- Perak tetap berada di bawah tekanan karena ketegangan Timur Tengah yang kembali meningkat mendukung Dolar AS dan ekspektasi hawkish The Fed.
- Harga Minyak yang tinggi memicu kekhawatiran terhadap inflasi, dengan pasar memprakirakan hampir 40% kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed pada bulan Desember.
- Dari sisi teknis, XAG/USD mempertahankan bias bearish konsolidatif sambil bertahan di bawah SMA 100 hari.
Perak (XAG/USD) melemah pada hari Selasa, tertekan oleh penguatan Dolar AS (USD) dan ekspektasi hawkish Federal Reserve (The Fed) di tengah ketegangan yang sedang berlangsung di Timur Tengah. Pada saat berita ini ditulis, XAG/USD diperdagangkan di sekitar $76,43, turun hampir 2,0% dalam sehari.
Sentimen pasar menjadi hati-hati setelah serangan militer AS terbaru di selatan Iran pada hari Senin mengurangi harapan bahwa konflik di Timur Tengah akan segera berakhir. Meskipun pembicaraan diplomatik antara Washington dan Tehran masih berlangsung, ketidakpastian yang tersisa seputar negosiasi terus membuat Dolar AS tetap didukung kuat.
Indeks Dolar AS (DXY), yang melacak nilai Greenback terhadap enam mata uang utama, diperdagangkan di sekitar 99,15 setelah sempat turun di bawah level 99,00 pada hari Senin.
Sementara itu, harga Minyak yang tinggi terus memicu kekhawatiran terhadap inflasi secara global, memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) mungkin akan mempertahankan suku bunga lebih tinggi lebih lama. Menurut Alat FedWatch CME, para pedagang saat ini memprakirakan hampir 40% kemungkinan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin (bp) pada pertemuan bulan Desember.
Ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi cenderung membebani aset yang tidak berimbal hasil seperti Perak, sementara prospek teknis juga menunjukkan bias bearish konsolidatif.
Analisis Teknis:

Pada grafik harian, XAG/USD memegang bias netral jangka pendek, diperdagangkan di atas Simple Moving Average (SMA) 50 hari dan 200 hari masing-masing di $75,87 dan $66,37, namun masih di bawah SMA 100 hari di $81,42, yang membatasi upaya pemulihan untuk saat ini.
Relative Strength Index (RSI) di 48,11 berada di dekat garis tengah, mengindikasikan kurangnya keyakinan arah yang kuat, sementara Moving Average Convergence Divergence (MACD) tetap sedikit negatif, menunjukkan momentum bullish yang memudar setelah pullback baru-baru ini.
Di sisi atas, resistance awal berada di SMA 100 hari di sekitar $81,42, dengan penghalang yang lebih kuat di level horizontal dekat $90,00. Di sisi bawah, support terdekat muncul di SMA 50 hari di $75,87. Penembusan jelas ke bawah akan membuka SMA 200 hari di dekat $66,37, sebelum support horizontal yang lebih jauh di $55,00.
(Analisis teknis dari berita ini ditulis dengan bantuan alat AI.)
Pertanyaan Umum Seputar Perak
Perak adalah logam mulia yang banyak diperdagangkan di kalangan investor. Secara historis, perak telah digunakan sebagai penyimpan nilai dan alat tukar. Meskipun kurang populer dibandingkan Emas, investor dapat beralih ke Perak untuk mendiversifikasi portofolio investasi mereka, untuk nilai intrinsiknya atau sebagai lindung nilai potensial selama periode inflasi tinggi. Para investor dapat membeli Perak fisik, dalam bentuk koin-koin atau batangan, atau memperdagangkannya melalui sarana seperti Dana yang Diperdagangkan di Bursa, yang melacak harganya di pasar internasional.
Harga Perak dapat bergerak karena berbagai faktor. Ketidakstabilan geopolitik atau ketakutan akan resesi yang dalam dapat membuat harga Perak meningkat karena statusnya sebagai tempat berlindung yang aman, meskipun pada tingkat yang lebih rendah daripada Emas. Sebagai aset tanpa imbal hasil, Perak cenderung naik dengan suku bunga yang lebih rendah. Pergerakannya juga bergantung pada bagaimana Dolar AS (USD) berperilaku karena aset tersebut dihargai dalam dolar (XAG/USD). Dolar yang kuat cenderung menjaga harga Perak tetap stabil, sedangkan Dolar yang lemah cenderung mendorong harga naik. Faktor lain seperti permintaan investasi, pasokan pertambangan – Perak jauh lebih melimpah daripada Emas – dan tingkat daur ulang juga dapat memengaruhi harga.
Perak banyak digunakan dalam industri, khususnya di sektor-sektor seperti elektronik atau energi surya, karena memiliki salah satu konduktivitas listrik tertinggi dari semua logam – lebih dari Tembaga dan Emas. Lonjakan permintaan dapat meningkatkan harga, sementara penurunan cenderung menurunkannya. Dinamika ekonomi AS, Tiongkok, dan India juga dapat berkontribusi pada perubahan harga: bagi AS dan khususnya Tiongkok, sektor industri besar mereka menggunakan Perak dalam berbagai proses; di India, permintaan konsumen terhadap logam mulia ini yang digunakan dalam perhiasan juga memainkan peran penting dalam menentukan harga.
Harga Perak cenderung mengikuti pergerakan Emas. Ketika harga Emas naik, Perak biasanya mengikutinya, karena statusnya sebagai aset-aset safe haven serupa. Rasio Emas/Perak, yang menunjukkan jumlah ons Perak yang dibutuhkan untuk menyamakan nilai satu ons Emas, dapat membantu menentukan valuasi relatif antara kedua logam tersebut. Beberapa investor mungkin menganggap rasio yang tinggi sebagai indikator bahwa Perak dinilai terlalu rendah, atau Emas dinilai terlalu tinggi. Sebaliknya, rasio yang rendah mungkin menunjukkan bahwa Emas dinilai terlalu rendah relatif terhadap Perak.
