Aksi jual terbaru ini terbilang tidak biasa, karena beberapa faktor yang biasanya menekan emas justru sedang mereda. Dolar sudah melemah dan imbal hasil Treasury sudah turun, namun emas tetap kesulitan menemukan dukungan.
"Pergerakannya sangat tidak normal," kata analis logam mulia independen Jesse Colombo, menunjuk pada divergensi tidak biasa antara emas, dolar, dan imbal hasil obligasi.
Salah satu penjelasannya adalah aksi jual di saham AI dan teknologi merembet ke pasar lain. Saat kerugian ekuitas semakin dalam, investor mungkin menjual aset likuid seperti emas untuk mengumpulkan uang tunai atau memenuhi persyaratan margin.
Justin Lin, analis di Global X ETFs, menyebut pergerakan ini sebagai "aksi jual yang didorong likuiditas," dan mencatat bahwa emas bisa menjadi sumber uang tunai saat pasar turun tajam.
Itu membantu menjelaskan mengapa emas jatuh bahkan ketika imbal hasil turun — investor mungkin tidak menjual karena prospek emas tiba-tiba berubah, tetapi karena mereka membutuhkan likuiditas di tempat lain.

