Indeks Dolar AS (DXY) turun ke sekitar level 99,50 pada sesi perdagangan Asia hari Rabu, melanjutkan pelemahannya karena meredanya ketegangan di Timur Tengah mengalihkan perhatian pasar dari keputusan kebijakan moneter Federal Reserve yang sangat dinantikan dan dijadwalkan diumumkan pada hari yang sama.
Kesepakatan Iran Menambah Tekanan terhadap Dolar AS
Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan pada hari Selasa bahwa Presiden Donald Trump kemungkinan akan merilis kesepakatan pendahuluan untuk mengakhiri konflik dengan Iran sebelum penandatanganan resmi pada hari Jumat, setelah Trump menyatakan bahwa kesepakatan tersebut pada dasarnya telah tercapai. Kementerian Luar Negeri Swiss juga mengonfirmasi bahwa perjanjian akan ditandatangani di resor Burgenstock pada hari Jumat, sementara Trump menambahkan bahwa Selat Hormuz akan kembali dibuka sebelum waktu tersebut.
Menurut US Energy Information Administration (EIA), sekitar seperlima pengiriman minyak dunia melewati Selat Hormuz. Bagi negara-negara Asia Tenggara yang merupakan pengimpor bersih minyak, seperti Thailand, Filipina, dan Indonesia, terbukanya kembali jalur pelayaran tersebut membantu mengurangi risiko inflasi energi impor dalam jangka pendek—faktor yang terus dipantau oleh bank sentral dan pelaku pasar valuta asing di kawasan, bersamaan dengan pergerakan Dolar AS.
Keputusan The Fed: Ujian Penting Pertama bagi Ketua Kevin Warsh
The Fed secara luas diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 3,50%–3,75%, sehingga para pembuat kebijakan memiliki waktu untuk mengevaluasi dampak lonjakan harga energi akibat konflik terhadap inflasi. Pertemuan kali ini menjadi salah satu ujian besar pertama bagi Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh. Nada yang disampaikan Warsh dalam konferensi pers setelah keputusan diperkirakan akan lebih berpengaruh terhadap pasar dibandingkan keputusan untuk mempertahankan suku bunga itu sendiri. Pernyataan yang bernada hawkish mengenai risiko inflasi dapat memberikan dukungan jangka pendek bagi Dolar AS meskipun tekanan geopolitik masih membebani mata uang tersebut.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperkirakan sekitar 64% peluang perubahan suku bunga pada bulan Desember, turun dari 69% sepekan sebelumnya. Penurunan tersebut mencerminkan berkurangnya permintaan terhadap Dolar AS sebagai aset safe haven seiring meningkatnya optimisme terhadap tercapainya kesepakatan damai dengan Iran.
Mengapa Ini Penting bagi Trader Asia Tenggara?
DXY yang lebih lemah umumnya mengurangi tekanan terhadap mata uang regional seperti baht Thailand, rupiah Indonesia, dan ringgit Malaysia, yang sering bergerak berlawanan arah dengan kekuatan Dolar AS. Dikombinasikan dengan menurunnya risiko kenaikan harga minyak dalam jangka pendek, kondisi ini dapat memberikan sedikit perbaikan pada neraca perdagangan negara-negara ASEAN yang bergantung pada impor. Hubungan ini layak diperhatikan oleh trader forex regional maupun pelaku pasar yang memperdagangkan pasangan mata uang berbasis komoditas dalam beberapa sesi mendatang.
Analisis Teknis dan Prospek
DXY masih tertahan di bawah level psikologis penting 100,00, yang berulang kali berfungsi sebagai area resistensi sepanjang tahun ini. Jika The Fed mempertahankan suku bunga disertai panduan yang netral atau dovish, indeks berpeluang kembali menguji level terendah tahun 2026. Sebaliknya, apabila Warsh menyampaikan pernyataan yang lebih hawkish dari perkiraan pasar, DXY dapat mengalami rebound jangka pendek menuju level 100,00. Para trader sebaiknya lebih memfokuskan perhatian pada konferensi pers Warsh dibandingkan keputusan suku bunga itu sendiri karena itulah yang berpotensi menjadi katalis utama pergerakan pasar.
Yang Perlu Diperhatikan
Fokus pasar selanjutnya meliputi bahasa dalam pernyataan resmi The Fed mengenai inflasi dan kondisi pasar tenaga kerja, nada konferensi pers Kevin Warsh, penandatanganan resmi kesepakatan Iran pada hari Jumat, serta pergerakan harga minyak mentah setelah aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz kembali normal.
Pernyataan Risiko: Perdagangan valuta asing dan CFD mengandung risiko yang tinggi dan mungkin tidak sesuai untuk semua investor. Kinerja historis maupun proyeksi yang disebutkan dalam artikel ini bukan merupakan jaminan atas hasil di masa mendatang. Data yang digunakan bersumber dari CME Group dan US Energy Information Administration (EIA) pada saat publikasi.
