
XAU/USD Merosot setelah PMI yang Kuat Memperbesar Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga pada Oktober
Perkembangan di Timur Tengah sempat mendorong harga minyak AS mendekati US$90 pada awal pekan. Namun, kabar terbaru mengenai kemungkinan larangan ekspor solar AS mengubah arah pergerakan harga minyak mentah pada hari Rabu, setelah West Texas Intermediate (WTI) menguat lebih dari 1,5% ke US$91,42 per barel.
Menurut sumber Politico, pemerintahan Trump tengah menyiapkan rencana pelarangan ekspor solar selama 90 hari untuk menekan harga energi. Setelah kabar tersebut muncul, harga minyak mentah berjangka berbalik turun, sementara Dolar AS tetap mendapat dukungan.
Indeks Dolar AS (DXY), yang mengukur kinerja mata uang AS terhadap enam mata uang utama lainnya, naik 0,7% ke 101,22, sehingga menambah tekanan pada harga Emas.
Terkait konflik AS–Iran, harapan akan meredanya ketegangan meningkat setelah Reuters melaporkan bahwa seorang pejabat senior Iran mengatakan Teheran tengah mengkaji tanggapan AS terhadap usulan Iran untuk mengakhiri permusuhan.
Pada hari Rabu pekan lalu, Federal Reserve menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin untuk mengurangi tingkat akomodasi kebijakan moneter, sebagaimana disampaikan Ketua The Fed Warsh. Selain itu, proyeksi suku bunga atau dot plot menunjukkan bahwa mayoritas pejabat memprakirakan satu kenaikan suku bunga lagi menjelang akhir tahun.
Setelah pertemuan tersebut, sebagian besar pejabat The Fed menyampaikan pandangan mereka mengenai pertemuan 15–16 September beserta alasan di balik keputusan masing-masing. Mayoritas menilai bahwa inflasi masih terlalu tinggi dan telah bertahan di atas target 2% The Fed selama terlalu lama.
Pekan ini diawali dengan pernyataan Presiden The Fed Minneapolis Neel Kashkari bahwa inflasi masih terlalu tinggi di seluruh sektor perekonomian AS. Presiden The Fed St. Louis Alberto Musalem mengatakan bahwa kenaikan suku bunga lebih lanjut kemungkinan diperlukan untuk mengendalikan inflasi, sementara Presiden The Fed Chicago Austan Goolsbee menilai bahwa kuatnya permintaan dapat turut menambah tekanan inflasi.
Pada hari Selasa, Presiden The Fed Boston Susan Collins menyampaikan pandangan serupa dengan memperingatkan tingginya risiko inflasi dan mendukung kenaikan suku bunga. Setelah itu, Presiden The Fed Richmond Thomas Barkin mengatakan bahwa dampak guncangan inflasi dapat berlangsung cukup lama, sementara Gubernur The Fed Michael Barr menilai bahwa kenaikan suku bunga lebih lanjut kemungkinan masih diperlukan.
Dengan sikap para pejabat The Fed yang relatif sejalan tersebut, pasar uang kini memprakirakan suku bunga AS akan bergerak lebih tinggi. Menurut Prime Terminal, peluang kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan Oktober meningkat menjadi 66%, dibandingkan 52% pada hari sebelumnya.

Akibatnya, imbal hasil Treasury AS bertenor 10 tahun melonjak 15 basis poin menjadi 5,12%.
S&P Global mengumumkan bahwa PMI Manufaktur Awal AS untuk September mencapai 57,0, jauh melampaui ekspektasi sebesar 53,5 dan lebih tinggi dibandingkan 53,9 pada bulan sebelumnya. Sementara itu, PMI Jasa naik dari 56,5 menjadi 58,7, melampaui prakiraan, sedangkan PMI Gabungan meningkat dari 56,0 menjadi 58,4.
Selanjutnya, kalender ekonomi AS akan menghadirkan pidato pejabat The Fed Beth Hammack dan Anna Paulson, serta rilis data klaim tunjangan pengangguran.
Prospek Teknis XAU/USD: Emas Merosot Lebih Rendah di Dalam ‘Bullish-Wedge’
Emas gagal menembus batas atas pola bullish wedge dan turun ke bawah area pertemuan Simple Moving Average (SMA) 100 hari dan 50 hari, masing-masing di US$4.313 dan US$4.306, sehingga melanjutkan penurunannya hingga di bawah US$4.300.
Momentum yang tercermin dari Relative Strength Index (RSI) menunjukkan kecenderungan bearish setelah turun di bawah level netral 50 dan terus bergerak lebih rendah, mengindikasikan meningkatnya tekanan jual. Meski demikian, struktur pasar Emas masih cenderung bullish. Namun, perbedaan sinyal antara pergerakan harga dan sentimen pasar menunjukkan bahwa konfirmasi lebih lanjut diperlukan sebelum menentukan arah pergerakan berikutnya.
Untuk melanjutkan penurunan, Emas harus menembus level terendah 16 September di US$4.235. Jika level tersebut berhasil ditembus, target berikutnya berada di US$4.202, yang merupakan level tertinggi 6 Juli dan kini beralih menjadi support, disusul level terendah 29 Juli di US$3.996.
Di sisi atas, XAU/USD berpotensi menembus garis tren batas atas pola bullish wedge di sekitar US$4.365–US$4.370 sebelum menguji US$4.400. Resistance berikutnya berada di US$4.500, disusul SMA 200 hari di US$4.541.

Pertanyaan Umum Seputar Emas
Emas telah memainkan peran penting dalam sejarah manusia karena telah banyak digunakan sebagai penyimpan nilai dan alat tukar. Saat ini, selain kilaunya dan kegunaannya sebagai perhiasan, logam mulia tersebut secara luas dipandang sebagai aset safe haven, yang berarti bahwa emas dianggap sebagai investasi yang baik selama masa-masa sulit. Emas juga secara luas dipandang sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan terhadap mata uang yang terdepresiasi karena tidak bergantung pada penerbit atau pemerintah tertentu.
Bank-bank sentral merupakan pemegang Emas terbesar. Dalam upaya mereka untuk mendukung mata uang mereka di masa sulit, bank sentral cenderung mendiversifikasi cadangan mereka dan membeli Emas untuk meningkatkan kekuatan ekonomi dan mata uang yang dirasakan. Cadangan Emas yang tinggi dapat menjadi sumber kepercayaan bagi solvabilitas suatu negara. Bank sentral menambahkan 1.136 ton Emas senilai sekitar $70 miliar ke cadangan mereka pada tahun 2022, menurut data dari World Gold Council. Ini merupakan pembelian tahunan tertinggi sejak pencatatan dimulai. Bank sentral dari negara-negara berkembang seperti Tiongkok, India, dan Turki dengan cepat meningkatkan cadangan Emasnya.
Emas memiliki korelasi terbalik dengan Dolar AS dan Obligasi Pemerintah AS, yang keduanya merupakan aset cadangan utama dan aset safe haven. Ketika Dolar terdepresiasi, Emas cenderung naik, yang memungkinkan para investor dan bank sentral untuk mendiversifikasi aset-aset mereka di masa sulit. Emas juga berkorelasi terbalik dengan aset-aset berisiko. Rally di pasar saham cenderung melemahkan harga Emas, sementara aksi jual di pasar yang lebih berisiko cenderung menguntungkan logam mulia ini.
Harga dapat bergerak karena berbagai faktor. Ketidakstabilan geopolitik atau ketakutan akan resesi yang parah dapat dengan cepat membuat harga Emas meningkat karena statusnya sebagai aset safe haven. Sebagai aset tanpa imbal hasil, Emas cenderung naik dengan suku bunga yang lebih rendah, sementara biaya uang yang lebih tinggi biasanya membebani logam kuning tersebut. Namun, sebagian besar pergerakan bergantung pada perilaku Dolar AS (USD) karena aset tersebut dihargakan dalam dolar (XAU/USD). Dolar yang kuat cenderung menjaga harga Emas tetap terkendali, sedangkan Dolar yang lebih lemah cenderung mendorong harga Emas naik.
